Tuesday, 21 August 2018

Tari Foti Lalendo Tarian Tradisional Dari Rote Ndao, NTT

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian ini merupakan tarian selamat datang atau tarian penyambutan yang khas dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Tari Foti Lalendo.

Apakah Tari Foti Lalendo itu?

Tari Foti Lalendo adalah salah satu tarian tradisional dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini biasanya ditampilkan oleh para penari wanita berbusana cantik dan menggunakan kain selimut sebagai atribut menarinya. Dalam tarian ini biasanya juga terdapat penari pria yang menari dengan gerakan Tari Foti yang khas dan unik. Tari Foti Lalendo merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal  di Rote Ndao, dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, pernikahan dan lain-lain.

Asal Mula Tari Foti Lalendo

Tari Foti Lalendo ini merupakan tarian tradisional yang berasal dari pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Tarian ini dulunya digunakan untuk menyambut kedatangan para prajurit yang pulang dari medan perang. Selain itu Tari Foti Lalendo juga digunakan untuk menyambut tamu penting atau tamu kehormatan yang datang ke sana. Di masa sekarang ini, Tari Foti Lalendo memiliki fungsi yang lebih banyak lagi. Tarian ini juga sering ditampilkan untuk memeriahkan berbagai acara seperti pernikahan, pertunjukan seni dan lain-lain.

Fungsi Tari Foti Lalendo

Tarian foti lalendo ini biasanya ditampilkan sebagai tarian selamat datang atau penyambutan di berbagai acara. Tarian ini menggambarkan rasa suka cita dan gembira dalam menyambut kedatangan tamu yang diiringinya. Hal tersebut bisa dilihat dari gerakan dan ekspresi dari para penari wanita saat mengiringi kedatangan tamu atau pengantin. Selain sebagai tarian penyambutan tarian ini juga menjadi suatu tontonan yang menghibur. Gerakan penari pria saat menarikan Tari Foti yang khas dan atraktif kadang sering menampilkan gerakan yang lucu sehingga dapat memeriahkan suasana.

Pertunjukan Tari Foti Lalendo

Tari Foti Lalendo ini biasanya dimainkan oleh 4-6 penari wanita dan satu orang penari pria. Dalam pertunjukannya, diawali dengan penari wanita yang menari dengan gerakan yang lincah dan khas sambil memainkan kain selimut yang digunakan untuk menari. Sampai di tengah pertunjukan penari pria muncul ke dalam arena sambil menari dengan gerakannya yang khas diiringi para penari wanita.

Dalam Tari Foti Lalendo ini gerakan penari wanita dan pria berbeda. Gerakan penari wanita lebih didominasi dengan gerakan kaki yang menghentak dan gerakan tangan memainkan kain selimut yang digunakan untuk menari. Dengan mengikuti irama musik pengiring penari wanita menari dengan gerakan yang lincah namun terlihat anggun.

Sedangkan gerakan penari pria sering disebut dengan gerakan foti. Dalam gerakan foti ini didominasi dengan gerakan kaki yang sangat cepat menyesuaikan dengan irama musik pengiring serta gerakan satu tangan memegang topi, dan tangan satunya mengibas-ngibaskan kain selampang yang dikenakannya. Gerakan foti ini sangat unik, karena hampir seruh badan penari terlihat seperti bergetar seperti layaknya orang kesurupan. Namun itulah ciri khas gerak Tari Foti, yang hanya bisa dilakukan orang-orang terlatih.

Pengiring Tari Foti Lalendo

Dalam pertunjukan Tari Foti Lalendo biasanya diiringi oleh musik tradisional seperti gong dan gendang khas Rote Ndao. Irama yang dimainkan biasanya merupakan irama yang bertempo sedang. Para penari biasanya juga dilengkapi dengan gelang giring-giringdi kaki mereka, sehingga saat kaki dihentakan akan terdengar suara gemrincing. Perpaduan suara giring-giring dan musik pengiring ini menghasilkan suara yang khas dan sangat menyatu dengan gerakan tarinya.

Kostum Tari Foti Lalendo

Dalam pertunjukan Tari Foti Lalendo biasanya para penari menggunakan busana tradisional Rote Ndao. Para penari wanita biasanya menggunakan kain sarung yang diikat dari atas dada sampai mata kaki. Pada bagian kepala, rambut penari dikonde dan memakai ikat kepala berbentuk bulan sabit yang sering disebut bula molik. Penari juga dilengkapi seperti pendi, habas dan tidak lupa kain selimut yang digunakan untuk menari.

Sedangkan para penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang, sarung, dan selampang. Penari pria juga menggunakan topi khas Rote Ndao yang sering disebut dengan Ti’i Langga. Untuk aksesoris biasanya menggunakan habas. Dalam tarian ini, setiap penari baik penari wanita maupun laki-laki menggunakan gelang giring-giring di kaki mereka.

Perkembangan Tari Foti Lalendo

Dalam perkembangannya, Tari Foti Lalendo masih terus dilestarikan oleh masyarakat Rote Ndao. Tarian ini masih sering ditampilkan untuk memeriahkan acara seperti penyambutan tamu penting, pernikahan dan acara adat lainnya. Berbagai variasi dan kreasi juga sering ditambahkan di setiap penampilannya agar lebih menarik, namun tidak meninggalkan keasliannya. Tari Foti Lalendo ini juga sering ditampilkan di acara seperti pertunjukan seni dan festival budaya. Hal ini dilakukan untuk melestarikan dan memperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat luas akan Tari Foti Lalendo ini.







Patut Kamu Baca:

Tari Kebalai Tarian Tradisional Dari Rote Ndao, NTT

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian satu ini merupakan salah satu tarian yang bersifat pergaulan atau hiburan yang khas dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Tari Kebalai.

Apakah Tari Kebalai itu?

Tari Kebalai adalah salah satu tarian tradisional dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini tergolong tarian bersifat pergaulan atau hiburan yang biasanya dilakukan secara masal oleh masyarakat di sana. Tari Kebalai merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Rote Ndao dan sudah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di sana.

Asal Mula Tari Kebalai

Tari Kebalai merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Pada zaman dahulu, tarian ini sering dilakukan setelah acara pemakaman adat. Setelah upacara pemakaman selesai, para keluarga, kerabat, maupun para tamu yang datang berkumpul dan melakukan tarian ini. Tari Kebalai ini dilakukan dengan tujuan untuk menghibur keluarga yang sedang berduka, sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak terlarut dalam duka yang mendalam.

Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini tidak hanya dilakukan pada saat acara pemakaman saja, namun juga sering ditampilkan di berbagai acara yang bersifat hiburan seperti acara adat, penyambutan, perayaan serta pertunjukan seni  budaya.

Fungsi Dan Makna Tari Kebalai

Selain berfungsi sebagai hiburan, tarian ini juga dimaknai sebagai dukungan untuk keluarga yang berduka agar tetap tabah dan bangkit dari rasa duka. Nilai-nilai kebersamaan dan persatuan sangat terasa dalam tarian ini, dimana mereka berkumpul untuk menyatukan rasa dan saling mendukung saat salah satu dari mereka sedang berduka. Selain itu tarian ini juga dijadikan sebagai media untuk mempererat hubungan sosial yang terjalin diantara mereka.

Pertunjukan Tari Kebalai

Tari Kebalai ini biasanya dilakukan secara masal dan diikuti oleh masyarakat baik pria atau wanita, tua atau muda, mereka berkumpul menjadi satu dan ikut menarikan tarian ini. Dalam tarian ini para penari membuat satu lingkaran dengan saling berpegangan dan menari sesuai dengan irama syair yang dilantunkan oleh pelantun syair (manahelodan manasimba). Gerakan dalam Tari Kebalai biasanya lebih didominasi oleh gerakan kaki yang bergerak maju mundur serta gerakan melangkah kekanan. Gerakan tersebut dilakukan dengan kompak dan disesuaikan dengan irama syair yang dilantunkan.

Pengiring Tari Kebalai

Dalam pertunjukan Tari Kebalai biasanya tanpa diiringi musik, namun hanya di iringi oleh syair-syair yang dilantunkan oleh si pelantun syair sering disebut manahelo dan manasimba. Syair yang dibawakan oleh pelantun syair biasanya merupakan syair-syair adat. Selain menjadi pelantun syair mereka ini juga memimpin tarian.

Kostum Tari Kebalai

Dalam pertunjukan Tari Kebalai biasanya para penari menggunakan pakaian adat khas Rote Ndao. Untuk penari laki-laki biasanya menggunakan busana seperti selimut selampang, selimut hafa,dan habas. Selain itu penari pria juga menggunakan topi khas Rote Ndao yang disebut dengan Ti’i langga. Sedangkan untuk penari perempuan biasanya menggunakan busana seperti kain sarung, selampang, pendi, dan habas. Selain itu juga menggunakan Bula Molik yang dipakai di kepala.

Perkembangan Tari Kebalai

Dalam perkembangannya, tarian kebalai tidak hanya dilakukan saat upacara pemakaman adat saja, namun juga sering dilakukan di berbagai acara yang bersifat hiburan seperti acara adat, penyambutan, dan perayaan. Selain itu tarian ini juga sering dipertunjukan di berbagai acara seperti pertunjukan seni dan festival budaya. Tari Kebalai ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Rote Ndao. Hal ini tentu merupakan salah satu cara masyarakat Rote Ndao dalam melestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas akan tradisi dan budaya mereka.






Patut Kamu Baca:

Monday, 20 August 2018

Sasando Alat Musik Tradisional Dari Rote Ndao, NTT

View Article
Cintaindonesia.web.id - Alat musik satu ini merupakan jenis alat musik berdawai tradisional yang khas dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Sasando.

Apakah Sasando itu?

Sasando adalah salah satu alat musik tradisional dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando ini merupakan alat musik berdawai tanpa mempunyai cord dan dimainkan dengan cara dipetik dengan menggunakan jari. Alat musik satu ini hampir sama dengan alat musik tradisional seperti Kecapi atau Harpa, namun memiliki bentuk dan suara yang sangat khas. Sasando merupakan salah satu alat musik yang sangat terkenal, tidak hanya di Indonesia saja, namun juga sampai luar negeri.

Sejarah Sasando

Sasando merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). ada beberapa versi cerita yang mengisahkan tentang awal mula Sasando ini. Salah satu cerita yang banyak berkembang di masyarakat adalah kisah Sangguanayang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta kepada putrinya, sang Raja pun memberikan syarat untuk menerima Sangguana. Sangguana diminta untuk membuat alat musik yang berbeda dengan alat musik lainnya.

Pada suatu ketika, Sangguana pun bermimpi. Dalam mimpi tersebut dia memainkan alat musik yang berbentuk indah dan memiliki suara yang merdu. Dari situlah Sangguana membuat alat musik yang disebut dengan Sasando dan diberikan kepada sang Raja. Raja pun kagum dengan alat musik yang dibuat oleh Sangguana, dan kemudian Raja menikahkan putrinya dengan Sangguana.

Secara harfiah nama Sasando berasal dari bahasa Rote, yaitu “Sasandu” yang berarti “bergetar atau berbunyi”. Sasando ini sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian, syair,tarian tradisional dan menghibur keluarga yang berduka. Pada saat ini, Sasando tidak hanya terkenal dan terdapat di daerah Pulau Rote saja, namun juga terdapat di daerah lain di Nusa Tenggara Timur seperti Kupang dan daerah lainnya.

Fungsi Dan Makna Sasando

Sasando ini merupakan salah satu alat musik yang memiliki suara bervariasi, sehingga dapat dimainkan dalam genre yang bervariasi seperti musik tradisional, pop, dan genre musik lainnya yang bukan musik elektrik. Dalam masyarakat Rote sendiri, Sasando sering dimainkan untuk mengiringi tarian, lagu, syair dan acara hiburan lainnya.

Bentuk Sasando

Sasando ini memiliki bentuk yang sangat unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya. Pada bagian utama Sasando ini berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai. Pada bagian tengah  bambu biasanya diberi senda (penyangga) dimana dawai direntangkan. Senda ini digunakan untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda di setiap petikan dawai. Sedangkan wadah untuk resonansi berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.

Cara Memainkan Sasando

Walaupun merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik, namun sasandu memiliki cara yang berbeda dengan alat musik petikan lainnya. Sasando biasanya dimainkan menggunakan kedua tangan dengan arah yang berlawanan. Tangan kanan berperan untuk memainkan accord, sedangkan tangan kiri sebagai melodi atau bass.

Untuk memainkan Sasando ini tentu tidak mudah, karena di butuhkan harmonisasi perasaan dan teknik, sehingga menghasilkan nada yang pas dan merdu. Selain itu keterampilan jari dalam memetik sangat diperlukan. Hampir sama dengan alat musik Harpa keterampilan dalam memetik dawai sangat mempengaruhi suara apalagi bila memainkan nada tempo cepat maka  keterampilan tangan sangat diperlukan.

Jenis Sasando

Sasando ini memiliki jenis yang berbeda-beda. Menurut perkembangannya, Sasando dibagi menjadi dua tipe yaitu tradisional dan elektrik. Sasando tradisional merupakan bentuk Sasando aslinya dan dimainkan tanpa alat elektronik seperti amplifier atau akustik. Sedangkan Sasando elektrik merupakan jenis Sasando yang bisa dimainkan dengan alat elektronik. Biasanya Sasando elektrik dimainkan dalam panggung besar atau pertunjukan modern.

Berdasarkan suaranya, Sasando juga dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya seperti Sasando engkel, Sasando dobel, Sasando gong dan Sasando biola. Sasando engkel merupakan jenis Sasando yang memiliki 28 dawai. Untuk Sasando dobel biasanya memiliki 56 atau 84 dawai, sehingga memiliki lebih banyak jenis suara. Untuk Sasando gong, merupakan jenis Sasando yang memiliki suara hampir menyerupai suara gong. Sedangkan Sasando biola merupakan Sasando yang memiliki suara hampir sama dengan suara biola. Tentunya penggunaan setiap jenis Sasando disesuaikan dengan keahlian setiap pemain dan kebutuhan pertunjukan.

Perkembangan Sasando

Alat musik Sasando masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Seperti yang dikatakan sebelumnya, saat ini Sasando telah dikembangkan menjadi beberapa jenis, baik dalam segi suara bahkan juga dibuat musik elektrik. Saat ini Sasando juga masih sering dimainkan untuk mengiringi lagu, syair, dan tarian tradisional. Selain itu Sasando juga sering ditampilkan dalam bentuk orkestra maupun pertunjukan solo. Suaranya yang merdu dan indah membuat banyak orang tertarik akan musik tradisional satu ini. Bahkan pesona suara musik Sasando tidak hanya dikenal di masyarakat lokal saja, namun juga dikenal baik dalam negeri maupun manca negara.




Patut Kamu Baca:

Tari Cerana Tarian Tradisional Dari Kupang, NTT

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian satu ini merupakan salah satu tarian penyambutan yang khas dari Pulau Timor bagian barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Tari Cerana.

Apakah Tari Cerana itu?

Tari Cerana adalah tarian selamat datang atau tarian penyambutan yang khas dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini dilakukan oleh beberapa penari wanita yang menari dengan membawa wadah berbentuk kotak berisi sirihdan pinang. Tari Cerana merupakan salah satu tarian yang sangat terkenal di Pulau Timor sebelah barat (wilayah Nusa Tenggara Timur) dan Pulau Rote. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara penyambutan tamu penting maupun para rombongan wisatawan yang datang ke sana.

Sejarah Tari Cerana

Tari Cerana dulunya merupakan tarian yang sering digunakan oleh masyarakat Kupang sebagai tarian penyambutan bagi para bangsawan, tamu penting maupun orang dituakan. Tarian ini dilakukan sebagai rasa penghormatan terhadap tamu yang datang. Selain di daerah Kupang tarian ini juga sangat populer di beberapa daerah lain di sekitarnya seperti di daerah Rote Ndao, Timor Tengah Utara(TTU), dan Timor Tengah Selatan(TTS).

Fungsi Dan Makna Tari Cerana

Tari Cerana ini merupakan tarian yang ditampilkan sebagai tarian penyambutan para tamu penting. Tarian ini biasanya diakhiri dengan menyajikan sirih dan pinang sebagai simbol penerimaan masyarakat terhadap para tamu dengan hati yang tulus, bersih dan penuh kasih. Kemudian para tamu yang datang akan mengunyah sirih dan pinang yang diberikan sebagai simbol bahwa para tamu juga menyambut baik apa yang diberikan oleh masyarakat sehingga akan terjalin hubungan baik di antara mereka.

Pertunjukan Tari Cerana

Dalam pertunjukannya Tari Cerana biasanya dibawakan oleh 6 orang atau lebih penari wanita dan satu orang penari pria. Dengan diiringi musik pengiring dan menggunakan busana adat, para penari dengan gerakan lemah lembut, menggambarkan ketulusan dan rasa kasih yang diberikan kepada para tamu yang datang.

Dalam pertunjukannya biasanya diawali dengan penari wanita menari dengan diiringi alunan musik pengiring. Kemudian penari pria masuk ke arena dan bergabung bersama dengan penari wanita. gerakan penari pria dan wanita dalam tarian ini berbeda. Gerakan penari wanita didominasi dengan gerakan tangan yang gemulai sambil membawa tempat sirih di tangan satunya. Sedangkan penari pria didominasi dengan gerakan tangan yang direntangkan.

Di akhir pertunjukan para penari wanita didampingi penari pria berjalan sambil menari menghampiri para tamu yang dihormati dan menyajikan sirih dan pinang kepada mereka. Setelah menyajikan sirih dan pinang, para tamu kemudian mengunyahnya sebagai tanda terima kasih. Kemudian setelah semuanya selesai para penari keluar arena sambil menari.

Pengiring Tari Cerana

Dalam pertunjukan Tari Cerana ini biasanya diiringi dengan iringan musik tradisional sasando. Irama yang dimainkan biasanya merupakan irama yang bertempo pelan sehingga selaras dengan gerakan para penari. Alunan suara musik sasando yang merdu dan khas dipadukan dengan gerakan tari yang lemah lembut ini seringkali membuat para tamu atau penonton terpesona dan terlarut dalam pertunjukan Tari Cerana ini.

Kostum Tari Cerana

Kostum yang digunakan para penari biasanya merupakan pakaian adat. para penari wanita biasanya menggunakan kain sarung panjang yang membalut tubuh mereka dari dada sampai mata kaki. Pada bagian rambut penari biasanya diKonde khas Kupang dan dihiasi dengan ikat kepala berbentuk bulan sabit. Selain itu Penari juga dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti gelang, kalung, serta sabuk yang berbentuk khas. Tidak lupa penari juga dilengkapi dengan kotak sirih yang digunakan untuk perlengkapan menari.

Sedangkan untuk penari pria juga menggunakan pakaian adat seperti baju lengan panjang, sarung, dan kain selampang yang khas. Untuk penutup kepala biasanya tergantung penari dan setiap daerah berbeda-beda, ada yang menggunakan ti’i langga maupun kain ikat. Penari pria juga dilengkapi dengan kalung yang khas.

Perkembangan Tari Cerana

Dalam perkembangannya, Tari Cerana masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat di sana. Tarian ini masih sering ditampilkan di berbagai acara penyambutan tamu kenegaraan, bangsawan maupun para tamu penting lainnya. Tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti pertunjukan seni daerah maupun festival budaya. Selain digunakan untuk melestarikan tarian, hal ini juga dilakukan untuk memperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat akan seni dan budaya yang mereka miliki.






Patut Kamu Baca:

Tari Bidu Tarian Tradisional Dari Belu, NTT

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini dulunya digunakan sebagai media mencari jodoh oleh masyarakat di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Tari Bidu.

Apakah Tari Bidu itu?

Tari Bidu adalah salah satu tarian tradisional dari daerah Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini biasanya ditampilkan oleh beberapa penari pria dan penari wanita berbusana adat dan menari dengan gerakan yang sangat khas. Tari Bidu merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di masyarakat Belu. Konon, Tarian ini dulunya digunakan oleh masyarakat di sana sebagai media pencarian jodoh bagi para pemuda dan pemudi.

Sejarah Tari Bidu

Tari Bidu merupakan tarian tradisional yang berasal dari tradisi adat masyarakat Belu yang sudah diwariskan secara turun temurun. Tarian ini dulunya digunakan masyarakat di sana sebagai media bagi para pemuda dan pemudi, khususnya bagi para remaja yang sudah direstui orang tua mereka atau sudah siap dinikahkan untuk saling mengenal dan memilih jodoh yang mereka inginkan.

Dalam tradisi masyarakat Belu ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh para pemuda dan pemudi sebelum melakukan pernikahan. Pertama, bagi para pemuda dan pemudi yang sudah siap harus melakukan perjanjian dan perencanaan terlebih dahulu, yang disebut dengan Hameno Bidu. Kemudian para pemuda dan pemudi tersebut bertemu di tempat yang sudah ditentukan dan melakukan Tari Bidu dengan disaksikan oleh para warga setempat termasuk orang tua mereka.

Dalam tarian tersebut para pemuda menari satu persatu sambil memilih wanita yang disukainya. Setelah menemukan wanita idamannya, pemuda tersebut kemudian menandai wanita yang dipilihnya. Setelah mereka sama-sama setuju kemudian dilanjutkan dengan proses berikutnya yaitu Hanimak. Hanimak sendiri merupakan suatu proses pengenalan secara etis, romantis dan berbobot yang dilakukan oleh seorang pria dan wanita atas ijin orang tua mereka.

Setelah menemukan kecocokan, biasanya mereka akan melakukan Binor, yaitu suatu proses saling bertukar dan menyimpan barang masing-masing seperti tempat sirih, kain, pakaian dan lain-lain. setelah tahap tersebut dilalui kemudian kedua belah pihak saling bertemu dan merencanakan prosesi peminangan. Dalam peminangan tersebut biasanya peminang membawa barang yang disebut dengan Mama Lulik. Kemudian dilanjutkan dengan Mama Tebes, yaitu tahap membicarakan dan merencanakan acara pernikahan mereka.

Fungsi Dan Makna Tari Bidu

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tari Bidu merupakan tarian tradisional yang sering dijadikan sebagai media para pemuda dan pemudi untuk saling mengenal dan memilih jodoh mereka. Dalam tarian tersebut para penari pria dan wanita menari dengan gerakan masing-masing yang menggambarkan pesona yang mereka miliki. Sehingga saat menentukan pilihan jodoh mereka bisa tahu mana yang sesuai dengan keinginan mereka.

Pertunjukan Tari Bidu

Tari Bidu biasanya ditampilkan oleh beberapa penari wanita dan penari pria. Jumlah penari biasanya terdiri dari 8 atau lebih penari wanita dan 1-2 penari pria. Dalam pertunjukannya biasanya diawali dengan pari berbaris sambil menari memasuki arena. Kemudian beberapa penari wanita menyuguhkan sirih dan pinang yang mereka bawa kepada menonton yang dianggap terhormat. Setelah itu kemudian mereka kembali menari.

Dalam Tari Bidu biasanya gerakan penari pria dan wanita berbeda. Gerakan penari wanita biasanya didominasi dengan gerakan tangan yang lemah lembut dan gerakan kaki jalan ditempat. Dalam gerakan Tari Bidu biasanya juga terdapat gerakan menenun yang dilakukan oleh penari wanita. gerakan-gerakan tersebut dikemas menjadi gerakan yang lemah lembut yang menggambarkan keanggunan seorang wanita.

Sedangkan Penari pria biasanya menari dengan gerakannya yang khas sambil mengelilingi penari wanita. Hal ini menggambarkan penari pria saat memilih wanita yang mereka inginkan. Gerakan penari pria biasanya didominasi dengan gerakan tangan yang direntangkan sambil melakukan gerakan memutar badan.

Pengiring Tari Bidu

Dalam pertunjukan Tari Bidu biasanya diiringi oleh iringan musik seperti Gitar, Biola dan Sasando. Irama musik yang dimainkan biasanya merupakan irama yang bertempo cepat. Walaupun begitu iringan musik pengiring ini juga diselaraskan dengan gerakan tari agar terlihat indah. Selain musik pengiring, dalam pertunjukan Tari Bidu juga diiringi oleh nyanyian lagu adat khas Belu.

Kostum Tari Bidu

Dalam pertunjukan Tari Bidu biasanya penari menggunakan pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya. Penari wanita biasanya menggunakan kain sarung panjang dari dada sampai kaki. Pada bagian atas badan penari menggunakan kain selimut. Selain itu, penari wanita juga menggunakan berbagai aksesoris seperti ikat kepala, kalung, ikat pinggang dan gelang yang khas dari Belu. Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang dan kain selampang pada bagian atas, sarung pada bagian bawah dan ikat kepala khas Belu.

Perkembangan Tari Bidu

Walaupun tergolong tarian yang sudah lama, Tari Bidu masih terus dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Tari Bidu ini tidak hanya dikenal di masyarakat Belu saja, namun juga dikenal di beberapa daerah di pulau timor bagian tengah (Nusa Tenggara Timur). Dalam perkembangannya Tari Bidu ini juga telah dikembangkan menjadi beberapa jenis Tari Bidu, dengan variasi gerakan, penyajian tarian, pengiring, dan kostum yang sedikit berbeda namun tetap mempertahankan ciri khasnya.

Tari Bidu ini selain ditampilkan dalam acara adat, Tari Bidu juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan, pentas seni dan festival budaya. Hal ini dilakukan sebagai usaha melestarikan dan memperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas akan tradsi dan budaya yang mereka miliki.





Patut Kamu Baca:

Sunday, 19 August 2018

Tari Likurai Tarian Tradisional Dari Belu, NTT

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian satu ini merupakan tarian tradisional sejenis tarian perang dari daerah Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya adalah Tari Likurai.

Apakah Tari Likurai itu?

Tari Likurai adalah tarian tradisional sejenis tarian perang yang khas dari daerah Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini biasanya dilakukan oleh beberapa penari pria dengan menggunakan pedang dan penari wanita dengan menggunakan Tiharatau kendang kecil sebagai atribut menarinya. Tarian Likurai ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur, dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, upacara adat, pertunjukan seni dan festival budaya.

Sejarah Tari Likurai

Tarian Likurai merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Belu, Nusa Tenggara Timur. Tarian ini awalnya merupakan tarian yang sering ditampilkan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Konon pada zaman dahulu di daerah Belu terdapat tradisi memenggal kepala musuh. Sehingga ketika mereka pulang dari medan perang selalu membawa kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaannya.

Untuk merayakan kemenangan tersebut, biasanya ditampilkan Tari Likurai sebagai tarian penyambutan. Tarian ini merupakan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat akan kemenangan yang mereka dapatkan dan kembalinya pahlawan dengan selamat. Namun setelah era kemerdekaan, tradisi penggal kepala tersebut dihapuskan. Walaupun begitu, Tari Likurai ini masih dipertahankan oleh masyarakat Belu dan masih sering ditampilkan untuk upacara adat, penyambutan tamu penting, bahkan pertunjukan seni dan budaya.

Fungsi Dan Makna Tari Likurai

Pada saat ini Tari Likurai lebih difungsikan sebagai tarian penyambutan para tamu penting yang datang ke sana. Tarian ini dilakukan sebagai wujud penghormatan masyarakat dalam menyambut kedatangan tamu tersebut. Selain itu tarian ini juga menggambarkan ungkapan rasa syukur dan gembira masyarakat dalam menyambut tamu mereka.

Pertunjukan Tari Likurai

Dalam pertunjukannya Tari Likurai ditampilkan oleh para penari wanita dan penari pria. Jumlah penari biasanya terdiri dari 10 orang atau lebih penari wanita dan dua orang penari pria. Dalam Tari Likurai ini penari wanita menggunakan pakaian adat wanita dan membawa Tihar (kendang kecil)untuk menari. Sedangkan penari pria juga menggunakan pakaian adat pria dan membawa pedang sebagai atribut menarinya.

Dalam Tari Likurai ini gerakan penari pria dan penari wanita berbeda. Gerakan penari wanita biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan kendang dengan cepat dan gerakan kaki menghentak secara bergantian. Selain itu penari juga menari dengan gerakan tubuh yang melenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan sesuai irama. Gerakan penari wanita ini cukup sulit, selain harus bergerak menari penari juga harus berkonsentrasi memainkan kendang dan menjaga agar irama yang dimainkan tetap sama dengan penari lainnya.

Sedangkan gerakan penari pria biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan pedang dan gerakan kaki menghentak sesuai irama. Selain itu penari pria juga sering melakukan gerakan seperti merunduk dan berputar-putar sambil memainkan pedang mereka. gerakan penari pria ini juga cukup sulit karena selain menari, penari juga harus menyesuaikan hentakan kakinya dengan irama musik.

Pengiring Tari Likurai

Dalam pertunjukan Tari Likurai biasanya tidak menggunakan musik pengiring apapun. Suara musik yang digunakan biasanya berasal dari suara kendang kecil yang dimainkan oleh penari wanita dan suara giring-giring yang dipasang di kaki penari. Selain itu suara teriakan para penari pria yang khas juga membuat tarian ini semakin meriah dan kesan tarian perang juga sangat terasa.

Kostum Tari Likurai

Kostum yang digunakan penari Tari Likurai biasanya merupakan kostum adat. Para penari wanita biasanya dibalut dengan kain sarung panjang yang menutupi tubuh mereka dari dada sampai kaki. pada bagian rambut biasanya dikonde dan menggunakan ikat kepala khas Belu. Selain itu penari juga menggunakan berbagai aksesoris seperti gelang serta kalung yang khas, dan membawa kendang kecil yang digunakan untuk menari.

Sedangkan penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang pada bagian atas dan menggunakan kain sarung pada bagian bawah. Pada bagian kepala, penari pria juga menggunakan ikat kepala yang khas dari Belu. Untuk menari, biasanya penari pria membawa pedang pada tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri.

Perkembangan Tari Likurai

Tari Likurai merupakan salah satu tarian tradisional yang masih dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat Belu, NTT. Dalam perkembangannya, berbagai variasi dan kreasi juga sering ditambahkan, baik dalam segi gerak, kostum dan penyajian tariannya. Hal ini dilakukan agar terlihat lebih menarik, namun tidak meninggalkan ciri khasnya.

Walaupun sudah tidak digunakan sebagai tarian perang, tarian ini masih sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, upacara adat, perayaan, pertunjukan seni, dan festival budaya. Hal ini dilakukan sebagai usah melestarikan serta memperkenalkan kepada gerasi muda dan masyarakat luas akan tradisi budaya yang mereka miliki.




Patut Kamu Baca:

Tari Maengket Tarian Tradisional Dari Sulawesi Utara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian satu ini merupakan salah satu tarian tradisional dari masyarakat Suku Minahasa di Sulawesi Utara. Namanya adalah Tari Maengket.

Apakah Tari Maengket itu?

Tari Maengket adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Minahasa yang tinggal di Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya dilakukan secara masal (penari dengan jumlah yang banyak), baik penari pria maupun penari wanita. Tari Maengket ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Utara dan masih terus dipertahankan sampai sekarang. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti panen raya, upacara adat, penyambutan, pertunjukan seni dan lain-lain.

Sejarah Dan Perkembangan Tari Maengket

Menurut sejarahnya, Tari Maengket sudah ada sejak masyarakat Minahasa mengenal pertanian, terutama menanam padi di ladang. Pada zaman dahulu, Tari Maengket ini ditampilkan untuk memeriahkan upacara panen raya sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira terhadap Tuhan atas hasil panen yang mereka dapatkan.

Pada zaman dahulu gerakan Tari Maengket ini masih menggunakan gerakan-gerakan yang sederhana. Sedangkan pada saat ini Tari Maengket sudah berkembang baik dalam segi tarian dan bentuk pertunjukan, namun tidak meninggalkan keasliannya. Selain itu tarian ini tidak hanya ditampilkan saat acara panen padi saja, namun juga ditampilkan di berbagai acara seperti acara adat, acara penyambutan, pertunjukan seni, festival budaya, bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para wisatawan yang datang ke sana.

Fungsi Dan Makna Tari Maengket

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tari Maengket ini dulunya ditampilkan untuk memeriahkan upacara panen raya masyarakat Minahasa. Tarian ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan kebahagiaan masyarakat atas hasil panen yang mereka dapatkan. Namun apabila melihat bentuk pertunjukan atau gerak Tari Maengket pada masa sekarang ini, tidak hanya menggambarkan ungkapan rasa syukur namun juga menggambarkan kehidupan masyarakat Minahasa sehari-harinya. Nama Tari Maengket sendiri diambil dari kata “engket” yang dalam bahasa setempat berarti mengangkat tumit kaki naik turun. Dengan tambahan “ma” pada kata engket ini bisa diartikan menari dengan naik turun.

Pertunjukan Tari Maengket

Tari Maengket biasanya dilakukan secara masal atau dilakukan dengan jumlah penari banyak. Tarian ini biasanya dimainkan oleh penari pria dan wanita secara berpasangan serta dipimpin oleh satu orang wanita. Dalam pertunjukannya, penari menari dengan gerakannya yang khas serta menyanyikan lagu-lagu adat dan diringi musik pengiring.

Dalam pertunjukannya, Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu Maowey Kamberu, Marambak dan Lalayaan. Pada babak Maowey Kamberu menggambarkan ungkapan rasa syukur atas panen mereka yang melimpah. Kemudian pada babak Marambakmenggabarkan semangat gotong royong masyarakat Minahasa. Sedangkan pada babak Lalayaan menggambarkan pemuda dan pemudi Minahasa dalam mencari jodoh atau bisa disebut juga dengan tari pergaulan muda-mudi Minahasa pada zaman dahulu.

Pengiring Tari Maengket

Dalam pertunjukan Tari Maengket biasanya hanya diiringi dengan iringan musik tambur. Namun ada juga yang menggunakan musik tradisional lain sebagai tambahan atau variasi seperti alat musik Tifa dan Kolintang. Untuk irama yang dimainkan biasanya mengikuti gerakan tari dan lagu adat yang dinyanyikan oleh para penari.

Kostum Tari Maengket

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Maengket biasanya menggunakan pakaian adat. Para penari wanita biasanya menggunakan busana seperti kebaya dan kain panjang khas Sulawesi Utara. Pada bagian rambut biasanya digelung atau dikonde. Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala khas Sulawesi Utara.

Untuk pemimpin tari biasanya menggunakan busana yang hampir sama dengan penari wanita. Namun ditambahkan beberapa kreasi seperti corak atau warna yang berbeda agar bisa membedakan. Untuk semua penari biasanya membawa sapu tangan yang akan digunakan untuk menari.

Pada pertunjukan Tari Maengket sekarang ini, kostum yang digunakan biasanya lebih bervariasi. Bahkan ada beberapa kelompok yang mengkreasikan kostum mereka dengan gaya modern, namun tidak meninggalkan kesan adat atau tradisionalnya. Hal ini tentu dilakukan sebagai pengembangan agar penampilannya terlihat menari.





Patut Kamu Baca:

Tari Mahambak Tarian Tradisional Dari Sulawesi Utara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian satu ini merupakan salah satu tarian tradisional yang khas dari Suku Bantik di Daerah Sulawesi Utara. Namanya adalah Tari Mahambak.

Apakah Tari Mahambak itu?

Tari Mahambak adalah salah satu tarian tradisional dari anak Suku Bantik di Daerah Sulawesi Utara. Tarian ini tergolong tarian yang bersifat masal atau komunal yang dilakukan oleh para penari pria dan wanita. Dalam tarian tersebut penari menari dengan gerakan yang khas dan diiringi dengan nyanyian adat yang bertemakan persatuan dan kerukunan masyarakat Suku Bantik. Tari Mahambak ini merupakan salah satu tarian yang cukup terkenal di Sulawesi Utara dan sering ditampilkan di beberapa acara seperti upacara adat, panen raya, perayaan, penyambutan dan berbagai acara budaya lainnya.

Sejarah Tari Mahambak

Menurut sejarahnya, masyarakat Suku Bantik dulunya terpencar ke beberapa daerah di Sulawesi Utara seperti di daerah Malalayang, Molas, Ongkau, Boyong dan lain-lain. Sulitnya media komunikasi pada masa itu membuat pertemuan diantara mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga. Untuk merayakan pertemuan tersebut mereka lakukan dengan menari Tari Mahambak ini.

Tarian tersebut mereka lakukan secara bersama-sama dengan penuh rasa gembira dan bahagia sambil menyanyikan syair yang bertemakan semangat kebersamaan dan persatuan masyarakat Suku Bantik. Walaupun terpencar di berbagai daerah, rasa persatuan dan kerukunan menjadi nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Suku Bantik dari generasi ke generasi seterusnya.

Makna Tari Mahambak

Nama Tari Mahambak sendiri secara harfiah memiliki arti bergembira dan bersuka cita. Sehingga Tari Mahambak dapat diartikan tarian yang menggambarkan kegembiraan dan suka cita masyarakat, khususnya masyarakat Suku Bantik. Nilai-nilai persatuan dan kebersamaan sangat terlihat pada tarian ini, hal tersebut bisa dilihat dari gerakan atau syair-syair yang dibawakan untuk mengiringi tarian ini.

Pertunjukan Tari Mahambak

Tarian mahambak biasanya ditampilkan secara berpasangan oleh para penari pria dan penari wanita. jumlah penari biasanya terdiri dari 10 pasang penari atau lebih dan dipimpin oleh seorang penari wanita yang biasa disebut dengan kapel. Dalam pertunjukan Tari Mahambak ini biasanya penari menari dengan menggunakan pakaian adat dan sapu tangan sebagai atribut menarinya.

Dalam pertunjukannya, tarian diawali dengan penari menari memasuki arena dengan berbaris secara berpasangan dan dipimpin oleh kapel. Kemudian setelah memasuki arena mereka menari secara berpasangan dan membentuk beberapa barisan sambil menyanyikan lagu adat. Kadang mereka juga membuat formasi melingkar sambil berpegangan tangan mengelilingi pemimpin tari. setelah tarian selesai kemudian diakhiri dengan keluar arena dengan barisan dan gerakan yang sama saat memasuki arena.

Tari Mahambak ini terbagi menjadi dua jenis yaitu Tari Mahambak Tradisional dan Tari Mahambak Imbasan. Tari Mahambak Tradisional biasanya gerakan utamanya lebih didominasi menghentakan kaki dan menari tanpa diiringi tambur. Sedangkan Tari Mahambak Imbasan, gerakan dan formasinya lebih bervariasi. Selain itu nyanyiannya juga lebih banyak dan diiringi dengan tambur.

Pengiring Tari Mahambak

Dalam pertunjukan Tari Mahambak biasanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti tambur. Untuk irama yang dimainkan biasanya disesuaikan dengan lagu dan gerakan tarinya. Sedangkan untuk lagu yang dinyanyikan biasanya merupakan lagu adat masyarakat Suku Bantik yang bertemakan persatuan dan kerukunan masyarakat seperti lagu Mahambak bantik, Kayu dondodan lain-lain.

Kostum Tari Mahambak

Kostum yang digunakan dalam pertunjukan Tari Mahambak biasanya merupakan pakaian adat. Untuk penari wanita biasanya menggunakan baju lengan panjang atau kebaya dan kain panjang khas Sulawesi Utara. Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang, celana panjang dan penutup kepala khas Sulawesi Utara. Selain itu para penari juga membawa sapu tangan yang digunakan untuk menari.

Perkembangan Tari Mahambak

Dalam perkembangannya, Tari Mahambak masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat di sana. Berbagai kreasi atau variasi dalam segi kostum, gerak maupun formasi juga sering ditambahkan dalam setiap pertunjukannya agar terlihat menarik. Tari Mahambak ini masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti upacara adat, penyambutan, perayaan, pertunjukan seni dan festival budaya. 





Patut Kamu Baca:

Saturday, 18 August 2018

Tari Kabasaran Tarian Tradisional Dari Sulawesi Utara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan tarian perang masyarakat Minahasa pada zaman dahulu. Namanya adalah Tari Kabasaran.

Apakah Tari Kabasaran itu?

Tari Kabasaran adalah tarian tradisional sejenis tarian perang masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya dimainkan oleh para penari pria yang menari dengan menggunakan pakaian perang dan senjata seperti pedang, tombak dan perisai. Tarian kabasaran merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Minahasa dan sering ditampilkan pada acara seperti upacara adat, penyambutan dan berbagai acara lainnya.

Sejarah Tari Kabasaran

Menurut sejarahnya, Tari Kabasaran ini dulunya merupakan  tarian perang yang sering dilakukan oleh para prajurit Minahasa sebelum atau sepulangnya dari medan perang. Menurut adat masyarakat Minahasa, dulunya untuk menarikan tarian ini penari harus berasal dari keturunan penari kabasaran juga. Karena setiap keluarga penari biasanya memiliki senjata khusus yang diwariskan secara turun-temurun dan digunakan untuk menari Tari Kabasaran. Selain itu karena sifatnya yang sakral, tarian ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Seiring dengan sudah tidak adanya perang seperti pada zaman dahulu, membuat Tari Kabasaran tidak lagi dijadikan tarian perang. Namun tarian ini dikembangkan menjadi tarian dalam upacara adat, penyambutan dan acara yang bersifat budaya lainnya. Pada zaman sekarang ini, Tari Kabasaran lebih ditampilkan sebagai penghormatan kepada para leluhur yang gugur di medan perang atas keberaniannya dalam mempertahankan tanah air mereka.

Makna Tari Kabasaran

Nama Tari Kabasaran ini barasal dari kata dasar “wasal” yang berarti ayam jantan. Bagi masyarakat Minahasa, ayam jantan sendiri merupakan simbol keberanian atau kejantanan. Hal ini bisa dilihat dari wajah para penari saat menari dengan ekspresi wajah yang garang, jantan, dan gagah berani. Kata wasal ini kemudian disebut dengan kawasalan yang berarti menari seperti ayam jantan yang sedang bertarung. Kemudian seiring dengan perkembangan bahasa Melayu Manado, kata “kawasalan” ini berubah menjadi kata “kabasaran” dengan arti yang sama. Sehingga tidak ada hubungannya dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia.

Pertunjukan Tari Kabasaran

Tari Kabasaran ini ditampilkan oleh beberapa orang penari pria dengan berpakaian prajurit Minahasa dan bersejatakan tombak atau pedang yang digunakan untuk menari. Dalam Tari Kabasaran biasanya juga terdapat seorang pemimpin yang bertugas memimpin tarian, pemimpin tari ini biasanya sudah dipilih oleh sesepuh adat. Pada saat pertunjukan, penari menari dengan wajah garang dan menyeramkan yang menunjukan keberanian dan kejantanan mereka.

Dalam pertunjukan Tari Kabasaran dibagi menjadi 3 babak yaitu Cakalele, Kemoyak dan Lalaya’an. Cakalele ini berasal dari kata “saka” yang berarti berlaga dan “lele” yang berarti berkejaran. Dalam babak ini gerakan penari didominasi dengan gerakan berlaga, berkejaran dan melompat-lompat. Dulunya babak ini ditarikan sebelum berperang  atau sekembalinya dari mendan perang.

Lalu dilanjutkan dengan babak Kemoyak. Kemoyak sendiri berasal dari kata “koyak” yang berarti mengayunkan senjata. Kata koyak juga bisa berarti membujuk roh lawan atau musuh yang terbunuh dalam peperangan. Hal tersebut dilakukan agar roh tersebut bisa tenang di alam peristirahatan mereka. Dalam babak ini penari memainkan senjata dengan gerakan mengayukannya kedepan serta diringi dengan syair yang dinyanyikan pemimpin tari dan disambut dengan sorakan para prajurit.

Kemudian yang terakhir adalah babak Lalaya’an, yaitu babak dimana para penari menari dengan bebas dan riang gembira. Berbeda dengan babak sebelumnya yang terkesan lebih serius baik dalam segi gerak maupun ekspresi. dalam babak ini penari boleh menari dengan tersenyum dan melepaskan diri dari wajah garang mereka.

Pengiring Tari Kabasaran

Pada pertunjukan Tari Kabasaran biasanya diiringi oleh alat musik tradisional yang sering disebut dengan Pa’wasalen. Dalam Pa’wasalentersebut terdiri dari alat musik seperti seperti gong dan tambur. Selain itu juga diiringi oleh nyanyian syair atau aba-aba dari pemimpin tari dan diikuti dengan sorakan dari para prajurit.

Kostum Tari Kabasaran

Untuk kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Kabasaran adalah kostum prajurit Minahasa pada zaman dahulu. Kostum tersebut didominasi oleh warna merah yang melambangkan keberanian. Pada kostum bagian dalam, biasanya menggunakan baju dan celana berwarna merah. Untuk kostum bagian luar biasanya menggunakan sejenis rompi dengan rumbai-rumbai dari kain atau kulit kayu. Pada bagian kepala menggunakan penutup kepala yang khas Tari Kabasaran yang berbentuk paruh burung dan dihiasi dengan bulu. Selain itu juga terdapat tengkorak kepala sebagai aksesoris dan senjata seperti pedang, perisai, atau tombak yang digunakan untuk menari.

Perkembangan Tari Kabasaran

Walaupun sudah tidak lagi digunakan sebagai tarian perang, Tari Kabasaran masih terus dilestarikan dan dijaga keberadaannya oleh masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Tarian ini masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti upacara adat, penyambutan, pertunjukan seni, dan festival budaya. Berbagai variasi dan kreasi juga sering ditampilkan disetiap pertunjukannya agar lebih menarik, namun tidak meninggalkan ciri khasnya.





Patut Kamu Baca: