Tuesday, 14 August 2018

Tari Bulu Londong Tarian Tradisional Dari Sulawesi Barat

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian ini dulunya merupakan tarian kemenangan Suku Mamasa yang sering dilakukan setelah pulang dari medan perang. Namanya adalah Tari Bulu Londong.

Apakah Tari Bulu Londong itu?

Tari Bulu Londong adalah salah satu tarian tradisional sejenis tarian perang yang berasal dari daerah Mamasa, Sulawesi Barat. Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh para penari pria dengan berpakaian dan bersenjata seperti layaknya para prajurit pada zaman dahulu. Seperti halnya tarian perang lainnya, Tari Bulu Londong merupakan salah satu tarian yang sudah hampir punah dan tidak pernah ditampilkan lagi seiring dengan tidak adanya perang seperti zaman dahulu.

Tarian ini kemudian diangkat kembali oleh masyarakat dan para budayawan yang ada disana sebagai apresiasi terhadap budaya lokal dan melestarikannya agar tidak punah seiring dengan pekembangan zaman. Walaupun sudah tidak lagi difungsikan sebagai tarian perang, namun Tari Bulu Londong kini lebih difungsikan sebagai tarian yang bersifat pertunjukan. Sehingga cocok ditampilkan untuk acara seperti penyambutan, perayaan, serta pertunjukan seni dan budaya.

Sejarah Tari Bulu Londong
Menurut sejarah, Tari Bulu Londong dulunya merupakan tarian yang dilakukan oleh para prajurit setelah pulang dari medan perang. Untuk merayakan kemenangan tersebut, mereka lakukan dengan Tarian Bulu Londong ini. Tarian ini dilakukan sebagai ungkapan rasa gembira dan rasa syukur atas keberhasilan serta kemenangan yang mereka dapatkan.

Para prajurit tersebut menari dengan membawa senjata serta kepala musuh yang mereka kalahkan di medan perang. Kepala musuh tersebut mereka pertunjukan kepada warga sebagai bukti kemenangan dan kehebatan mereka. Selain sebagai tarian perang, Tarian Bulu Londong juga sering ditampilkan sebagai bagian dari upacara Rambutuka bagi yang bernazar saat sakit. Ketika mereka sembuh dari penyakit yang dideritanya mereka juga merayakannya dengan tari bulu lomdong ini sebagai ungkapan rasa syukur.

Fungsi Dan Makna Tari Bulu Londong

Seperti yang dikatakan sebelumnya, tarian ini dulunya dilakukan untuk merayakan keberhasilan yang mereka dapatkan seperti kemenangan perang atau mereka yang sebuh dari sakit. Bagi masyarakat di sana, Tarian Bulu Londong ini dimaknai sebagai ungkapan kebahagian dan rasa syukur mereka. Selain itu Tari Bulu Londong kini juga dimaknai sebagai penghormatan kepada para leluhur.

Pertunjukan Tari Bulu Londong

Tari Bulu Londong ini biasanya dibawakan oleh para penari pria. Untuk jumlah para penari biasanya terdiri dari 5 orang atau lebih. Para penari tersebut menari dengan berpakaian perang dan membawa berbagai senjata sebagai peralatan menarinya. Peralatan menari tersebut terdiri dari, terompet bambu, pedang, dan tombak. Selain itu, salah satu penari juga membawa boneka kepala manusia.

Dalam pertunjukan Tari Bulu Londong diawali dengan membunyikan terompet bambu oleh para penari, setelah itu mereka memasuki arena. Setelah memasuki arena, kemudian para penari menari dengan gerakan-gerakannya yang khas sambil diiringi oleh musik pengiring. Untuk gerakan dalam tarian ini lebih didominasi gerakan gerakan tangan memainkan senjata. Pada tangan kanan memainkan pedang dan tangan kiri memainkan tombak. Selain itu pada gerakan kaki yang melangkah menghentak. Gerakan tersebut dipadukan dengan formasi yang berubah ubah sehingga terlihat bervariatif.

Pengiring Tari Bulu Londong

Dalam pertunjukan tari londong ini biasanya diiringi oleh musik tradisional seperti gendang. Gendang yang digunakan biasanya terdiri dari 2 gendang dan dimainkan oleh 4 orang secara bergantian. Sedangkan untuk irama yang dimainkan biasanya bertempo cepat namun disesuaikan dengan gerakan para penari. Selain itu dalam tarian ini juga diselingi dengan syair yang dibawakan oleh para penari. Sehingga saat mengucapkan syair, maka iringan musik dan gerakan tari akan berhenti,  kemudian setelah syair selesai maka musik dilanjutkan kembali dan begitu juga para penari.

Kostum Tari Bulu Londong

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Bulu Londong merupakan kostum perang Suku Mamasa pada zaman dahulu. Selain itu penari juga dilengkapi dengan peralatan seperti senjata dan terompet yang terbuat dari bambu dengan hiasan daun-daun. Untuk senjata yang digunakan terdiri dari pedang dan tombak khas yang dihiasi dengan bulu-bulu.

Selain itu salah satu orang penari biasanya membawa boneka kepala manusia. Pada zaman dahulu kepala manusia yang dibawa merupakan kepala manusia asli, namun karena sekaran lebih difungsikan sebagai tari pertunjukan maka kepala manusia tersebut di ganti dengan kepala buatan atau boneka.

Perkembangan Tari Bulu Londong

Tari Bulu Londong termasuk salah satu tarian yang hampir punah dan jarang ditampilkan seiring dengan perkembangan zaman. Namun tarian ini kemudian diangkat kembali oleh masyarakat dan budayawan di sana. Walaupun sudah tidak difungsikan sebagai tarian perang, namun kesan tari perang dalam Tari Bulu Londong ini masih sangat kental.

Dalam perkembangannya, berbagai kreasi dan variasi dalam pertunjukan juga sering ditambahkan agar terlihat menarik. Namun mereka tidak menghilangkan ciri khas dan kesan tari perang dalam tarian tersebut. Tari Bulu Londong ini kini sering ditampilkan di berbagai acara seperti, penyambutan, perayaan, pertunjukan seni dan festival budaya. Walaupun tidak lagi ditampilkan sebagai tarian perang, hal ini dilakukan sebagai bagian dari usaha melestarikan dan memperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas akan budaya yang mereka miliki.


Patut Kamu Baca:

Tari Molulo Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan tarian masal masyarakat Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. Namanya adalah Tari Molulo.

Apakah Tari Molulo itu?

Tari Molulo atau Tari Lulo adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Tarian ini merupakan tarian masyarakat Suku Tolaki yang dilakukan secara masal dan bisa dilakukan oleh semua kalangan baik pria maupun wanita, tua maupun muda. Tari Molulo juga merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Tenggara, terutama di daerah Kendari dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti pernikahan adat, panen raya, dan berbagai perayaan adat lainnya.

Sejarah Tari Molulo

Menurut sejarah, Tari Molulo ini berasal dari tradisi lama masyarakat Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. Tarian ini sering ditampilkan sebagai bagian dari upacara-upacara adat masyarakat di sana. Biasanya Tari Molulo ini ditampilkan di akhir acara dan dilakukan oleh semua hadirin atau warga masyarakat yang datang, baik tua maupun muda, pria maupun wanita.

Dengan diiringi musik tradisional dan lagu adat, mereka menari sambil berpegangan tangan dan membentuk formasi melingkar. Tradisi ini kemudian diteruskan secara turun-temurun dan masih dipertahankan hingga sekarang. Walaupun sudah sedikit berbeda karena berbagai pengembangan, namun ciri khas dalam tarian ini masih tetap dipertahankan.

Fungsi Dan Makna Tari Molulo

Seperti yang di jelaskan di atas, Tari Molulo ini merupakan tarian yang sering ditampilkan di berbagai acara adat masyarakat Suku Tolaki dan menjadi bagian dari acara tersebut. Bagi masyarakat di sana, tarian ini dimaknai sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur akan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Selain itu Tari Molulo ini juga menjadi salah satu media untuk mempersatukan dan mempererat hubungan diantara masyarakat. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka melakukannya secara bersama-sama dan menjadi satu tanpa memandang gender, status sosial, dan agama. Sehingga keceriaan dan semangat kebersamaan sangat terasa dalam tarian ini.

Pertunjukan Tari Molulo

Tari Molulo ini biasanya ditampilkan secara masal atau dalam jumlah banyak, baik penari pria maupun wanita. Tarian ini biasanya dilakukan di arena yang luas sehingga dapat diikuti oleh semua masyarkakat. Dalam pertunjukan Tari Molulo ini mereka berkumpul dan membentuk lingkaran. Apabila jumlah peserta terlalu banyak, maka mereka bisa membuat lingkaran lagi di bagian luar maupun bagian dalam barisan. Selain itu biasanya posisi pria dan wanita dibuat berselang-seling.

Dalam pertunjukannya, para penari menari sambil berpegangan tangan dan menari mengikuti irama. Dalam berpegangan tangan ini tentu memiliki aturan dan etika sendiri, yaitu telapak tangan pria harus berada di bawah telapak tangan wanita. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar saat menari, tangan penari pria tidak menyentuh bagian dada penari wanita.

Gerakan dalam Tari Molulo ini bisa terbilang sangat sederhana dan mudah diikuti bagi yang belum pernah melakukannya. Gerakan tarian ini lebih didominasi dengan gerakan kaki dan tangan yang diayunkan maju dan mundur serta ke kanan dan ke kiri. Gerakan tari ini tentu harus dilakukan secara kompak dan disesuaikan dengan irama musik pengiring.

Pengiring Tari Molulo

Dalam pertunjukan Tari Molulo, dulunya masih menggunakan alat musik tradsional seperti gongdan gendang. Namun seiring dengan perkembangan zaman, alat musik tradisional tersebut digantikan dengan teknologi seperti pemutar suara maupun musik elekton. Irama yang dimainkan biasanya diawali dengan irama yang tidak terlalu cepat, namun lama kelamaan irama musik semakin cepat. Selain musik pengiring, dalam pertunjukan Tari Molulo ini juga diiringi oleh pengiring vokal. Lagu yang dibawakan pengiring vokal biasanya merupakan lagu adat.

Kostum Tari Molulo

Untuk kostum yang digunakan biasanya disesuaikan dengan acara. Untuk acara adat biasanya menggunakan busana adat Suku Tolaki, sedangkan untuk upacara diluar adat biasanya bisa dilakukan dengan busa bebas. Namun berbeda bila dipentaskan dalam pertunjukan tari atau festival budaya, Tari Molulo biasanya menggunakan busana adat.

Perkembangan Tari Molulo

Dalam perkembangannya, Tari Molulo masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Berbagai variasi dan kreasi juga sering ditambahkan dalam setiap penampilannya baik dalam segi gerak, penari, formasi dan musik pengiring. Hal ini sebagai bagian dalam pengembangan agar terlihat menarik, namun tidak menghilangkan ciri khas dan nilai-nilai didalamnya.

Kepopuleran Tari Molulo ini tidak hanya dikalangan masyarakat Suku Tolaki saja, namun sudah menyebar hampir semua daerah di Sulawesi Tenggara, bahkan daerah sekitarnya. Tarian ini biasanya ditampilkan di berbagai acara adat, seperti pernikahan adat, pesta adat, perayaan adat dan lain-lain. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara pertunjukan, seperti pertunjukan seni, festival budaya bahkan promosi pariwisata. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari melestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat akan tradisi dan budaya yang mereka miliki.


Patut Kamu Baca:

Tari Balumpa Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan tarian penyambutan yang khas dari Sulawesi Tenggara. Namanya adalah Tari Balumpa.

Apakah Tari Balumpa itu?

Tari Balumpa adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tarian ini termasuk tarian pergaulan yang ditampilkan oleh penari wanita untuk menyambut para tamu terhormat yang datang ke sana. Tari Balumpa ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Tenggara, khususnya daerah Wakatobi. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, pertunjukan seni, dan festival budaya.

Asal Mula Tari Balumpa

Tari Balumpa merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara, khususnya daerah Binongko dan Buton. Konon tarian ini menceritakan tentang sekelompok para gadis yang sedang berdendang diiringi lagu daerah dan musik gambus. Dengan penuh keceriaan mereka berdendang dan menari dengan hati gembira dan tulus. Tari Balumpa ini biasanya ditampilkan untuk menyambut para tamu terhormat yang datang ke daerah ke sana.

Makna Tari Balumpa

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tari Balumpa ini biasanya ditampilkan sebagai tarian penyambutan para tamu terhormat yang datang ke sana. Mereka menyambut tamu tersebut dengan penuh keceriaan yang terlihat dari ekspresi para penari. Bagi masyarakat di sana, tarian ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan dalam menyambut tamu yang mereka hormati.

Pertunjukan Tari Balumpa

Tarian balumpa ini biasanya ditampilkan oleh para penari wanita saja. Namun di beberapa pertunjukan ada juga yang menampilkan penari pria dan wanita sebagai variasi. Jumlah penari Tari Balumpa ini biasanya terdiri dari 6-8 orang penari, namun hal tersebut tentunya disesuaikan dengan kebutuhan setiap kelompok tari.

Dalam pertunjukannya mereka menari dengan gerakannya yang khas dan diiringi oleh alunan musik pengiring. Gerakan dalam Tari Balumpa ini biasanya didominasi oleh gerakan tangan serta  gerakan tubuh yang melenggak-lenggok dan gerakan kaki yang diayun ke depan. Gerakan tarian tersebut juga dipadukan dengan ekspresi wajah yang ceria sehingga membuat tarian ini terlihat semakin indah.

Pengiring Tari Balumpa

Dalam pertunjukan Tari Balumpa biasanya diringi oleh musik tradisional gambus dan pengiring vokal. Lagu yang dibawakan untuk mengiringi tarian ini, biasanya merupakan lagu daerah yang bertema keceriaan dan penyambutan. Alunan suara vokal dan musik pengiring tersebut kemudian dipadukan dengan gerakan tari, sehingga terlihat selaras dan menghasilkan pertunjukan tari yang indah.

Kostum Tari Balumpa

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Balumpa biasanya merupakan busana adat. Para penari biasanya menggunakan baju berlengan pendek dan kain panjang khas Sulawesi Tenggara. Selain itu penari juga dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti, anting, kalung, gelang dan hiasan kepala yang khas, dan tidak lupa kain selendang yang digunakan untuk menari.

Perkembangan Tari Balumpa

Dalam perkembangannya, Tari Balumpa masih terus dilestarikan dan dikembangkan di sana. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam setiap pertunjukannya, baik dari segi gerak, kostum, pengiring, dan penari agar terlihat menarik. Tari Balumpa kini tidak hanya ditampilkan untuk penyambutan tamu terhormat saja, namun juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti pertunjukan seni, festival budaya, bahkan promosi pariwisata. Hal ini dilakukan sebagai bentuk usaha dalam melestarikan dan memperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas akan budaya yang mereka miliki.


Patut Kamu Baca:

Monday, 13 August 2018

Tari Dinggu Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini menggambarkan aktivitas dan kebiasaan masyarakat Tolaki pada saat musim panen. Namanya adalah Tari Dinggu.

Apakah Tari Dinggu itu?

Tari Dinggu adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang menggambarkan suasana dan aktivitas masyarakat saat musim panen, terutama musim panen padi. Tari Dinggu biasanya ditampilkan oleh para penari pria maupun wanita dengan berpakaian layaknya para Petani pada zaman dahulu. Tarian ini sangat dikenal di masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti pesta panen raya, penyambutan, perayaan hari besar, festival budaya dan lain-lain.

Sejarah Tari Dinggu

Menurut sejarahnya, tarian ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki saat panen raya, terutama masa panen padi. Mereka melakukan aktivitas panen tersebut secara bergotong-royong atau bersama-sama, mulai dari memetik padi, mengangkat padi, dan lain-lain. Setelah padi terkumpul semua maka diadakan Modinggu, yaitu semacam menumbuk padi secara masal yang dilakukan oleh para muda-mudi.

Setelah acara Modingguselesai kemudian  diakhiri dengan Lulo bersama sebagai hiburan serta melepas lelah. Selain itu Lulo juga dilakukan untuk mempererat kebersamaan mereka. Tradisi ini terus berlajut di kalangan masyarakat Tolaki, hingga akhirnya menjadi suatu tarian yang disebut dengan Tari Dinggu ini.

Makna Tari Dinggu

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tari Dinggu merupakan tarian yang menggambarkan aktivitas dan kebiasaan masyarakat Tolaki saat panen raya. Selain itu tarian ini juga menggambarkan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam melakukan sesuatu, salah satunya saat musim panen yang mereka lakukan secara bersama-sama. Hal ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan gotong-royong merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan masyarkat Tolaki di Sulawesi Tenggara.

Pertunjukan Tari Dinggu

Tari Dinggu merupakan tarian yang dibawakan oleh para penari pria maupun wanita. Jumlah penari Tari Dinggu ini biasanya terdiri dari 10 orang atau lebih penari pria dan wanita. Namun untuk jumlah penari ini biasanya disesuaikan dengan kelompok masing-masing. Dalam pertunjukannya, penari menggunakan kostum layaknya para Petani dan menari dengan membawa sejenis alu, tampah,dan semacam lesung yang digunakan sebagai properti menarinya.

Dalam pertunjukan Tari Dinggu biasanya terdapat beberapa babak yang menggambarkan aktivitas para Petani saat panen. Pada babak pertama biasanya diawali dengan babak yang menggambarkan para Petani membawa padi. Lalu dilanjutkan dengan menaruh padi yang akan ditumbuk. Kemudian dilanjutkan dengan babak tumbuk padi. Dan yang terakhir biasanya diakhiri dengan gerakan Lulo.

Gerakan penari pria dan penari wanita dalam Tari Dinggu ini pada dasarnya berbeda. Pada gerakan penari pria biasanya didominasi dengan gerakan memainkan alu dan gerakan yang dilakukan lebih lincah. Sedangkan pada gerakan penari wanita biasanya didominasi dengan gerakan yang pelan kecuali pada gerakan menumbuk padi dan melakukan Lulo. Karena dilakukan secara bersamaan antara penari pria dan wanita sehingga penari wanita harus mengimbangi gerakan penari pria.

Pengiring Tari Dinggu

Dalam pertunjukan Tari Dinggu biasanya diiringi oleh iringan musik tradisional seperti kendang dan gitar kecapi khas Sulawesi Tenggara. Irama yang dimainkan dalam mengiringi Tari Dinggu ini biasanya bertempo lambat, namun saat memasuki gerakan Lulo maka irama yang dimainkan bertempo cepat dan musik gitar kecapi diganti dengan gong.

Kostum Tari Dinggu

Untuk kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Dinggu biasanya menggunakan busana layaknya para Petani zaman dahulu. Para penari wanita biasanya menggunakan baju kebaya dan kain sarung khas Sulawesi Tenggara. Untuk aksesoris, penari wanita biasanya juga dilengkapi dengan aksesoris seperti hiasan rambut dan kalung khas. Selain itu penari wanita sebagian membawa tampah, dan sebagian lagi membawa satu alu kecil yang digunakan untuk menari.

Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang. Selain itu penari pria juga dilengkapi dengan kain sarung yang dikenakan di pinggang dan kain selampang. Sedangkan sebagai penutup kepala biasanya menggunakan caping atau topi Petani. Penari juga membawa dua alu berukuran pendek yang digunakan untuk menari.

Perkembangan Tari Dinggu

Dalam perkembangannya, Tari Dinggu masih terus dilestarikan dan kembangkan oleh beberapa sanggar di sana. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam setiap pertunjukannya agar terlihat menarik namun tidak menghilangkan ciri khasnya. Tari Dinggu kini juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti acara penyambutan, pesta rakyat, pertunjukan seni, dan festival budaya.




Patut Kamu Baca:

Tari Pa’Gellu Tarian Tradisional Dari Sulawesi Selatan

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan salag satu tarian penyambutan yang khas dari Sulawesi Selatan. Namanya adalah Tari Pa’Gellu.

Apakah Tari Pa’Gellu itu?

Tari Pa’Gellu adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Suku Torajadi Sulawesi Selatan. Tarian ini termasuk tarian yang bersifat hiburan yang dibawakan oleh beberapa penari wanita dan diiringi oleh musik tradisional yang khas. Tari Pa’Gellu ini merupakan salah satu tarian yang cukup terkenal di daerah Sulawesi Selatan. Biasanya tarian ini ditampilkan di acara-acara seperti penyambutan, pernikahan, pesta rakyat dan lain-lain.

Sejarah Tari Pa’Gellu

Menurut sejarahnya, Tari Pa’Gellu ini dulunya ditampilkan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Namun seiring dengan berakhirnya masa perang, tarian ini lebih difungsikan sebagai tarian hiburan. Sehingga bisa ditampilkan di acara-acara seperti penyambutan tamu penting, pernikahan, pesta rakyat dan lain-lain.

Tari Pa’Gellu ini juga bisa ditampilkan kapan saja, baik siang maupun malam mengikuti permintaan yang punya hajat. Konon tarian ini harus dibawakan dengan gembira, sehingga apabila salah satu penari sedang berduka maka dia tidak diperbolehkan untuk manari. Selain untuk menghormati perasaan penari, hal tersebut juga merupakan aturan adat yang berlaku.

Fungsi Dan Makna Tari Pa’Gellu

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Pa’Gellu ini difungsikan sebagai tarian yang bersifat hiburan dan memeriahkan suatu acara. Bagi masyarkat di sana, tarian ini juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur akan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Hal tersebut terlihat dari ekspresi para penari yang menari dengan wajah penuh senyum yang melambangkan keceriaan dan kegembiraan.

Pertunjukan Tari Pa’Gellu

Tari Pa’Gellu ini biasanya ditampilkan oleh para penari wanita. Jumlah Tari Pa’Gellu ini biasanya terdiri dari 3-5 orang penari. Jumlah penari tersebut biasanya mempengaruhi formasi para penari, sehingga setiap jumlah penari mempunyai formasi sendiri dan berbeda-beda. Selain itu tarian ini juga bisa dimainkan di mana saja, baik di atas panggung maupun halaman rumah pemilik hajat sehingga bisa menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan.

Dengan diiringi musik pengiring, penari menari dengan gerakan yang cukup unik dan memiliki makna khusus di dalamnya. Gerakan tersebut lebih didominasi oleh gerakan tangan yang melambai-lambai dan gerakan kaki yang berjalan jinjit, serta diselingi dengan gerakan memutar badan. Selain itu, ditengah pertunjukan biasanya salah satu penari menari di atas gendrang yang ditabuh oleh para pengiring. Gendrang tersebut tentunya sudah diberi alas agar tidak mudah roboh dan membuat penari terjatuh. Hal inilah yang menjadi salah satu ciri khas dari Tari Pa’Gellu ini.

Pengiring Tari Pa’Gellu

Pertunjukan Tari Pa’Gellu ini diiringi oleh musik tradisional berupa gendrang khas Toraja. Gendrang tersebut merupakan gendrang khusus yang ditabuh oleh 2 orang penabuh dari sisi yang berlawanan. Salah satu penabuh menggunakan dua alat pemukul dan satunya menggunakan satu alat pukul. Cara menabuh setiap penabuh berbeda beda dan saling melengkapi. Untuk irama yang dimainkan biasanya bertempo cepat, namun disesuaikan dengan gerakan tari para penari.

Kostum Tari Pa’Gellu

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Pa’Gellu ini merupakan busana adat. Para penari biasanya menggunakan busana dan aksesoris seperti keris emas (sarapang bulawan), kandaure, sa’pi’ ulu’, tali tarrung, dan lain-lain. Untuk warna kostum Tari Pa’Gellu ini biasanya bervariasi, sehingga tergantung kelompok yang memainkan.

Perkembangan Tari Pa’Gellu

Dalam perkembangannya, tarian ini masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh beberapa sanggar yang ada di Sulawesi Selatan. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam setiap pertunjukannya, baik dalam segi gerak, penari, kostum, serta pengiring agar terlihat menarik, namun tidak menghilangkan keaslian dan ciri khasnya.

Tari Pa’Gellu ini masih sering ditampilkan di berbagai acara adat seperti pernikahan adat, penyambutan tamu penting, pesta rakyat dan acara adat lainnya. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya, dan promosi pariwisata. Hal ini dilakukan sebagai usaha melestarikan serta mengenalkan kepada masyarakat luas akan seni dan budaya yang mereka miliki.





Patut Kamu Baca:

Tari Kipas Pakarena Tarian Tradisional Dari Sulawesi Selatan

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan salah satu tarian klasik yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Namanya adalah Tari Kipas Pakarena.

Apakah Tari Kipas Pakarena itu?

Tari Kipas Pakarena adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Tarian ini dibawakan oleh para penari wanita dengan berbusana adat dan menari dengan gerakannya yang khas serta memainkan kipas sebagai atribut menarinya. Tari Kipas Pakarena merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan, terutama di daerah Gowa. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara yang bersifat adat maupun hiburan, bahkan Tari Kipas Pakarena ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Gowa.

Sejarah Tari Kipas Pakarena

Menurut sejarahnya, Tari Kipas Pakarena ini merupakan salah satu tarian peninggalan Kerajaan Gowa di daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa ini dulunya pernah berjaya di sulawesi bagian selatan sampai berabad-abad. Sehingga kebudayaan yang ada pada saat itu sangat mempengaruhi corak budaya masyarakat Gowa saat ini, salah satunya adalah Tari Kipas Pakarena. Nama Tari Kipas Pakarena ini dambil dari kata “karena” yang berarti “main”. Sehingga tarian ini juga dapat diartikan sebagi tarian yang memainkan kipas. Tarian ini kemudian diwariska turun temurun hingga menjadi suatu tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Asal usul dari Tari Kipas Pakarena ini masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun menurut mitos masyarakat disana, tarian ini berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (khayangan) dan pengguni lino (bumi) pada zaman dahulu. Konon sebelum mereka berpisah, penghuni boting langi sempat mengajarkan bagaimana menjalani hidup seperti bercocok tanam, beternak, dan berburu pada penghuni lino. Ajaran tersebut mereka berikan melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Gerakan tersebut kemudian dipakai penghuni linosebagai ritual adat mereka

Fungsi Dan Makna Tari Kipas Pakarena

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Kipas Pakarena ini biasanya ditampilkan sebagai hiburan maupun bagian dari upacara adat. Bagi masyarakat Gowa, tarian ini memiliki nilai yang sangat penting dan makna khusus di dalamnya. Salah satunya adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas kebahagiaan yang mereka dapatkan, hal tersebut mereka ungkapkan lewat setiap gerakan para penari. Selain itu tarian ini juga menggambarkan ekspresi kelembutan, kesantunan, kesucian dan penuh kasih dari para wanita, hal tersebut bisa dilihat dari gerakan para penari yang lemah lembut.

Pertunjukan Tari Kipas Pakarena

Dalam pertunjukan Tari Kipas Pakarena biasanya ditampilkan oleh 5-7 orang penari wanita. Dengan berbusana adat dan diiringi musik pengring, mereka menari dengan gerakan lemah gemulai sambil memainkan kipas lipat di tangan mereka. Gerakan dalam Tari Kipas Pakarena ini sangat khas dan tentu memiliki makna tersendiri di dalamnya.

Gerakan dalam Tari Kipas Pakarena sebenarnya dibagi menjadi beberapa bagian, namun hal tersebut terkadang sulit dibedakan karena pola gerak tarian ini cenderung mirip. Gerakan dalam tarian ini biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan kipas lipat dan tangan satunya yang bergerak lemah lembut. Selain itu gerakan badan yang mengikuti gerakan tangan dan gerkan kaki yang melangkah.

Dalam Tari Kipas Pakarena ini juga memiliki beberapa aturan atau pakem di dalamnya. Salah satunya adalah para penari tidak diperkenankan untuk membuka mata terlalu lebar dan mengangkat kaki terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan aspek kesopanan dan kesantunan sangat diutamakan dalam tarian ini. sehingga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan hati yang tulus.

Pengiring Tari Kipas Pakarena

Dalam pertunjukan Tari Kipas Pakarena biasanya diiringi oleh alat musik tradisional yang sering disebut dengan gondrong rinci. Gondrong rinci ini merupakan musik tradisional yang terdiri dari gendrang dan seruling. Musik pengiring ini biasanya dimaikan oleh 4-7 orang pemain musik. Salah satu pemusik biasanya memainkan seruling dan yang lainnya memainkan gendrang dengan cara yang berbeda-beda sehingga menghasilkan suara yang padu. Dalam tarian ini walaupun penari menari dengan gerakan yang lemah lembut, namun irama yang dimainkan musik pengiring bertempo cepat. Hal inilah yang menjadi salah satu keunikan dari Tari Kipas Pakarena ini.

Kostum Tari Kipas Pakarena

Kostum yang digunakan para penari biasanya merupakan busana  adat khas Gowa. Para penari biasanya menggunakan baju longgar, kain selampang, dan kain sarung khas Sulawesi Selatan. Pada bagian kepala, rambut penari biasanya dikonde dan dihiasi dengan tusuk berwarna emas serta bunga-bunga. Penari juga dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti gelang, kalung dan anting yang khas. Selain itu tidak lupa penari juga membawa kipas lipat yang digunakan untuk menari.

Perkembangan Tari Kipas Pakarena

Walaupun merupakan tarian yang sudah ada sejak lama, Tari Kipas Pakarena masih terus dipertahankan dan dikembangkan hingga sekarang. Tarian ini masih sering ditampilkan di berbagai acara baik acara adat maupun acara hiburan. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di acara budaya seperti pertunjukan tari, festival budaya dan promosi wisata. Dalam perkembangannya, berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam pertunjukannya. Hal ini tentu dilakukan agar terlihat lebih menarik, namun tidak meninggalkan ciri khas dan pakem yang ada didalamnya.





Patut Kamu Baca:

Sunday, 12 August 2018

Tari Soya Soya Tarian Tradisional Dari Maluku Utara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan salah satu tarian perang yang berasal dari Maluku Utara. Namanya adalah Tari Soya Soya.

Apakah Tari Soya Soya itu?

Tari Soya Soya adalah tarian tradisional sejenis tarian perang yang berasal dari daerah Kayoa, Maluku Utara. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dengan berpakaian prajurit kesultanan pada zaman dahulu dan menggunakan perisaiserta ngana-ngana sebagai perlengkapan menarinya. Tari Soya Soya ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Maluku Utara dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, perayaan adat, pertunjukan seni, festival budaya dan acara budaya lainnya.

Sejarah Tari Soya Soya

Menurut sejarah, Tari Soya Soya ini dulunya digunakan untuk mengobarkan semangat para prajurit saat penyerbuan Kesultanan Ternate ke Benteng Nostra Senora Del Resario (Benteng Kastela) yang dikuasai Portugis. Penyerbuan tersebut dipimpin langsung oleh Sultan Baabullah dalam rangka menyelamatkan ayahnya yaitu Sultan Khairun yang dibunuh secara kejam oleh tentara Portugis. Pertempuran ini juga menjadi awal kebangkitan masyarakat dalam mengusir para penjajah Portugis yang sudah lama menduduki tanah mereka. Untuk mengabadikan peristiwa heroic tersebut, para seniman Kesultanan kemudian menciptakan dan mengembangkan sebuah tarian yang disebut dengan Tari Soya Soya ini.

Makna Tari Soya Soya

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Soya Soya ini awalnya diciptakan untuk mengabadikan peristiwa dan menggambarkan perjuangan para pahlawan dalam mengusir para penjajah yang telah lama menduduki tanah mereka. Namun bagi masyarakat saat ini Tari Soya Soya dapat dimaknai sebagai wujud apresiasi serta penghormatan mereka kepada para pahlawan yang sudah berjuang mempertahankan tanah air mereka. Selain itu tarian ini juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan kepada generasi selanjutnya serta masyarakat luas akan sejarah dan budaya yang mereka miliki.

Pertunjukan Tari Soya Soya

Dalam pertunjukannya, Tari Soya Soya dibawakan oleh para penari pria. Jumlah penari dalam Tari Soya Soya biasanya terdiri dari 5 orang atau lebih. Dan salah satu dari penari tersebut berperan sebagai Kapitan (pemimpin tari) yang memimpin tarian serta memberikan aba-aba kepada anggota lainnya. Dengan diiringi musik pengiring, mereka menari dengan gerakannya yang khas dan memainkan perisai dan ngana-ngana untuk menari.

Gerakan dalam Tari Soya Soya ini sangat dinamis, lincah dan penuh semangat. Gerakan tersebut biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan perisai dan ngana-ngana serta gerakan kaki yang bervariatif dan dilakukan dengan cepat. Formasi dalam tarian ini juga sering berubah ubah, namun dilakukan dengan kompak sehingga terlihat menarik. Karena tarian ini menceritakan suatu peristiwa, setiap gerakan tersebut tentu memiliki filosofi tersendiri didalamnya.

Pengiring Tari Soya Soya

Dalam pertunjukan Tari Soya Soya biasanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti tifa (gendang), saragai (gong), dan tawa-tawa (gong kecil). Irama yang dimainkan untuk mengiringi Tari Soya Soya ini biasanya merupakan irama cepat sehingga menggambarkan genderang perang yang penuh semangat. Irama tersebut kemudian dipadukan dengan gerakan tari sehingga terlihat bagus.

Kostum Tari Soya Soya

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Soya Soya biasanya merupakan kostum khusus. Para penari biasanya menggunakan baju taqoa, celana panjang, dan kain seperti rok pendek berwarna hitam, merah, kuning, dan hijau. Pada bagian kepala biasanya menggunakan ikat kepala berwarna kuning yang sering disebut dengan tuala lipa atau lipa kuraci.

Untuk peralatan menari, penari juga membawa perisai (salawaku) ditangan kiri dan ngana-ngana di tangan kanan. Ngana-ngana sendiri merupakan peralatan menari yang terbuat dari ruas bambu yang diberi hiasan daun palem dan ikat berwarna merah, kuning dan hijau. Pada bagian samping ngana-ngana tersebut biasanya dipasang semacam giring-giringyang berbunyi saat dimainkan.

Perkembangan Tari Soya Soya

Dalam perkembangannya, Tari Soya Soya masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Berbagai variasi dan kreasi dalam segi gerak, kostum dan musik pengiring juga sering ditambahkan agar telihat menarik. Walaupun begitu namun tidak menghilangkan ciri khas serta makna yang terdapat didalamnya. Tari Soya Soya masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan, hari peringatan, perayaan dan acara daerah lainnya. Selain itu, tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya dan promosi pariwisata.



Patut Kamu Baca:

Musik Bambu Hitada Kesenian Musik Tradisional Dari Maluku Utara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Kesenian satu ini merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang berasal dari Maluku Utara. Namanya adalah Musik Bambu Hitada.

Apakah Musik Bambu Hitada itu?

Musik Bambu Hitada adalah salah satu kesenian musik tradisional yang berasal dari Maluku Utara. Kesenian musik satu ini biasanya dimainkan secara berkelompok dengan menggunakan berbagai alat musik tradisional yang khas. Musik Bambu Hitada ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di Maluku Utara, terutama di kalangan masyarakat Halmahera. Dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti pesta adat, upacara adat dan lain-lain.

Asal Usul Musik Bambu Hitada

Asal usul Musik Bambu Hitada berasal dari kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu yang lebih banyak hidup bersama alam. Alam yang luas tidak hanya membantu mereka dalam bertahan hidup, namun juga menjadi inspirasi dalam menciptakan sesuatu, salah satunya adalah Musik Bambu Hitada ini. Dengan menggabungkan beberapa bahan yang mereka dapatkan dari alam, mereka kemudian menciptakan suatu jenis musik yang khas.

Bagi masyarakat di Halmahera, Musik Bambu Hitada ini dulunya tidak hanya digunakan sebagai hiburan saja, namun juga untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal tersebut merupakan kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu yang menggunakan lagu dan musik sebagai media untuk berkomunikasi kepada Tuhan atau leluhur mereka.

Alat musik yang mereka gunakan pada saat itu masih menggunakan alat musik yang sederhana atau yang mereka ciptakan dari hasil alam. Namun seiring dengan masuknya alat musik modern, juga mempengaruhi perkembangan Musik Bambu Hitada ini. Salah satunya dengan menambahkan berbagai alat musik modern seperti gitar dan biola sebagai pelengkap, namun tidak menggantikan musik aslinya.

Jenis Alat Musik Bambu Hitada

Alat musik yang digunakan pada Musik Bambu Hitada ini biasanya terdiri dari ruas bambu, cikir, biola, dan juk. Ruas bambu ini merupakan salah satu peralatan utama yang digunakan pada musik hitada ini. Ruas bambu yang digunakan memiliki panjang yang berbeda dan setiap batang bambu dilubangi sesuai dengan panjang bambu. Hal tersebut dilakukan agar menghasilkan nada yang berbeda beda.

Cikir merupakan alat musik yang terbuat dari batok kelapa yang masih utuh. Lalu di dalamnya diisi dengan beberapa butir kerikil bulat atau biji kacang hijau kering. Seperti halnya musik giring-giring, apabila digerakan maka akan menghasilkan bunyi. Kemudian untuk alat musik juk merupakan jenis alat musik gitar yang dibuat sendiri dan dimainkan dengan cara yang sama. Sedangkan biola yang digunakan merupakan biola gesek tradisional yang dimainkan dengan cara yang sama pula.

Cara Memainkan Musik Bambu Hitada

Seperti halnya grup musik pada umumnya, Musik Bambu Hitada dimainkan sesuai fungsi alatnya masing-masing dan dikombinasikan menjadi satu irama yang pas dan enak didengar. Untuk alat musik bambu dimainkan dengan cara dihentakkan ke bawah. Setiap bambu memiliki satu nada, sehingga dimainkan secara bergantian antara bambu satu dan lainnya. Biasanya bila dimainkan di atas lantai, untuk menghentakan bambu tersebut harus dialasi dengan karung goni. Selain agar lantai tidak lecet, juga untuk menstabilkan suara.

Kemudian untuk alat musik cikir dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan sesuai dengan ketukan atau irama yang dimainkan. Sedangkan untuk juk dan biola dimainkan dengan cara pada umumnya. Seperti gitar, dimainkan dengan cara dipetik dan dimainkan sesuai dengan cord. Dan alat musik biola tradisional dimainkan dengan  cara digesek.

Pertunjukan Musik Bambu Hitada

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Musik Bambu Hitada dimainkan secara berkelompok. Jumlah pemain musik hitada biasanya terdiri dari 7 sampai 13 orang, hal tersebut biasanya disesuaikan dengan keadaan kelompok. Setiap pemain memegang satu alat musik dan kemudian memainkannya sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Dalam pertunjukan Musik Bambu Hitada biasanya dibawakan oleh para pemain musik pria. Adapun wanita dalam pertunjukan tersebut, biasanya bertugas sebagai vokalis. Lagu yang dibawakan biasanya merupakan lagu-lagu adat. Namun ada juga yang menampilkan lagu pop atau modern sebagai kreasi dan variasi agar menarik.

Perkembangan Musik Bambu Hitada

Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan Musik Bambu Hitada mulai tergerus dan harus bersaing dengan musik modern. Kurangnya perhatian masyarakat dan pemerintah juga bisa menjadi faktor meredupnya popularitas Musik Bambu Hitada ini. Beberapa kelompok musik masih mencoba dan berusaha mempertahankan eksistensi serta mengembangkan Musik Bambu Hitada agar bisa terus dinikmati masyarakat.

Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan di setiap pertunjukannya, baik dalam segi alat musik, lagu, dan cara memainkannya. Hal ini dilakukan agar terlihat menarik, namun tidak menghilangkan keaslian atau ciri khas dari musik tersebut. Selain itu Musik Bambu Hitada juga masih sering ditampilkan diberbagai acara seperti pesta adat, penyambutan, pernikahan dan lain-lain. Selain itu Musik Bambu Hitada juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti, pertunjukan seni, festival budaya dan promosi pariwisata. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan kepada generasi muda dan masyarakat luas akan musik tradisional satu ini.

Nilai-Nilai Dalam Musik Bambu Hitada

Selain kaya akan nilai seni, Musik Bambu Hitada juga memiliki beberapa nilai-nilai penting didalamya, diantaranya seperti nilai spiritual, nilai historis, dan nilai kreativitas. Nilai spiritual ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat menggunakan Musik Bambu Hitada sebagai media untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui musik dan lagu.

Nilai historis, bisa dilihat dari lamanya keberadaan Musik Bambu Hitada ini dan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan masyarakat di sana. Sedangkan nilai kreativitas terlihat dari bagimana mereka menciptakan suatu alat musik yang terbuat dari bahan yang sederhana dan mengkreasikannya menjadi jenis musik yang khas dan bisa dinikmati. Dari nilai-nilai ini lah sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan Musik Bambu Hitada ini sebagai salah satu warisan budaya agar tidak hilang seiring perekembangan zaman.




Patut Kamu Baca:

Tari Cakalele Tarian Tradisional Dari Maluku Utara

View Article
Cintaindonesia.web.id - Tarian tradisional satu ini merupakan salah satu tarian perang yang cukup terkenal di daerah Maluku. Namanya adalah Tari Cakalele.

Apakah Tari Cakalele itu?

Tari Cakalele adalah tarian tradisional sejenis tarian perang yang berasal dari daerah Maluku Utara. Tarian ini umumnya ditarikan oleh para penari pria, namun ada juga beberapa penari wanita sebagai penari pendukung. Tari Cakalele merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Maluku Utara dan sering ditampilkan di berbagai acara adat maupun hiburan. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya serta promosi pariwisata baik tingkat daerah, nasional, bahkan internasional.

Sejarah Tari Cakalele

Menurut beberapa sumber sejarah yang ada, Tari Cakalele ini dulunya berasal dari tradisi masyarakat Maluku Utara. Pada saat itu tarian ini dilakukan sebagai tarian perang para prajurit sebelum menuju medan perang maupun sepulang dari medan perang. Selain itu tarian ini juga menjadi sering dijadikan sebagai bagian dari upacara adat masyarkaat di sana.

Tari calale ini kemudian meluas ke daerah-daerah sekitar, karena pengaruh kerajaan pada saat itu. Tarian ini kemudian dikenal di daerah lain seperti di daerah Maluku Tengahdan sebagian wilayah Sulawesi, salah satunya di Sulawesi Utara. Di kalangan masyarakat Minahasa, Cakalele juga dikenal dan menjadi bagian dari tarian perang mereka, yaitu Tari Kabasaran.

Fungsi Dan Makna Tari Cakalele

Pada masa sekarang ini, Tari Cakalele tidak lagi difungsikan sebagi tarian perang, namun lebih sering ditampilkan untuk acara yang bersifat pertunjukan maupun perayaan adat. Bagi masyarakat di sana, Tari Cakalele dimaknai sebagai wujud apresiasi dan penghormatan masyarakat terhadap para leluhur atau nenek moyang mereka. Selain itu tarian ini juga menggambarkan jiwa masyarakat Maluku yang pemberani dan tangguh, hal tersebut bisa dilihat dari gerakan dan ekspresi para penari saat menarikan Tari Cakalele ini.

Pertunjukan Tari Cakalele

Tari Cakalele ini biasanya ditarikan secara berkelompok dan dibawakan oleh penari pria serta penari wanita sebagai penari pendukungnya. Dalam pertunjukannya penari pria menari menggunakan parang (pedang) dan salawaku(tameng) sebagai atribut menarinya. Sedangkan penari wanita biasanya menggunakan lenso (sapu tangan) sebagai atribut menarinya.  Selain itu dalam Tari Cakalele ini, biasanya dipimpin oleh seorang penari yang berperan sebagai Kapitan (pemimpin tarian) dan seorang yang menggunakan tombak yang menjadi lawan tandingnya.
Dalam pertunjukan Tari Cakalele para penari menari dengan gerakannya yang khas mengikuti genderang musik pengiring. Gerakan para penari pria dan penari wanita dalam tarian ini sangat berbeda. Gerakan penari pria biasanya lebih didominasi oleh gerakan lincah para penari sambil tangan memainkan parang dan salawaku, serta gerakan kaki berjingkrak-jingkrak secara bergantian. Sedangkan gerakan para penari wanita didominasi oleh gerakan tangan yang diayunkan ke depan secara bergantian serta gerakan kaki yang dihentakan dengan cepat mengikuti iringan musik pengiring.

Pengiring Dalam Tari Cakalele

Dalam pertunjukan Tari Cakalele biasanya diiringi oleh iringan musik tradisional seperti tifa, gong,dan bia (kerang yang ditiup). Irama yang dimainkan dalam mengiringi tarian ini biasanya merupakan irama yang bertempo cepat layaknya genderangperang pada zaman dahulu, sehingga dapat memicu semangat para penari dan tak jarang membuat para penonton terbawa suasana tersebut. Gerakan para penari biasanya disesuaikan dengan musik pengiring ini. Karena kadang irama yang dimainkan bisa jadi kode saat berganti gerakan atau formasi para penari.

Kostum Tari Cakalele

Kostum yang digunakan dalam pertunjukan Tari Cakalele biasanya menggunakan kostum khusus. Para penari pria biasanya menggunakan pakaian perang yang didominasi warna merah dan kuning tua, serta dilengkapi dengan senjata seperti parang, salawaku,dan tombak. Untuk kostum kapitan biasanya menggunakan penutup kepala yang dihiasi dengan bulu-bulu ayam. Sedangkan untuk penari wanita biasanya menggunakan pakaian adat berwarna putih dan kain panjang pada bagian bawah. Serta menggengam lenso atau sapu tangan sebagai atribut menarinya.

Perkembangan Tari Cakalele

Dalam perkembangannya, Tari Cakalele hingga kini masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat di sana. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam pertunjukannya agar menarik, namun tidak menghilangkan ciri khas dan keaslian dari tarian tersebut. Tari Cakalele ini juga masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu, perayaan adat, dan acara adat lainnya. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya dan promosi pariwisata.




Patut Kamu Baca: