Thursday, 12 July 2018

Tarian Tradisional Dari Jawa Barat Dan Penjelasannya




Cintaindonesia.web.id - Provinsi Jawa Barat merupakan sebuah provinsi yang letaknya berada di ujung pulau Jawa. Provinsi yang mayoritas masyarakat adalah suku Sunda ini dikenal sudah mempunyai peradaban yang cukup tinggi sejak masa lampau. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan berbagai prasasti dan candi peninggalan dari kerajaan Hindu dan Budha di sekitar wilayah geografisnya, seperti kerajaan Tarumanegara, Sunda-Galuh, dan Padjajaran. Selain itu, peradaban serta kebudayaan tinggi yang dimiliki oleh orang-orang suku Sunda juga dibuktikan dengan adanya beberapa peninggalan budaya, salah satunya adalah tarian tradisionalnya. Nah seperti apa sajakah tarian tradisional tersebut? Berikut ini penjelasannya.



1. Tari Ketuk Tilu

Tari Ketuk Tilu

Tarian ini merupakan tarian hiburan atau tarian pergaulan. Tari Ketuk Tilu ini juga merupakan cikal bakal dari Tari Jaipong yang sangat terkenal di Provinsi Jawa Barat. Menurut sejarahnya, Tari Ketuk Tilu ini dahulunya merupakan tarian diupacara adat dalam menyambut panen padi sebagai ungkapan dari rasa syukur kepada Dewi Sridewi, yaitu dewi padi dalam kepercayaan masyarakat Sunda.

Gerakan yang di lakukan dalam Tari Ketuk Tilu ini adalah gerakan seperti goyang, pencak, muncid, gitek dan juga geol. Dalam tarian ini, gerakan tersebut memiliki nama sendiri seperti depok, oray orayan, lengkah opat, bajing luncat, ban karet dan lain-lain. S

2. Tari Jaipong

Tari Jaipong

Tari Jaipong atau yang dikenal sebagai Jaipongan adalah tarian tradisional yang diciptakan ditahun 1961 oleh Gugum Gumbira. Pada masa itu, Presiden Soekarno melarang musik rock and roll  dan juga musik barat lainnya diperdengarkan di Indonesia, seniman lokal kemudian tertantang untuk mengimbangi aturan pelarangan tersebut dengan cara menghidupkan kembali seni tradisi. Tari Jaipong ini merupakan perpaduan antara gerakan ketuk tilu, tari topeng banjet, dan juga pencak silat (bela diri).

Pada awal kemunculannya, jaipong ini merupakan tarian modern yang berbeda dari tarian tradisional Sunda sebelumnya yang lebih mengedepankan sopan santun dan kehalusan budi dari para penarinya. Penari (yang biasanya perempuan) bahkan menundukkan pandangannya, dan tidak boleh menatap pasangannya. Lain dengan tari jaipong yang pada saat itu telah terpengaruh oleh budaya dansa Barat di ball room, para penari diharuskan fokus dalam menatap pasangannya sebagai bentuk komunikasi visual.

3. Tari Merak

Tari Merak

Tari Merak merupakan tarian tradisional kreasi baru dari tanah Pasundan yang diciptakan oleh seseorang yang bernama Raden Tjetjep Somantri ditahun 1950 dan dibuat ulang oleh Irawati Durban di tahun 1965. Sesuai dengan namanya, Tari Merak ini banyak terinspirasi oleh keanggunan gerak dan warna ekor dari burung merak. Banyak orang salah mengira jika tarian merak ini bercerita tentang kehidupan dan keceriaan dari merak betina, padahal tarian ini bercerita tentang pesona dari merak jantan yang terkenal pesolek.

Dalam pertunjukannya, ciri khas dalam tarian ini terletak pakaian yang dikenakan penarinya, yaitu memiliki motif menyerupai bulu merak. Kain dan pakaiannya menggambarkan bentuk dan juga warna bulu-bulu merak. Ditambah lagi dengan selendang yang dipenuhi payet sebagai gambaran ekor merak yang sedang mengembang, serta mahkota yang berbentuk kepala merak yang sering disebut dengan singer, siger ini akan bergoyang setiap para penari menggerakkan kepalanya.

Tarian ini umumnya ditarikan secara rampak dan biasanya terdiri tiga penari atau lebih yang masing-masing memiliki peran sebagai merak jantan dan juga betina. Tarian ini biasanya akan diiringi alat musik gamelan. Meskipun tarian ini menceritakan gerakan merak jantan, akan tetapi keanggunan merak jantan hanya dapat digambarkan melalui gerakan-gerakan para penari perempuan

4. Tari Sintren

Tari Sintren  

Sintren merupakan sebuah tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Penari dalam kesenian sintren ini akan menari dengan dirasuki oleh arwah. Penari sintren ini akan pingsan apabila terkena uang yang di lemparkan ke arah tubuh si penari tersebut.

Dengan iringan gamelan dan menggunakan pakaian yang indah, biasanya penari ini juga dilengkapi sebuah aksesoris modern, seperti meggunakan kacamata dan dasi, sehingga tarian sintren ini menjadi sangat eksotis dan juga misterius. Kesenian ini sangat terkenal dipesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, diantaranya adalah Majalengka, Jatibarang, Berebes, Indramayu, Cirebon, Pemalang, Kabupaten Kuningan, Banyumas, dan Pekalongan.

Kata sinten sendiri di bangun oleh 2 kata, yaitu si dan tren, kata si atau ia dan tren atau tri yang dapat berarti "putri, jadi artinya adalah "ia putri", maksud yang sebenarnya dari menari bukanlah si penari sintren tersebut, namun roh seorang putri yang bernama sulasih, atau biasa disebut Rr. Ratnamsari.

Pertunjukkan Sintren ini diperankan oleh gadis yang masih suci dan dibantu oleh seorang pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya, tarian sintren saat ini hanya sebagai hiburan budaya yang kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan juga bodor (lawak).


5. Tari Topeng Klana

Tari Topeng Klana

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, termasuk Indramayu, Losari, Jatibarang, dan Brebes. Tarian ini salah satu tarian di tatar Parahyangan. Di Cirebon, tari topeng ini banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan ataupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng akan dimainkan oleh satu penari tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa penari.

Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana ini merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Akan tetapi upaya pengejarannya tidak mendapat hasil. Kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala tabiat buruknya. Itulah kiranya yang menginspirasi dari Nugraha Soeradiredja pada saat menciptakan Tari Klana.

6. Tari Topeng Losari

Tari Topeng Losari

Cirebon di Jawa Barat memang merupakan gudangnya dari tari topeng, dikarenakan banyaknya tari topeng yang berasal dari daerah ini. Salah satunya tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Babakan Losari atau yang biasa disebut Tari Topeng Losari.

Tari yang mewakili bagian timur Cirebon ini mempunyai beberapa keunikan dibandingkan dengan tari topeng cirebon lainnya, dikarenakan tarian ini memiliki pengaruh gaya dari Jawa Tengah. Tidak heran jika hal tersebut terjadi, mengingat lokasi Lesari yang berimpitan dengan Jawa Tengah.

Tidak sembarangan orang yang dapat menjadi penari Topeng Losari, hanya yang orang yang memiliki keturunan langsung yang dapat menjadi para penari Topeng Losari. Itu pun dengan cara melewati persyaratan dan ritual khusus. Selain itu, topeng atau kedok yang dikenakan pun merupakan topeng yang diwariskan secara turun temurun.

Ritual untuk menjadi para penari Topeng Losari di antaranya mutih, gedang yaitu puasa makan pisang, puasa rawit yaitu puasa yang berbuka dengan makan cabai rawit, puasa patih geni yaitu puasa tidak makan dan tidak tidur, puasa wuwungan yaitu dikurung di dalam kamar tidak ada orang yang boleh datang, dan puasa sedawuh yaitu puasa sampai jam 12 siang. Ritual ini harus dijalani oleh seorang penari Topeng Losari agar dalam pementasan berjalan lancar.

7. Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung

Mendengar kata ronggeng, maka terbayang suatu tontonan rakyat yang akan menampilkan gadis-gadis cantik dengan pasangan seorang pria menari mengikuti irama khas Jawa Barat. Ronggeng yang akan ditampilkan disini adalah ronggeng yang lain, yaitu ronggeng gunung, suatu tari rakyat yang hidup dan juga berkembang di daerah Ciamis bagian selatan. Ini bukan berarti di daerah lain tidak terdapat kesenian rakyat sejenis. Di daerah lain dikenal dengan nama yang berbeda, misalnya ketuk tilu, banjet, ronggeng topeng dan lain sebagainya.

Umumnya kesenian ronggeng ini dipanggil untuk kepentingan suatu perayaan, seperti pesta perkawinan, khitanan, penghormatan terhadap tamu dan lain sebagainya. Namun disamping itu tidak jarang juga kesenian ronggeng ini dipanggil untuk memenuhi pernyataan kaulnya.

Orang-orang yang tergabung didalam kelompok kesenian ronggeng gunung ini biasanya akan terdiri dari 6 (enam) sampai 10 (sepuluh) orang. Namun demikian dapat juga tukar menukar atau meminjam para pemain dari kelompok lain. Biasanya peminjaman pemain terjadi dalam memperoleh pesinden lalugu, yaitu seorang wanita yang sudah berumur agak lanjut akan tetapi mempunyai kemampuan yang sangat mengagumkan didalam hal tarik suara. Dia bertugas untuk membawakan lagu-lagu tertentu yang tidak bisa dibawakan oleh seorang pesinden biasa.

8. Tari Kandagan

Tari Kandagan

Tarian ini merupakan pengembangan dari Tari Renggarini, kreasi salah satu maestro tari Sunda yang bernama Raden Tjetje Somantri ditahun 1957. Kata kandagan ini sendiri artinya wadah untuk menyimpan perhiasan dan juga barang berharga. Nama Kandagan dimaksudkan bahwa tarian ini merupakan kumpulan dari berbagai gerakan tari yang indah.

Tari Kandagan ini memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan pada tarian seperti Jaipong dan Tari Merak yang tergolong tarian putri atau tarian yang dibawakan oleh para penari wanita. Seperti juga Tari Renggarini, Tari Kandagan ini tergolong tari putri yang gagah. Karena itulah unsur dari maskulinitas lebih ditonjolkan didalam gestur para penarinya. Maskulinitas ini terlihat didalam sikap gerak, kepala, badan, kaki dan juga tangan yang digunakan dalam tarian ini.

9. Tari Mojang Jaipong

Tari Mojang Jaipong

Tari Mojang Jaipong adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Tarian ini merupakan tari pergaulan yang berembrio dari seni tari Jaipongan. Berbeda dengan tari Jaipong yang umumnya ditarikan secara berpasangan, Tari Mojang Jaipong ini hanya ditarikan oleh para perempuan yang beranjak remaja dengan mengenakan pakaian tradisional khas Sunda. Bagian atasnya mengenakan kebaya berwarna cerah dan dilengkapi oleh kain batik khas Sunda pada bagian bawahnya. Hiasan rambut dibuat menarik, dan riasan bagian wajah dibuat minimalis tetapi tetap mengeluarkan aura cantik mojang sunda.

Secara umum, Tari Mojang Jaipong ini ditarikan oleh 6 (enam) - 8 (delapan) orang perempuan dengan diiringi musik tradisional khas Sunda dengan tempo yang cepat. Untuk mampu menarikan Tari Mojang Jaipong ini dengan sempurna, maka seseorang harus menguasai beberapa gerakan, yakni gerak bukaan, pencugan, gala, dan gerakan minci.

10. Tari Bajidor Kahot

Tari Bajidor Kahot

Tari Bajidor Kahot ini merupakan kombinasi dari Tari Ketuk Tilu dan Tari Jaipongan sebagai dasar dari gerakan. Yang membedakan dari Tari Bajidor Kahot ini adalah tidak mengoptimalkan bahu dalam gerakan seperti halnya pada Tari Jaipongan dan Tari Ketuk Tilu. Dalam Tari Bajidor Kahot, pinggul, lengan, bahu, kepala, dan juga tangan digerakkan dengan dinamis. Langkah-langkah dari kaki pun menjadi bagian Tari Bajidor Kahot.

Para penari bajidor kahot biasanya mengenakan kebaya khas tanah Pasundan. Dengan kebaya yang di desain pas dengan bentuk tubuh, para penari bajidor kahot terlihat sangat menawan. Terlebih, pakaian yang dikenakan memakai warna cerah. Tambahan aksesori berupa selendang dan juga kipas membuat pertunjukan dari Tari Bajidor Kahot ini terlihat sangat indah. Gerakan-gerakan dalam tarian ini terlihat dinamis, energik, seksi, dan juga anggun. Sering kali para penari juga berpindah-pindah dan membentuk sebuah formasi yang menarik.

Tari Bajidor Kahot diciptakan disekitar tahun 2000. Dalam setiap pertunjukannya, Tari Bajidor Kahot ini selalu diiringi oleh gendang khas tanah Pasundan. Selain itu juga, musik gamelan Bali menambah kekayaan musik yang mengiringi tarian ini. Seperti dalam jaipongan, Tari Bajidor Kahot ini juga dibawakan oleh remaja putri. Para penari Tari Bajidor Kahot ini biasanya berjumlah 4 (empat) sampai 8 (delapan) orang.

11. Tari Topeng Temenggung



Tari Topeng Temenggung

Tari Topeng Temenggung adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Cirebon Jawa Barat. Tarian ini merupakan salah satu dari lima tari topeng yang berasal dari Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan juga Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon ini memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda pada saat dipentaskan.

Tari Topeng Temenggung ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani dalam berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria ini disimbolkan oleh Temenggung, yakni seorang Adipati yang berasal dari Magadiraja yang dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom. Bagi masyarakat Cirebon Jawa Barat, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng ini juga dianggap sebagai jati diri dari seseorang. 

Dalam pertunjukan, gerakan tubuh sang penari terlihat tegap namun elegan. Gerakan tersebut melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan juga tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, hal itu memperlihatkan bahwa tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun tarian ini melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tarian ini dibawakan oleh kaum wanita. Selengkapnya tentang tari topeng temenggung dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Topeng Temenggung, Tarian Tradisional Dari Jawa Barat".

12. Tari Iswara Gandrung

Tari Iswara Gandrung

Tarian ini terinspirasi dari kisah cinta Nyi Roro Kidul. Tari Iswara Gandrung ini merupakan penggambaran mengenai sosok yang sangat ditakuti di kawasan Pantai Selatan ini. Aroma mistis yang menaungi dari kisah legenda Nyi Roro Kidul memang seperti tidak pernah terkikis oleh waktu. Sebagai penguasa dari Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul seperti menjadi cerita legenda di dalam dua kebudayaan, yaitu Jawa dan Sunda. Tari Iswara Gandrung seperti mengingatkan kembali sosok dari Nyi Roro Kidul dengan segala daya tariknya.

Dalam pertunjukannya, Tari Iswara Gandrung ini biasanya ditarikan oleh 7 (tujuh) orang penari. Tarian ini dibuka dengan para penari yang berbaris membelakangi panggung. Sementara itu musik dan pesinden yang mengiringi tarian ini telah mulai mengiringi para penari dengan nyanyian dalam syair berbahasa Sunda.

Perlahan-lahan para penari mulai melakukan gerakan gemulai dan kemudian membentuk posisi serong di atas panggung. Jari jemari yang lentik serta tatapan mata yang sangat tajam dari para penari, membuat tarian ini begitu menarik untuk dilihat.

Busana yang digunakan dalam Tari Iswara Gandrung ini adalah busana yang berwarna hijau. Warna hijau tersebut seperti melambangkan warna kesukaan dari sang ratu lengkap dengan mahkota bunga melati sebagai penutup pada bagian bagian kepala. Bunga melati ini konon menjadi bunga kesukaan dari Nyi Roro Kidul.

13. Tari Boboko Mangkup

Tari Boboko Mangkup

Tarian ini sangat identik dengan Boboko atau Bakul yang ukurannya besar. Bagi masyarakat Jawa Barat Boboko ini adalah wadah atau tempat kehidupan, dimana ketika boboko telah terisi oleh nasi, maka keberlangsungan kehidupan akan terus berjalan. Tetapi jika boboko telah dalam posisi mangkub atau tertelungkup seperti menggambarkan kehidupan dan kondisi masyarakat yang sedang sulit. Karena itu, masyarakat berusaha keras agar boboko atau bakul jangan sampai kosong tanpa terisi.

Pada Pertunjukannya, Tari Boboko Mangkup ini biasanya ditarikan oleh 12 (dua belas) orang penari, yang terdiri dari 1 (satu) orang penari laki-laki, 5 (lima) orang penari perempuan, dan 6 (enam) orang penari anak-anak. Dalam pertunjukannya, Tari Boboko Mangkup ini biasanya diiringi oleh alunan alat musik tradisional seperti kendang, kecapi laras salendro, kecapi laras madenda, suling, kolotok, kecrek atau simbal, bass elektrik, dan gong besar. Dengan adanya iringan musik tersebut, membuat pertunjukan tari boboko mangkup ini semakin hidup.


14. Tari Panarat

Tari Panarat

Tarian ini menggambarkan ekspresi kegembiraan dari para pemetik teh dikala pagi menjelang. Tari Panarat ini terinspirasi dari kegiatan memetik teh yang sangat akrab di beberapa bagian daerah di Provinsi Jawa Barat, seperti di kawasan kebun teh Cisarua, Kabupaten Bogor, salah satunya.

Dalam pertunjukannya, Tari Panarat ini biasanya ditarikan oleh 9 (sembilan) orang penari yang keseluruhannya seorang perempuan. Tarian ini diawali dengan 4 (empat) penari keluar dari dalam bakul. Dengan gerakan perlahan para penari tersebut beranjak dari bakul dan kemudian mengenakan topi caping seakan-akan dengan penuh suka cita menyambut pagi. Ekspresi dan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para penari seakan-akan bersiap untuk berangkat ke kebun teh.

15. Tari Pumamasari

Tari Pumamasari

Tari Pumamasari ini terinspirasi dari Keberanian Pumamasari, yaitu putri bungsu dari Raja Padjajaran dari istri ketujuh. Dalam pertunjukannya, Tari Pumamasari ini biasanya ditarikan oleh 8 (delapan) orang penari, yang terdiri dari 4 penari perempuan dan 4 penari laki-laki. Tari ini diawali dengan masuknya para penari di tempat pementasan dengan melakukan gerakan berputar-putar seperti halnya ingin menyerang satu sama lain. Tidak lama para penari tersebut pun saling berhadapan dan ingin menunjukan siapa yang paling kuat. Gerakan-gerakan saling berhadapan ini dilakukan 2 kubu penari tersebut.

16. Tari Wangsa Suta

Tari Wangsa Suta

Tari Wangsa Suta adalah salah satu tarian tradisonal yang berasal dari Jawa Barat yang ditampilkan secara berkelompok. Tari Wangsa Suta ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup populer di Jawa Barat. Menurut sejarah, Tari Wangsa Suta ini bercerita mengenai pertempuran Wangsa Suta.

Dalam Pertunjukannya, Tari Wangsa Suta ini biasanya ditarikan oleh 7 (tujuh) orang penari yang keseluruhannya laki-laki. Busana yang digunakan para penari dalam Tari Wangsa Suta ini biasanya busana serba kuning layaknya hulu balang dari kerajaan mereka. Busana yang dipakai oleh para penari ini mengedepankan desain serta warna yang bersumber dari seni dan tradisi rakyat Jawa Barat. Selain itu, para penari juga akan dirias setampan mungkin dengan maksud mempertegas aksen dari para penarinya.

Dalam membuat pertunjukan Tari Wangsa Suta ini semakin hidup, tarian ini biasanya diiringi dengan alat musik tradisional gamelan yang sekilas seperti alunan musik dari bali, hanya saja terdapat tambahan bunyi dari alat musik suling.

17. Tari Kedok Ireng

Tari Kedok Ireng

Tarian ini merupakan gambaran dari kehidupan seorang manusia yang dilihat dari dua sisi, yaitu baik dan buruk. Dalam pertunjukan, tarian ini biasanya ditarikan oleh 3 (tiga) orang penari. Pada awal tarian, ketiga penari duduk bersila di tengah panggung. Dengan menggunakan kostum berwarna cerah, kemudian para penari membungkuk dan tidak lama mereka berdiri dan telah memakai topeng yang berwarna merah muda.

Kemudian dari bagian samping panggung muncul 7 (tujuh) penari yang melengkapi formasi dari Tari Kedok Ireng. Dengan gerakan yang lentur, para penari tersebut lalu menari-nari secara berpasang-pasangan dengan menggunakan topeng. Formasi berpasangan tersebut seperti menandakan bahwa 2 (dua) sisi baik dan buruk akan selalu ada pada diri manusia.

Kesepuluh penari tersebut terlihat semakin energik dengan sesekali melompat serta melemparkan selendangnya. Dilain gerakan, para penari juga akan melepas topeng dan berputar-putar. Para penari juga sesekali akan membentuk formasi seperti ingin memberikan sebuah sambutan kepada para penonton.

Kata Kedok Ireng ini sendiri berasal dari 2 (dua) kata, yaitu Kedok dan Ireng. Kedok artinya penutup wajah, sedangkan Ireng artinya hitam. Secara umum, Kedok Ireng ini mempunyai makna gambaran hidup dari seorang manusia yang dilihat dari sisi baik dan buruk. Pada kehidupan sehari-hari, manusia selalu dihadapkan dalam dua sisi kehidupan yang akan selalu melekat pada diri manusia sampai maut menjemput.

18. Tari Kamonesan

Tari Kamonesan

Tarian ini merupakan gambaran kearifan lokal dan cara hidup tradisional dari Masyarakat Sunda. Ciri khas dalam tarian ini adalah pada penari perempuan yang membawa boboko atau bakul sebagai properti dalam menarinya.

Dalam Pertunjukannya, Tari Kamonesan ini merupakan tari berpasangan dan biasanya ditarikan oleh 8 (delapan) orang penari, yang terdiri dari 4 (empat) orang laki-laki dan 4 (empat) orang perempuan. Para penari dalam tarian ini biasanya menggunakan kostum yang berwarna terang dan cerah seperti warna merah, biru, kuning dan hijau.

Pada para penari pria biasanya menggunakan kostum berupa celana pangsi lengkap dengan menggunakan ikat kepala, sedangkan pada para penari perempuan biasanya mengenakan kebaya lengkap dengan tutup kepala. Selain itu penari perempuan juga akan membawa boboko atau bakul sebagai properti dalam menari.



Patut Kamu Baca:

Artikel Terkait