Tuesday, 3 July 2018

Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara Dan Penjelasannya

loading...


Cintaindonesia.web.id - Sulawesi Tenggara adalah provinsi yang letaknya berada di Pulau Sulawesi. Provinsi ini dihuni oleh masyarakat yang sangat heterogen. Secara demografi, suku bangsa dari para penduduk provinsi ini terdiri dari suku Tolaki (36%), Muna (19%), Buton (26%), Morenene (10%), Wawonii (9%). Nah pada artikel ini akan membahas tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Apa sajakah tarian tradisional tersebut? berikut ini penjelasannya.


1. Tari Balumpa

Tari Balumpa, Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara
Tari Balumpa

Tari Balumpa adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara, khususnya didaerah Binongko dan Buton. Tarian ini termasuk jenis tarian pergaulan yang ditampilkan oleh para penari wanita untuk menyambut tamu terhormat yang datang ke sana. Konon tarian ini menceritakan tentang sekelompok gadis yang sedang berdendang diiringi lagu daerah dan juga musik gambus. Dengan penuh keceriaan para gadis ini berdendang dan menari dengan hati gembira dan tulus.

Tarian balumpa ini umumnya ditampilkan oleh para penari wanita saja. Namun dibeberapa pertunjukan ada juga yang menampilkan para penari pria dan wanita sebagai variasi. Jumlah penari tarian ini biasanya terdiri dari 6 sampai 8 orang penari, namun hal tersebut tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap kelompok tari.

2. Tari Dinggu

Tari Dinggu, Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara
Tari Dinggu

Tarian ini merupakan tarian rakyat yang menggambarkan suatu suasana dan aktivitas masyarakat pada saat musim panen, terutama pada musim panen padi. Tari Dinggu biasanya ditampilkan oleh para penari pria ataupun wanita dengan berpakaian layaknya seorang Petani pada zaman dahulu.

Menurut sejarahnya, Tari Dinggu ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki pada saat panen raya, terutama pada masa panen padi. Mereka melakukan aktivitas panen tersebut dengan cara bergotong-royong atau bersama-sama, yang dimulai dari memetik padi, mengangkat padi, dan lain-lain. Setelah padi tersebut terkumpul semua, maka akan diadakan Modinggu, yaitu semacam menumbuk padi secara masal atau beramai-ramai yang dilakukan oleh para muda-mudi.

Setelah acara Modinggu ini selesai kemudian diakhiri dengan Lulo bersama sebagai hiburan dan melepas lelah. Selain itu Lulo juga dilakukan dalam mempererat kebersamaan mereka. Tradisi ini terus berlajut dikalangan masyarakat Tolaki, sampai akhirnya menjadi suatu tarian yang disebut Tari Dinggu ini.

Tari Dinggu ini merupakan tarian yang menggambarkan aktivitas dan juga kebiasaan masyarakat Tolaki pada saat panen raya. Selain itu Tari Dinggu juga menggambarkan semangat kebersamaan serta gotong royong masyarakat didalam melakukan sesuatu, salah satunya adalah pada saat musim panen yang mereka lakukan secara bersama-sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan juga gotong-royong merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan masyarkat Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara.

3. Tari Lulo atau Tari Molulo

Tari Lulo atau Tari Molulo, Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara
Tari Lulo atau Tari Molulo

Tarian ini merupakan tarian tradisional dari masyarakat Suku Tolaki yang dilakukan secara beramai-ramai atau masal dan dapat dilakukan oleh seluruh kalangan baik itu kaum pria maupun kaum wanita, tua maupun muda. Menurut sejarahnya, Tari Lulo ini berasal dari tradisi lama masyarakat Suku Tolaki yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Tarian ini kerap ditampilkan sebagai bagian dari upacara-upacara adat dari masyarakat suku Tolaki. Umumnya Tari Lulo ini akan ditampilkan dibagian akhir acara serta dilakukan oleh seluruh hadirin atau masyarakat yang datang, baik itu kaum pria maupun kaum wanita, tua maupun muda.

Dengan diiringi oleh alat musik tradisional dan lagu adat, mereka lalu menari sambil berpegangan tangan dan kemudian membentuk sebuah formasi melingkar. Tradisi ini lalu diteruskan secara turun-temurun dan tetap dipertahankan hingga saat ini. Meskipun sudah sedikit berbeda disebabkan berbagai pengembangan, namun ciri khas pada tarian ini masih terus dipertahankan.

Bagi masyarakat Suku Tolaki, tarian ini dimaknai sebagai bentuk ungkapan rasa gembira dan juga rasa syukur terhadap kebahagiaan yang mereka dapatkan. Selain itu tarian ini juga menjadi salah satu media di dalam mempersatukan dan mempererat hubungan diantara masyarakat. Hal itu terlihat dari bagaimana mereka melakukannya, yaitu secara masal atau bersama-sama dan menjadi satu tanpa memandang gender, status sosial, dan juga agama. Sehingga semangat dan keceriaan akan terasa di dalam Tari Lulo ini.

4. Tari Lumense

Tari Lumense, Tarian Tradisional Dari Sulawesi Tenggara
Tari Lumense

Tari lumense pada mulanya berasal dari Kabupaten Bombana di Kecamatan Kabaena. Suku yang menempati wilayah tersebut adalah suku Moronene, bahkan hampir diseluruh wilayah Sulawesi tenggara ini di huni suku moronene. Suku moronene merupakan generasi dari suku melayu yang paling tua yang dan datang dari hindia di zaman prasejaran. Kata Lumense ini diambil dari bahasa penduduk setempat dan terdiri dari dua suku kata yaitu kata lume (terbang) dan mense (tinggi), jadi lumense ini memiliki arti terbang tinggi.

Pertunjukan tari Lumense biasanya dilakukan untuk menyambut tamu di pesta-pesta, terutama dalam pesta rakyat. Jumlah penari dalam tari Lumense ini adalah 12 orang perempuan, sehingga tarian ini termasuk tarian kelompok perempuan. Dari semua para penari ini, 6 diantaranya berperan sebagai seorang laki-laki dan 6 penari lainnya berperan sebagai perempuan.

5. Tari Galangi

Tari Galangi merupakan tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kepulauan Buton Raya. Tarian ini merupakan Tari Perang dalam Kesultanan atau Kerajaan Buton. Tari Galangi adalah bentuk ungkapan dan juga spontanitas gerakan dalam bentuk seni tari yang mewujudkan bagaimana pemakaian gala dalam menghadapi musuh. Pada waktu damai tarian ini merupakan kelengkapan kebesaran, keagungan, dan juga kemulian Sultan. Tari Galangi dimainkan untuk mengiringi Sultan ketika keluar istana di dalam suatu tugas ataupun untuk menyambut dan mengantar tamu Kesultanan.

Tarian Galangi umumnya terdiri dari 11 kelompok, setiap kelompok biasanya akan terdiri dari 7 orang. Di zaman dahulu kelompok tersebut bertugas dalam mempertahankan Kesultanan atau Kerajaan jika ada serangan dari luar. Jika dalam keadaan aman, maka masing-masing kelompok tersebut memiliki tugas yang berbeda-beda. Dalam pertunjukannya, para penari akan memakai busana Pakaian Sala Kaitela (Celana Puntung). Selain itu para penari juga akan membawa properti seperti Gala (Tombak), Tombi Makuni (Bendera Kuning), Tombi Male’i (Bendera Merah), dan Tamburu (Genderang).

6. Tari Mangaru

Tari Mangaru merupakan tari tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tenggara, tepatnya di Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Tarian ini menggambarkan keberanian dari kaum laki-laki pada zaman dahulu di medan peperangan, dimana tarian ini bercerita mengenai 2 orang laki-laki yang sedang di dalam medan peperangan. Para penari yang memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana ke 2 laki-laki yang saling beradu kekuatan dengan memakai sebilah keris yang dipegang.

Dalam pertunjukannya, Tari Mangaru akan diiringi oleh beberapa alat musik tradisional khas Sulawesi Tenggara yaitu Mbololo (gong), kansi-kansi, dan 2 buah gendang yang terbuat dari bahan dasar kulit binatang. Untuk musik yang mengiringi, biasanya bertempo cepat dan disesuaikan dengan semangat para penarinya. Tari Mangaru umumnya dipertunjukan diberbagai upacara dan diacara-acara yang banyak melibatkan orang. Tarian ini menjadi ajang berkumpul semua orang kampung. Tetapi sayang, saat ini Tari Mangaru sudah sangat jarang ditemukan dan bahkan sudah tidak pernah dipentaskan lagi.




Patut Kamu Baca:

Artikel Terkait