Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

13+ Tari Tradisional Asal Lampung serta Penjelasan + Gambar

Tarian Daerah Lampung. Seni adalah produk dari tradisi budaya yang bernilai tinggi, sehingga seni yang baik dapat menentukan keberlanjutan nilai budaya dalam masyarakat. Lampung merupakan salah satu daerah yang memiliki seni yang sangat beragam.

Selain seni sastra yang pernah berkembang, musik klasik Lampung yang sudah bertahan Lama , Provinsi Lampung juga kaya tari. Sebagian besar hiburan tari, ada tari yang berfungsi sebagai resepsi. Sementara itu, ada juga beberapa dengan nuansa tari yang kuat dan sakral.Tarian daerah Lampung sangat banyak jumlahnya dan kebanyakan penarinya adalah Meghanai (bujang) dan Mulei (gadis). Dalam artikel ini telah disajikan daftar tarian Lampung. Tidak mencakup semuanya,


Nah, langsung saja simak beberapa Tari Tradisional Provinsi Lampung beserta penjelasan dan gambarnya di bawah ini. Semoga bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kamu selepasnya.

Tari Tradisional Lampung dan Penjelasan


1. Tari Cangget - Tari Tradisional Lampung



Tari Cangget merupakan salah satu tari tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Lampung beradat pepadun. Pada tahun 1942 sebelum kedatangan Jepang ke Indonesia, Tari Cangget ditampilkan untuk acara gawi adat, seperti saat panen raya, upacara mendirikan rumah ataupun untuk mengantar orang yang akan pergi haji.Namun sekarang Tari Cangget sering digunakan untuk mengiringi upacara perkawinan yang didalamnya terdapat pula pemberian gelar adat atau naik pepadun. Upacara naik pepadun memiliki makna dan filosifi yang luhur. Dimana seorang yang sudah diberi gelar diharapkan dapat dan mampu menjalankan kewajibannya dan menjadi panutan di lingkungannya.

Tarian Cangget yang menjadi ciri khas orang Lampung terdiri dari beberapa macam, seperti Tari Cangget Nyamuk Temui adalah tarian yang dibawakan oleh para pemuda dan pemudi dalam upacara menyambut tamu agung yang berkunjung ke daerahnya. ; Tari Cangget Bakha adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi pada saat bulan purnama atau selesai panen (Pada saat upacara panen raya). ; Tari Cangget Penganggik adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat menerima anggota baru. ; Tari Cangget Pilangan adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi saat mereka melepas salah seorang anggota yang menikah dan pergi ke luar desa, mengikuti istri atau suami. ; Tari Cangget Agung adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat upacara adat pengangkatan seorang menjadi Kepala Adat (Pepadun).

Walaupun Tari Cangget terdiri dari berbagai macam, namun Tari Cangget pada dasarnya mempunyai gerakan-gerakan yang relatif sama, seperti Gerak Sembah (Sebagai pengungkapan rasa hormat) ; Gerakan Knuimelayang (Lambang Keagungan) ; Gerakan Igel (Lambang Keperkasaan) ; Gerakan Ngetir (Lambang keteguhan dan kesucian hati) ; Gerakan Rebah Pohon (lambang kelembutan hati) ; Gerakan Jajak/ Pincak (Lambang kesiagaan dalam menghadapi marabahaya) ; Gerakan Knuitabang (Lambang rasa percaya diri).



2. Tari Bedana - Tari Tradisional Lampung

Tari Bedana merupakan salah satu tarian tradisional zapin melayu dari daerah Lampung. Tari bedana biasa dibawakan oleh pemuda-pemudi Lampung dalam acara tertentu sebagai ungkapan rasa gembira. Tari Bedana memiliki ciri khusus pada adat Lampung Pepadun maupun adat Lampung SaibatinTari Bedana merupakan tarian daerah yang dipercayai berkembang dari ajaran agama Islam dan merupakan tarian tradisional yang menggambarkan kehidupan dan budaya melayu masyarakat Lampung yang ramah dan terbuka. Pada awal mulanya, Tari Bedana dilakukan dengan dua laki-laki berpasangan dan berkelompok saja. Tari Bedana pada mulanya akan dimainkan saat salah seorang anggota keluarga ada yang khatam Al-Quran. Namun seiring perkembangan zaman, Tari Bedana dapat dimainkan atau dilakukan antara laki-laki dan perempuan secara berpasangan maupun berkelompok. Tari Bedana menggambarkan kehidupan masyarakat Lampung yang bersahabat dan beragama.


3. Tari Melinting – Tari Tradisional Lampung


Tari Melinting adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Lampung. Tarian ini merupakan tarian klasik peninggalan Kerajaan Melinting yang ada di Lampung Timur. Tari Melinting tergolong tarian tertua yang pernah ada di sana, karena diperkirakan tarian ini sudah ada sejak masuknya agama Islam di Indonesia, khususnya di daerah Lampung sendiri. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dan penari wanita. Dan sering ditampilkan di berbagai acara baik acara adat maupun acara budaya yang diselenggarakan di sana.

Tarian melinting ini awalnya difungsikan sebagai tarian yang bersifat sakral dan hanya ditampilkan pada acara gawi adat kerajaan saja. Namun seiring dengan perkembangannya, tarian ini kemudian difungsikan sebagai tarian pertunjukan yang sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan, acara budaya dan acara besar lainnya. Tarian ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat atas apa yang mereka dapatkan. Selain itu setiap gerakan dalam Tari Melinting ini tentu memiliki makna dan filosofi tersendiri di dalamnya.


4. Tari Sigeh Pengunten – Tari Tradisional Lampung

Tari sigeh pengunten (siger penguntin) merupakan salah satu tari kreasi baru dari daerah Lampung. Tari ini merupakan pengembangan dari tari sembah yang merupakan tari tradisi asli masyarakat Lampung. Melalui Peraturan Daerah, tari sigeh pengunten diresmikan sebagai tarian Lampung dalam penyambutan tamu penting. Koreografi tari ini juga mengambil unsur dari berbagai tari tradisional Lampung untuk merepresentasikan budaya Lampung yang beragam.

Tari sembah telah umum ditampilkan sebagai bagian dari ritual penyambutan tamu dalam acara-acara resmi seperti prosesi pernikahan. Tari ini menggambarkan ekspresi kegembiraan atas kedatangan para tamu undangan. Selain itu, makna esensial dari tari ini merupakan bentuk penghormatan kepada para tamu undangan yang hadir. Dalam tari ini, para penari mengekspresikan hal tersebut dalam rangkaian gerakan yang luwes, ramah, dan penuh kehangatan.

Proses lahirnya tari sigeh pengunten tak lepas dari realitas budaya Lampung yang terdikotomi menjadi Pepadun dan Peminggir. Kedua adat yang memiliki kekhasan tersendiri sama-sama merasa paling layak merepresentasikan Lampung. Tari sigeh pengunten merupakan sintesis dari dua indentitas kebudayaan yang ada di Lampung. Tari ini menyerap gerak tarian baik dari adat Pepadun maupun adat Peminggir menjadi satu kesatuan yang harmonis dan dapat diterima masyarakat luas


5. Tari Merak – Tari Tradisional Lampung



Merak yaitu binatang sebesar ayam, bulunya halus dan dikepalanya memiliki seperti mahkota. Kehidupan merak yang selalu mengembangkan bulu ekornya agar menarik burung merak wanita menginspirasikan R. Tjetje Somantri untuk membuat tari Merak ini. Dalam pertunjukannya, ciri bahwa itu adalah terlihat dari pakaian yang dipakai penarinya memiliki motif seperti bulu merak. Kain dan bajunya menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak; hijau biru dan/atau hitam.Ditambah lagi sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau ekor merak yang sedang dikembangkan. Gambaran merak akan jelas dengan memakai mahkota yang dipasang di kepala setiap penarinya.

Tarian ini biasanya ditarikan berbarengan, biasanya tiga penari atau bisa juga lebih yang masing-masing memiliki fungsi sebagai wanita dan laki-lakinya. Iringan lagu gendingnya yaitu lagu Macan Ucul.Dalam adegan gerakan tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan.

Tari Merak adalah tarian adat asli dari daerah lampung. Tari merak ini merupakan tarian daerah yang dipertunjukkan untuk penyambut gelar adat lampung. Kostumnya yang berwarna warni sangat mencerminkan ciri khas burung merak, yang paling menarik perhatian adalah bagian sayapnya yang dipenuhi dengan payet dan dapat dibentangkan oleh sang penari.  Dan mahkota yang berhiaskan kepala merak yang disebut singer akan bergoyang-goyang setiap penari menggerakkan kepalanya.



6. Tari Sembah - Tari Tradisional Lampung 

Tarian asal Provinsi Lampung selanjutnya adalah Tari Sembah. Seperti halnya pada daerah yang lain, Lampung juga memiliki tari penyambutan yang khas dan tersohor, bernama Tari Sembah, dipergunakan untuk menyambut tamu atau tokoh terhormat yang berkunjung.

Tidak sampai disitu. Tarian ini juga diperagakan saat upacara selamatan Maras Taon dan Resepsi pernikahan. Ketika ditampilkan, terlihat jelas nuansa kebahagiaan dan keceriaan dari para penari, yang dibawakan oleh beberapa wanita dengan busana khas budaya Lampung.

Dalam tarian ini, diperlihatkan pula atraksi bernama tabur beras kunyit, yang menjadi simbol do’a dan harapan akan keselamatan kepada tamu yang hadir. Tari Sembah ini sudah tersohor dan dikenal secara nasional, bahkan Internasional.



7. Tari Tupping - Tari Tradisional Lampung

Tari Tuping atau Topeng adalah jenis tarian yang berkembang sejak zaman perlawanan Pangeran Raden Inten II di daerah Penengahan Lampung Selatan . Tuping yang dikenakan merupakan sebuah ungkapan penyembunyian identitas asli pemakainya sewaktu melaksanakan tugas pada masa melawan penjajah Belanda di kaki Gunung Rajabasa. Hingga kini tari tuping terus dilestarikan dan bahkan dalam kegiatan kegiatan di Lampung Selatan tari tuping ini selalu disajikan. Jika dilihat sekilas maka akan terlihat jelas para penari tersebut menggunakan berbagai atribut diantaranya tombak dari bambu, rumbai rumbai yang beberapa dantaranya bahkan menggunakan daun daun kering yang sejarahnya merupakan pakaian untuk kamuflase.

Tarian ini kini dilestarikan dan menjadi salah satu kekayaan tradisi di Lampung dan Lampung Selatan khususnya yang merupakan warisan historis perjuangan masyarakat Lampung Selatan. Tak salah jika di Kabupaten Lampung Selatan berdiri dengan kokoh tugu tuping yang ada di pertigaan jalan menuju ke area kantor Pemerintahan Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda.


8. Tari Sekura - Tari Tradisional Lampung

Sekura umumnya ditampilkan dalam tarian topeng pada pesta adat sekuran atau sekuraan yang diadakan setiap awal bulan Syawal. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur, sukacita dan perenungan terhadap sikap dan tingkah laku.

Dalam tarian topeng, sekura dibagi menjadi beberapa karakter menurut penokohannya, yaitu: sekura anak, sekura tuha, sekura kesatria, sekura cacat, sakura raksasa, dan sekura binatang. Namun, dari enam jenis penokohan tersebut sekura secara umum dapat dikategorikan menjadi dua jenis. Jenis yang pertama disebut sekura kecah yang artinya sekura bersih. Sekura ini sering disebut juga sekura betik atau sekura helau.

Sesuai dengan namanya, sekura kecah mengenakan kostum yang bersih dan rapi. Sekura kecah khusus diperankan oleh menghanai (laki-laki yang belum beristri). Sekura ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta. Mereka berkeliling pekon (dusun) untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaan. Selain itu, sekura ini juga berfungsi sebagai pengawal sanak saudara yang menyaksikan atraksi topeng. Mereka membawa senjata pusaka-kini simbolis saja, sebagai simbol menjaga gadis atau muli bathin (anak pangeran) yang menyaksikan pesta topeng agar terhindar dari sekura kamak yang jahat. Mereka juga menunjukkan kemewahan dan kekayaan materi yang dapat terlihat dari selendang yang dikenakannya. Secara simbolis banyaknya selendang mengartikan sekura itu adalah meghanai yang baik.

Sedangkan, sekura kedua disebut sekura kamak yang artinya sekura kotor atau sekura jahat. Busana yang dikenakan tidak hanya pakaian sehari-hari yang digunakan dalam menggarap kebun, tetapi dapat juga dari segala jenis tumbuhan yang diikatkan di tubuh. Sekura kamak tidak hanya digunakan oleh meghanai, tetapi bisa juga dibawakan oleh pria yang sudah beristri. Mereka berfungsi sebagai penghibur dalam sekuraan.

Sekuraan ini berkeliling kampung untuk kemudian singgah ke rumah-rumah penduduk. Masyarakat yang dikunjungi wajib menyediakan makanan dan minuman yang diperuntukkan sekura yang datang ke rumahnya. Dalam pesta sekuraan ini, kadang ditampilkan atraksi pencak silat (silek), nyambai ( menyanyikan bait-bait pantun yang diiringi dengan tetabuhan terbangan (rebana) satu. Pantun ini biasanya ditujukan pada muli (gadis).


9. Tari Halibambang – Tari Tradisional Lampung

Tari Halibambang adalah merupakan tarian keluarga Lampung Sekala Brak yang beradat Sai Batin dan hanya dapat dipentaskan oleh lingkungan keluarga Sekala Brak di tempat yang tertutup,tidak boleh ditarikan oleh sembarangan orang pementasanya pun hanya terbatas pada saat acara Nyambai adat dalam adat Lampung Sekala Brak saja.Personil penarinya puin hanya terbatas pada putri keluarga Lampung Sekala Brak yang funsinya sebagai tari hiburan keluarga.Fungsi tari Halibambang sekarang tidak lagi mutlak sebagai tarian keluarga adat Lampung saja,tetapi sudah diperbolehkan tarian ini dipentaskan di tempat terbuka serta tarian ini berfungsi sebagai tarian hiburan lepas atau sebagai tarian penyambut tari Lampung


10. Tari Nyambai – Tari Tradisional Lampung

Tari Nyambai adalah tari kelompok berpasangan yang dilakukan oleh gadis (muli) dan bujang (mekhanai) sebagai ajang pertemuan atau ajang silahturahmi untuk mencari jodoh. Sebagai tarian adat pada masyarakat saibatin (pesisir), kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian upacara perkawinan yang disebut dengan upacara Nayuh/Penayuhan. Nyambai adalah acara pertemuan khusus yang diselenggarakan untuk Meghanai (bujang) dan Muli (gadis) sebagai ajang silaturahmi, berkenalan, dengan menunjukkan kemampuan dalam menari

Tari Nyambai diperkirakan lahir bersamaan dengan kebiasaan masyarakat untuk meresmikan gelar adat, pelaksanaanya diselenggarakan bersamaan dengan upacara perkawinan. Nama Nyambai sendiri diambil dari kata Cambai dalam Bahasa Lampung berarti Sirih. Sirih merupakan simbol keakraban bagi masyarakat Lampung pada umumnya.


11. Tari Piring Duabelas – Tari Tradisional Lampung

Tari Piring Duabelas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat. Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting. Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau.

Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.Tari Piring 12 muncul saat Kerajaan Semaka dan dikembangkan menjadi empat macam tarian.
a.Tari Piring Biasa (Asli), dibawakan oleh bujang gadis (mulei mekhanai)
b.Tari Piring Buha (Buaya), dibawakan oleh mekhanai
c.Tari Piring Maju Ngekkes (Pengantin), dibawakan oleh mulei
d.Tari Piring Duabelas yang ditarikan oleh mulei/mekhanai

Kemudian Kerajaan Semaka bergeser lagi ke daerah pinggir pantai yang bernama Teluk Benawang.Agar lebih mudah untuk membayar upeti dalam proses perdagangan. Lalu kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Benawang. Benawang sendiri memiliki arti uang yang banyak dan bertebaran.Di Kerajaan Benawang inilah terciptanya 12 bandar.

Tari piring adalah tarian sang ratu yang ditarikan dikala menyambut para ulu balak dari medan laga atau medan perang. Sang ratu memberikan suguhan kepada ulu balak berupa tarian sebagai ungakapan rasa gembira. Sang ratu berasal dari Kerajaan Paksi Marga Benawa.
Tari piring diperkirakan mulai ditarikan sebelum agama islam masuk ke Indonesia. Adapun disebut piring 12 sebab, paksi marga benawang mempunyai 12 bandar, dari setiap bandar mempunyai ulubalang - ulubalang dan setiap ulubalang pasti mempunyai pasukan perang.


 Tari Piring Duabelas mempunyai dua warna berbeda yang membedakan antara pangeran dan masyarakat. Warna kuning biasanya digunakan di sebelah kanan,warna ini milik pangeran/ratu. Sedangkan warna putih biasannya dikenakan di sebelah kiri, warna ini milik masyarakat Saibatin/pemilik adat. Dua piring yang dibawa oleh sang ratu atau penari juga memiliki makna, yaitu melambangkan bahwa dalam segala sesuatu itu ada dua. Ada kalah ada menang, ada sedih ada senang.

Karena sekarang sudah tidak ada peperangan maka tari piring ditarikan saat acara panayuhan atau resepsi Sang Bujang & Sang Gadis. Tarian ini telah menjadi tradisi di kabupaten Tanggamus atau bisa dibilang tari pergaulan Masyarakat pesisir yang beradat saibatin.

12. Tari Bedayo Tulang Bawang  – Tari Tradisional Lampung

Bedayo Tulang Bawang merupakan tarian tradisional Lampung yang sakral yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-14. Istilah Bedayo merupakan pengucapan orang Menggala untuk menyebut budaya, sementara Tulang Bawang menunjuk pada nama daerah, yakni Kabupaten Tulang Bawang.

Dulu tari ini menjadi sarana pemujaan kepada para dewa. Setelah dibangkitkan kembali untuk dijadikan identitas budaya Tulang Bawang, kesenian ini lebih difungsikan sebagai tarian selamat datang. Tarian ini pernah dipentaskan saat HUT Kabupaten Tulang Bawang IX pada 8 Maret 2006.

Bedayo Tulang Bawang dibawakan oleh 12 penari putri yang menari dengan gerak dan busana yang sama. Tiga diantaranya membawa sesaji dan berada paling depan, sedangkan yang lain berada di belakang. Ada juga seorang putra pembawa payung. Musik klenongan tabuh Rajo Menggalo adalah pengiringnya.


13. Tari Hali Bambang  – Tari Tradisional Lampung

Tari Hali Bambang merupakan tarian khas Lampung yang merupakan warisan nenek moyang suku Lampung Sekala Brak. Di daerah Liwa, tarian ini diperkirakan telah ada sejak abad ke VI yakni pada masa keadatan Lampung Sekala Brak.

“Hali” berarti seperti dan Bambang berarti kupu-kupu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Halibambang merupakan tarian yang menggambarkan kupu-kupu yang sedang beterbangan, mengibas-ibaskan sayap di alam bebas atau berayun-ayun di bunga-bunga.

Hali Bambang merupakan salah satu contoh tarian adat Lampung yang dulunya hanya diperagakan di lingkungan keluarga Sekala Brak. Seiring perkembangan, tarian ini boleh dipentaskan di tempat terbuka sebagai tari hiburan atau tari penyambutan.

Penelusuran yang terkait dengan Tari Tradisional LAMPUNG
  • 20 tarian lampung
  • 10 tarian lampung
  • nama tari tarian yang berasal dari lampung
  • tari merak lampung
  • tarian adat banten
  • pakaian adat lampung
  • kesenian adat lampung
  • adat provinsi lampung

Post a comment for "13+ Tari Tradisional Asal Lampung serta Penjelasan + Gambar"

Loading...
loading...