Monday, 23 July 2018

Keris Yang Terkenal Dan Melegenda Di Indonesia

View Article


Cintaindonesia.web.id - Kebudayaan di nusantara terutama di Pulau Jawa sejak zaman dahulu kerajaan tidak dapat dipisahkan dari senjata tradisional yang bernama Keris. Berikut 5 keris yang terkenal di Indonesia dan keberadaannya masih melegenda hingga saat ini:

1. Keris Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring merupakan senjata pusaka yang terkenal di dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari yang saat ini berada di Malang, Provinsi Jawa Timur. Keris ini terkenal dikarenakan kutukannya yang memakan korban dari para kalangan elit Singasari termasuk para pendiri dan pemakainya, yaitu Ken Arok. Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang terkenal sangat sakti, yaitu Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok.

Setelah selesai menjadi senjata keris dengan bentuk dan wujud yang sangat sempurna bahkan mempunyai kemampuan supranatural yang konon katanya melebihi keris pusaka dimasa itu. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dengan menusukannya kepada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji. Di dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring pun mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa 7 turunan dari Ken Arok. Di dalam perjalanannya, keris tersebut terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan terhadap elit kerajaan Singhasari, yaitu Tunggul Ametung, Anusapati, Ken Arok dan keturunan Ken Arok.

2. Keris Kyai Setan Kober

Keris Kyai Setan Kober merupakan nama keris milik dari Adipati Jipang, yaitu Arya Penangsang. Keris ini dipakainya pada saat perang tanding melawan Sutawijaya. Suatu saat ketika tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung dari Arya Penangsang, sampai ususnya terburai. Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya tersebut di wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip dibagian pinggangnya, dan terus bertempur.

Saat berikutnya, Sutawijaya pun terdesak hebat dan kesempatan itu kemudian dipakai oleh Arya Penangsang untuk segera menuntaskan perang tanding tersebut dengan cara mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar mata keris Kyai Setan Kober tersebut langsung memotong ususnya yang disangkutkan dibagian wrangkanya. Ia pun tewas seketika.

Sutawijaya pun terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan ususnya yang terburai dan menyangkut dihulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan supaya anak laki-lakinya jika nanti menikah untuk meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus tersebut dengan rangkaian atau ronce bunga melati, dengan begitu maka si pengantin pria akan nampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap dipakai sampai saat ini.

3. Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten

Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten merupakan 2 benda pusaka peninggalan dari Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur keris luk 13 dan ada juga yang luk-nya berjumlah 9 dan 11, sehingga penyebutan dari nama dapur ini harus disertai dengan mengatakan jumlah luk-nya. Bagian gandik keris ini diukir dengan bentuk kepala naga, sedangkan pada badannya digambarkan dengan sisik yang halus mengikuti luk ditengah bilah hingga ke ujung keris.

Salah satu pembuat keris dengan dapur Nagasasra terbaik adalah karya dari empu Ki Nom, yaitu seorang empu yang sangat terkenal dan hidup di akhir zaman kerajaan Majapahit hingga di zaman pemerintahan Sri Sultan Agung Anyokrokusumo di Mataram. Dapur Sabuk Inten sendiri juga seperti dapur Nagasasra, yaitu memiliki luk 13 namundengan cirinya yang berbeda, yakni memiliki lambe gajah, kembang kacang, sogokan, dan greneng.

4. Condong Campur

Condong Campur merupakan salah satu keris pusaka milik dari Kerajaan Majapahit yang banyak disebut di dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama "Kanjeng Kyai Condong Campur". Konon katanya, keris pusaka ini dibuat secara beramai-ramai oleh 100 orang mpu. Bahkan bahan untuk pembuatan keris ini diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris pusaka ini menjadi keris yang sangat ampuh namun mempunyai watak yang jahat.

5. Keris Taming Sari

Di ceritakan pemilik asal dari keris ini merupakan pendekar atau hulu balang kerajaan Majapahit yang bernama "Taming Sari". Keris ini kemudian bertukar tangan kepada hulubalang Melaka yang sudah berjaya dalam membunuh Taming Sari bernama Hang Tuah. Perpindahan dari kepemilikan keris ini terjadi dalam suatu duel keris yang sangat luar biasa diantara Taming Sari dan Hang Tuah, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Hang Tuah.



Patut Kamu Baca:

Tari Gabor, Tarian Tradisional Dari Bali

View Article
Tari Gabor, Tarian Tradisional Dari Bali

Cintaindonesia.web.id - Tari Gabor merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Bali. Tarian ini diciptakan pada tahun 1969 oleh I Gusti Raka yang berasal dari Saba. Tari Gabor bisa dikatakan mempunyai kemiripan dengan Tari Pendet, yaitu salah satu tarian tradisional dari Bali. Mulai dari asal-usul tari (awalnya tari sakral), jenis tari, tata rias dan properti yang dibawa ketika menari. Hanya saja pembendaharaan atau variasi gerak di dalam Tari Gabor ini lebih banyak diambil dari gerak-gerak tari upacara, seperti Tari Rejang.

Tari Gabor pada awalnya hanya ditujukan untuk acara religius atau kegiatan sakral. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Tari Gabor ini dikatakan sejenis dengan Tari Pendet. Karena dahulunya Tari Pendet ini juga merupakan salah satu tari sakral pada awalnya, yaitu menggambarkan penyambutan atas turunnya dewa-dewi. Selain alasan itu, baik itu Tari Gabor maupun Tari Pendet yang awalnya ditujukan untuk acara religius, saat ini beralih menjadi salah satu tari penyambutan.

Menurut penggolongan jenis tari, Tari Gabor ini termasuk ke dalam jenis tari kreasi modern. Selain itu, Tari Gabor ini juga bisa digolongkan ke dalam jenis tari pertunjukan bila ditinjau dari segi fungsinya. Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok sekelompok wanita atau remaja putri.

Masing-masing penari akan membawa bokor yang penuh berisi bunga sebagai propertinya. Mengingat Tari Gabor ini termasuk salah satu tari penyambutan, maka busana digunakan pada umumnya adalah berwarna yang cerah dengan pola lantai yang disesuaikan dengan kreasi dari masing-masing pelatih atau dari kesepakatan para penarinya sehingga akan terlihat rapi dan indah. Pada akhir tarian ini, para penari akan menaburkan bunga ke arah penonton.



Patut Kamu Baca:

Sejarah Angklung, Alat Musik Tradisional Jawa Barat

View Article
Inilah Sejarah Angklung, Alat Musik Tradisional Jawa Barat

Cintaindonesia.web.id - Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Kata angklung berasal dari 2 kata bahasa Sunda, yakni "angkleung-angkleung" dan “klung”. Angkleung-angkleung artinya adalah diapung-apung, sedangkan klung adalah suara yang dihasilkan oleh alat musik ini. Dengan kata lain angklung artinya adalah suara "klung" yang dihasilkan dengan cara mengangkat atau mengapung-apungkan alat musik ini. Terdapat teori lain yang menyebutkan bahwa angklung ini berasal dari 2 kata di dalam bahasa Bali, yakni “angka” dan “lung”. Angka artinya adalah nada, sedangkan lung artinya hilang. Sehingga angklung bisa diartikan sebagai nada yang hilang.

Angklung merupakan alat musik yang terbuat dari beberapa pipa bambu dengan berbagai macam ukuran yang dilekatkan di sebuah bingkai bambu. Cara memainkan alat musik tradisional angklung ini adalah satu tangan memegang bagian atas angklung dan tangan lainnya memegang bagian bawah dari sisi lain angklung tersebut kemudian menggoyangkannya. Hal tersebut menyebabkan pipa-pipa bambu yang menyusun alat musik ini akan saling berbenturan dan menghasilkan suatu bunyi tertentu. Setiap satu alat musik angklung biasanya hanya akan menghasilkan satu buah nada. Berbeda ukuran angklung yang digetarkan atau digoyangkan, tentunya akan menghasilkan nada yang berbeda juga. Oleh sebab itu, dibutuhkan beberapa pemain angklung dakam menghasilkan melodi yang indah untuk didengar. Seorang pemain angklung umumnya bisa memainkan 2 atau 3 buah angklung.

Pada abad ke 12 sampai ke abad ke 16 ada Kerajaan Sunda di Nusantara, diperkirakan pada saat itulah awal mula dari sejarah alat musik angklung. Ketika itu rakyat dari Kerajaan Sunda mempercayai bahwa dengan memainkan alat musik angklung bisa membuat Nyai Sri Pohaci senang. Menurut kepercayaan, Nyai Sri Pohaci merupakan dewi kesuburan untuk rakyat Kerajaan Sunda. Nyai Sri Pohaci yang terpikat dengan alunan musik angklung akan turun dan tanaman apapun yang ditanam oleh rakyat saat itu menjadi subur.

Selain untuk mengundang Nyai Sri Pohaci, angklung juga digunakan untuk membangkitkan semangat untuk para prajurit yang sedang berperang. Oleh sebab itu, pemerintah Hindia Belanda dahulu pernah melarang alat musik angklung ini untuk dimainkan. Akibat larangan keras dari pihak pemerintah Hindia Belanda membuat para pemain angklung semakin berkurang.

Di dalam perkembangannya, permainan angklung ini selalu ada disetiap acara perayaan panen sebagai bentuk persembahan untuk Nyi Sri Pohaci. Seiring dengan berjalanya waktu, permainan angklung ini dijadikan sebagai arak-arakan pada setiap kali adanya perayaan. Bahkan alat musik angklung bisa menyebar tidak hanya di Jawa namun sampai ke seluruh dunia. Di awal abad ke 20, Thailand mengadopsi angklung ini sebagai misi kebudayaan antara Thailand dengan Indonesia. Bahkan angklung Buncis Sukaejo bisa ditemui di The Evergreen Stage Collage, yaitu universitas di Amerika Serikat.

Udjo Ngalagena sendiri yang dikenal sebagai tokoh dalm mengembangkan teknik angklung mengajarkan cara memainkan angklung pada banyak orang. Beliau juga membangun Saung Angklung Udjo di Bandung supaya semakin banyak orang yang mengetahui sejarah dari alat musik angklung dan seluk-beluknya. Saat ini Saung Angklung Udjo menjadi salah satu tempat wisata di Bandung Jawa Barat dimana setiap pengunjungnya bisa melihat sendiri proses dari pembuatan angklung hingga aksi panggung yang dipentaskan setiap minggunya.




Patut Kamu Baca:

Sunday, 22 July 2018

Surak Ibra, Kesenian Tradisional Dari Garut Jawa Barat

View Article

Cintaindonesia.web.id - Surak Ibra merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kesenian tradisional ini dikenal juga dengan sebutan Boboyongan Eson. Surak Ibra sudah lahir sejak pada tahun 1910 di kampung Sindang Sari. Kesenian tradisional Surak Ibra diciptakan oleh putra dari Raden Wangsa Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Papak, yaitu Raden Djajadiwangsa.

Menurut sejarahnya, surak Ibra lahir dari bentuk perlawanan masyarakat kepada pemerintah kolonial Belandaa atas kesewenang-wenangan di saat itu, dan sebagai eskpresi bentuk kegotong-royongan serta keinginan untuk mandiri. Hal itulah yang menyebabkan Surak Ibra ini dimainkan oleh sedikitnya 40 orang sampai 100 orang pemain. Adapun untuk alat musik yang dipakai adalah obor dari bambu, seperangkat dogdog, angklung, seperangkat gendang pencak, keprak dan kentongan bambu.

Selain itu, ada lagi versi lain mengenai kesenian Surak Ibra ini. Surak Ibra diciptakan oleh Pak Ibra, yaitu penduduk di Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Awalnya merupakan gabungan kesenian ngadu lisung, badeng, dan seni tepuk tangan. Namun hanya seni tepuk tangan sajalah yang dikembangkan, sebab ngadu lisung dan badeng sudah tidak dianggap lagi. Kesenian surak ibra versi Cibatu mempunyai keunikan tersendiri.

Di setiap pementasan Surak Ibra versi Cibatu biasanya akan ada unsur-unsur magic dikarena para pemainnya mengalami trance, atau tidak sadarkan diri sebab kerasukan. Pertunjukannya juga diawali dengan menyediakan sesaji dan harus disediakan sehari sebelumnya permentasan, dan alai-alas yang dipakai harus diberi mantra terlebih dahulu.

Surak Ibra umumnya dipagelarkan di event tertentu seperti pada saat memperingati hari jadi Kabupaten Garut, Jawa Barat. Saat ini kesenian surak ibra sudah langka dan masuk ke dalam agenda Balai Pengelolaan Taman Budaya Provinsi Jawa Barat. Hal ini dikarenakan sulitnya regenerasi dan derasnya arus globalisasi. Saat ini beberapa pewaris kesenian ini juga telah memasuki usia senja dan kesulitan untuk meremajakan kesenian ini.




Patut Kamu Baca:

Tari Puspanjali, Tarian Tradisional Dari Bali

View Article
Tari Puspanjali, Tarian Tradisional Dari Bali

Cintaindonesia.web.id - Tari Puspanjali adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Bali. Nama Puspanjali dari tarian ini sendiri berasal dari 2 kata, yaitu puspa dan anjali yang artinya adalah bunga dan menghormat. Sesuai dengan artinya, bahwa tari puspanjali adalah tarian penghormatan bagi para tamu.

Sejarah Tari Puspanjali

Tari Puspanjali merupakan tarian kreasi baru yang diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Badem, yaitu tepatnya pada tahun 1989. Selain dikenal sebagai pencipta daro tari puspanjali, N.L.N. Swasthi Wijaya Badem juga dikenal akan hasil karya tarian tradisional lainnya, seperti Tari Saraswati, Siwa Nataraja, Belibis, dan Tari Sekarjagad.

Dalam penggarapannya, N.L.N. Swasthi Wijaya Badem tidak sendirian dalam menyajikan koreografi tari puspanjali, tetapi beliau juga menarik seniman musik dari daerah Bali lainnya, yaitu I Nyoman Windha. Kolaborasi dari kedua seniman tersebut melahirkan keindahan dan estetika seni tari yang cukup terkenal sampai sekarang ini.

Kesadaran dari kedua seniman tersebut tentang keistimewaan Pulau Bali sebagai lokasi wisata dan berlibur bagi para wisatawan menumbuhkan jiwa kesenian mereka di dalam menciptakan sebuah karya seni yang bisa di turunkan kepada para generasi penerus dan dapat mendukung potensi wisata di Provinsi Bali.

Dari hal itulah di tahun 1989 tercipta sebuah seni tari yang menampilkan unsur gerakan lemah gemulai dan di bawakan oleh para penari putri. Biasanya tari tradisional yang mengedepankan gerakan keanggunan dan musik ini hanya dibawakan oleh kelompok penari yang jumlahnya antara 5 sampai 7 orang.

Gerakan Tari Puspanjali

Dalam pertunjukannya, gerakan tari puspanjali ini akan diawali dengan geleng kepala dan kemudian berjalan ditempat dengan kedua tangannya yang berada di depan dada. Gerakan tersebut merupakan salah satu gerakan sebagai bentuk sambutan selamat datang kepada para tamu. Gerakan yang melenggok dan memutar di dalam pertunjukan akan menambah keindahan dan menggambarkan keramah tamahan dari masyarakat Bali kepada para tamu.




Patut Kamu Baca:

Kuda Renggong, Kesenian Tradisional Dari Sumedang Jawa Barat

View Article


Cintaindonesia.web.id - Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Kata "renggong" pada nama kesenian ini merupakan metatesis dari kata "ronggeng" yang artinya adalah orang yang berprofesi sebagai penari. Karena istilah tersebut dipakai oleh hewan, maka kata "ronggeng" pun diubah dan menjadi kata "renggong" untuk sekedar membedakan antara maksud dan tidak disamakan dengan manusia.


Sejarah Kesenian Kuda Renggong

Berdasarkan sejarahnya, kesenian Kuda Renggong ini mulai muncul sekitar pada tahun 1910. Awalnya, Pangeran Aria Suriaatmaja berusaha untuk memajukan bidang peternakan dengan mendatangkan bibit kuda unggul dari pulau Sumba dan Sumbawa. Selain dipakai untuk alat transportasi bagi bangsawan, kuda juga sering dipakai sebagai pacuan kuda dan alat hiburan.

Sekitar padatahun 1880-an ada seorang anak laki-laki yang tinggal di Dusun Cikurubuk, Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua Sumedang, yaitu bernama Sipan dan merupakan anak dari Bidin yang lahir pada tahun 1870. Sipan memiliki kebiasaan mengamati tingkah laku kuda-kuda miliknya yang bernama "Cengek" dan "Dengkek". Dari pengamatannya tersebut, kemudian ia menyimpulkan jika ternyata kuda juga bisa dilatih untuk mengikuti gerakan-gerakan yang dihendaki manusia.

Lalu, ia pun mulai melatih kudanya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti gerak lari ke pinggir seperti ayam yang sedang birahi, lari melintang, melangkah cepat, gerak langkah pendek tetapi cepat, gerak kaki depan cepat, gerakan kaki seperti setengah berlari, dan serempak seperti gerakan yang biasa dilakukan di kuda pacu. Cara yang dipakai dalam melatih kuda supaya mau melakukan gerakan-gerakan tersebut yaitu dengan cara memegang tali kendali kuda dan mencambuknya dari bagian belakang kuda supaya mengikuti irama musik yang di perdengarkan. Latihan dilakukan selama berbulan-bulan dan rutin sampai kuda tersebut menjadi terbiasa ketika mendengar musik pengiring ia akan menari dengan sendirinya.

Melihat keberhasilan Sipan di dalam melatih kudanya tersebut membuat Pangeran Aria Surya Atmadja menjadi tertarik dan kemudian memerintahkannya untuk melatih kuda-kudanya yang didatangkan langsung dari Pulau Sumbawa. Dari melatih kuda milik Pangeran Aria Surya Atmadja itulah kemudian pada akhirnya Sipan dikenal sebagai pencipta kesenian Kuda Renggong. Sesudah Sipan meninggal dunia di usianya yang menginjak 69 tahun (1939), keahliannya melatih kuda menari tersebut diturunkan kepada putranya, yaitu bernama Sukria.

Pertunjukan Kesenian Kuda Renggong

Dalam pertunjukannya, kesenian kuda renggong ini biasanya akan dilaksanakan setelah anak yang disunat selesai di upacarai dan diberi doa. Anak yang telah disunat tersebut kemudian dinaikan ke atas Kuda Renggong dan diarak meninggalkan rumahnya yang berkeliling mengelilingi desa.

Pengiring Kesenian Kuda Renggong

Alat musik pengiring kesenian kuda renggong di desa pada umumnya cukup sederhana, seperti Kendang, Bedug, Gong, Genjring Kemprang, Ketuk, Terompet, dan Kecrek. Selain itu biasanya juga ditambah dengan alat-alat suara seperti ampli sederhana, speaker toa, dan mic sederhana. Sedangkan musik pengiring kesenian kuda renggong di acara festival, biasanya ditambah dengan peralatan musik seperti Keyboard Organ, Drum, Tamtam, Simbal, Terompet, Bass, dan lain sebagainya. Untuk musik pengiringnya, kesenian ini biasanya akan diiringi oleh tembang-tembang seperti Kaleked, Mojang Geulis, Ole-ole Bandung, Kembang Beureum, Kembang Gadung, Rayak-rayak, Jisamsu, dan lain sebagainya.

Perkembangan Kesenian Kuda Renggong

Dalam perkembangannya, saat ini kesenian kuda renggong tidak hanya sebagai pengarak anak sunatan dan pengantin saja, namun juga banyak digunakan sebagai pengiring dalam penyambutan para pejabat, seperti pengarakan kedatangan bupati. Kesenian kuda renggong ini juga terus berkembang di Kabupaten Sumedang dan bahkan sudah menjadi atraksi tahunan yang selalu digelar di setiap tanggal 29 September.

Kesenian tradisional ini sudah menjadi objek pariwisata khas Sumedang dan tidak dapat ditemui di daerah lainnya. Kesenian yang ditarikan oleh hewan yang pandai bergoyang, menari, dan bersilat ini sudah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan. Daya tarik dari atraksi seni kuda renggong ini terlihat pada keterampilan gerakan kepala, kaki, dan badan kuda yang mengikuti irama musik pengiringnya.




Patut Kamu Baca:

Saturday, 21 July 2018

Tari Wiranata, Tarian Tradisional Dari Bali

View Article
Tari Wiranata, Tarian Tradisional Dari Bali

Cintaindonesia.web.id - Tari Wiranata adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Bali. Tarian ini merupakan tari kreasi yang diciptakan oleh Nyoman Ridet pada tahun 1960. Tari Wiranata ini mengambarkan kesan gagah dari seorang penari serta cocok sekali dalam melukiskan seseorang yang punya pengaruh dan wibawa seperti seorang raja.

Dalam pertunjukannya, Tari Wiranata pada umumnya akan ditarikan oleh remaja putri, namun memungkinkan juga ditarikan oleh penari putra, baik itu dalam pementasan berkelompok (massal) maupun seorang diri (tunggal). Kesan keagungan akan tercermin dari gerakan tarian yang lincah, ekspresi wajah yang terkadang keras dan lembut, dan juga gerakan bola matanya (seledet) yang mencerminkan kewibawaan yang kental.

Semuanya tersebut dipadu menjadi gerakan yang utuh, sehingga akan terlihat sangat indah dengan estetika tinggi, dibalut dengan kostum berwarna cerah menjadi penampilannya begitu sempurna di mata para penikmat seni tari, sehingga tarian ini menjadi tontonan menarik dan menjadi hiburan wisata Pulau Bali di dalam wujud seni yang indah.

Dalam perkembangannya, meskipun di era sudah modern dan banyak tarian tradisional khas Bali yang mengalami perkembangan yang sulit, namun masih banyak pemerhati seni yang konsen dalam mengabdikan kehidupannya untuk mengapresiasi seni tari ini, termasuk juga pada Tari Wiranata ini yang merupakan tari kreasi yang masih berkembang dengan cukup baik. Bahkan untuk memotifasi para peminatnya juga kerap diadakan perlombaan dan dipertontonkan untuk lebih mengenalkan lagi kepada para generasi penerus.




Patut Kamu Baca:

Tari Terunajaya, Tarian Tradisional Dari Buleleng Bali

View Article
Tari Terunajaya, Tarian Tradisional Dari Buleleng Bali

Cintaindonesia.web.id - Tari Terunajaya adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Bali, yaitu tepatnya dari Buleleng. Tarian ini termasuk ke dalam kategori tari balih-balihan atau tari hiburan dan dapat dipentaskan dimana saja, seperti di halaman pura, di lapangan atau panggung yang tertutup atau terbuka, dan di tempat-tempat lainnya.

Sejarah Tari Terunajaya

Menurut sejarahnya, Tari Trunajaya ini merupakan tarian tradisional yang berasal dari Buleleng, Provinsi Bali. Pencipta dari tari Trunajaya adalah Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan lagi oleh I Gede Manik. Tarian ini di ciptakan pada tahun 1915 sebagai tarian hiburan yang bisa di nikmati pada saat perayaan tertentu.

Pertunjukan Tari Terunajaya

Dalam pertunjukannya, Tari Trunajaya ini termasuk tari putra keras yang biasa ditarikan oleh para penari putri. Tarian ini menggambarkan gerak-gerik dari seorang pemuda yang baru menginjak dewasa, dimana gerakannya menggambarkan prilaku dari seorang remaja yang penuh enerjik, emosional dan ulahnya senantiasa untuk memikat hati seorang gadis. Properti yang dipakai dalam tarian ini adalah berupa kepet atau yang saat ini sering disebut dengan kipas.

Kostum Tari Trunajaya

Dalam pementasannya, penari akan memakai kostum adat laki-laki inovatif dalam bentuk udeng-udengan, sehingga wajah dari penari tersebut nampak bagus. Nah berikut ini adalah tata busana yang dipakai pada Tari Trunajaya :
  1. Kamen atau kancut dengan warna unggu prada dan motif wajik, cara pemakaian dari kamen ini sama halnya seperti memakai kain bebancihan pada umumnya, yakni terdapat sisa kamen dibagian sebelah kiri yang nantinya akan digunakan sebagai kancut.
  2. Baju panjang berwarna unggu prada dengan motif mas-masan, Baju ini sebetulnya hampir sama dengan tari Legong Kuntul yakni menggunakan warna unggu, tetapi perbedaannya ada pada bagian motif. Pada Trunajaya umumnya akan memakai motif mas–masan, sedangkan pada Tari Legong Kuntul akan memakai motif bun-bunan.
  3. Sabuk berwarna kuning prada, pemakaian sabuk pada Tari Trunajaya ini sama halnya dengan pemakaian sabuk pada tari tradisional lain pada umumnya, yakni dililitkan di badan penari. Biasanya pemakaian sabuk ini dimulai dari bawah (pinggang) hingga bagian atas (dada).
  4. Memakai Ampok-ampok, Ampok-ampok yang digunakan pada Tari Trunaja ini sama dengan ampok-ampok yang digunakan pada tarian tradisional lainnya, yaitu dipakai dibagian pinggang penari.
  5. Memakai simping kulit, pemakaian simping ini sebenarnya sama seperti penggunaannya pada Tari Legong, yakni dipasang untuk menutupi bagian bahu kanan dan kiri.
  6. Tutup dada berwarna hitam, tutup dada ini umumnya akan dipasang diatas simping, yang berfungsi untuk mengikat simping supaya tidak lepas.
  7. Memakai badong, di dalam tarian ini penari akan memakai badong lancip dan cara pemakaiannya sama seperti tarian tradisional lainnya yakni dipasang dibagian leher penari.
  8. Memakai gelang kana atas, pemakaian gelang kana ini umumnya dipasang dibagian atas tangan, tepatnya di lengan.
  9. Memakai gelang kana bawah, pemakaian gelang kana ini biasanya akan dipasang dibagian bawah tangan, tepatnya di pergelangan tangan.
  10. Udeng, penggunaan udeng pada Tari Trunajaya ini tentunya sangat berbeda dari tarian tradisional lainnya. Penggunaanya dikemas dengan sedemikian rupa oleh penggarap sehingga memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dari lainnya.

Tata Rias Tari Trunajaya

Tata rias diperlukan pada tari trunajaya biasanya untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka namun sesuai dengan karakter tarian. Penari biasanya menggunakan rias pentas atau panggung, yaitu memakai celak mata berwarna kuning, merah dan biru serta pemakaian alisnya yang agak tinggi dari riasan penari putri dan memakai taling kidang. Untuk hiasan kepalanya, biasanya penari Tari Trunajaya akan memakai memakai udeng, satu bunga sandat, garuda mungkur (dibagian belakang),bunga kuping (bunga merah dan bunga putih), dan memakai rumbing

Iringan Musik  Tari Trunajaya

Musik seni tari bukan hanya sekedar sebagai iringan, namun juga merupakan patrner tari yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus benar-benar digarap supaya tercapai keharmonisan. Tari Trunajaya umumnya akan diiringi oleh gamelan Gong Kebyar. Lamanya waktu tarian sangat berpengaruh pada lamanya iringan musik. Tari Trunajaya bisa ditarikan dengan 2 waktu, yaitu dengan waktu pendek dan panjang.

Urutan Gerak Tari Trunajaya

Untuk gerakannya, umumnya tarian ini mempunyai rangkaian gerakan Pepeson, Pengawak, Pengecet, dan Pekaad. Berikut ini adalah urutan dari masing-masing rangkaian tersebut.

Pepeson

Rangkaian Pepeson di dalam tari Trunajaya diantaranya adalah :
  1. Berjalan ke depan dengan tangan kirinya memegang kancut, tangan kanan sirang susu dan memegang kipas
  2. Agem pokok Trunajaya (tangan kanan sirang susu dan tangan kiri mapah biu dengan jari-jari di tekuk kebawah)
  3. Sledet capung
  4. Ngoyod, sambil tangan kanan nabdab gelung
  5. Agem kanan dan agem kiri
  6. Nyerigsig, nyegut (tangan kanan nepuk dada dan tangan kiri sirang susu), sogok kanan-kiri, ngeseh, tayung kanan
  7. Nyegut kiri, (tangan kanan sirang susu dan tangan kiri nepuk dada), sogok kiri-kanan,ngeseh, tayung kanan
  8. Agem kanan, ngelayak
  9. Tanjek 2 kali dengan posisi tangan agem pokok
  10. Agem kanan, sledet
  11. Agem kiri (tangan kanan nepuk dada dan tangan kiri sirang susu), sledet
  12. Agem kanan (tangan kiri nepuk dada dan tangan kanan sirang susu), sledet
  13. Maju kaki kiri-kanan, putar penuh
  14. Ngeliput, agem kanan, ngeseh, sledet (2 kali)
  15. Ngenjet, nyeregseg, ngepik (arah pojok kanan)
  16. Gerakan tangan ke kanan-kiri diikuti mata nyeledet dan hentakan kaki, tangan ngeliput
  17. Ngangsel, ngeseh, ngepik, ngocok langse
  18. Ngegol di ikiti dengan mengambil kancut dan kipas ngeliput
  19. Tayog
  20. Agem kanan, kaki diangkat bergantian
  21. Milpil ke kanan dan ke kiri
  22. Buang kipas

Pengawak

Rangkaian Pengawak di dalam tari Trunajaya diantaranya adalah:
  1. Agem kiri Trunajaya
  2. Nyerigsig ke kanan, pindah agem kanan
  3. Tayog kanan kiri, ngenjet
  4. Nyeregseg kanan kiri, ngumbang
  5. Bersimpuh
  6. Tangan ke kanan ke kiri dengan kipas ngeliput, sledet (3 kali)

Pengecet

Rangkaian Pengecet di dalam tari Trunajaya diantaranya adalah:
  1. Berdiri sambil ngeliput, piles kiri-kanan, agem kanan
  2. Berjalan ke depan, tutup kipas, putar sambil membuka kipas
  3. Ambil kancut, kipas ngeliput, ngegol, sledet, mekecos, agem kanan, sledet (3 kali)

Pekaad

Rangkaian Pekaad di dalam tari Trunajaya diantaranya adalah:
  1. Ngenjet, nyeregseg kanan-kiri
  2. Ngumbang sambil memegang kancut
  3. Agem kanan, sambil memegang kancut




Patut Kamu Baca:

Tari Indang (Dindin Badindin), Tarian Tradisional Dari Sumatera Barat

View Article

Tari Indang (Dindin Badindin), Tarian Tradisional Dari Sumatera Barat

Cintaindonesia.web.id - Tari Indang atau yang biasa disebut dengan tari dindin badindin ini merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan masyarakat Minang, Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Tarian ini sebenarnya merupakan sebuah permainan alat musik yang dimainkan secara bersama-sama. Nama indang pada tarian ini sendiri berasal dari nama alat musik tepuk yang dipakai dan dimainkan pada tarian ini. Indang atau juga disebut dengan Ripai merupakan sebuah instrument yang dimainkan dengan cara ditepuk. Bentuknya menyerupai rebana namun berukuran lebih kecil.

Tari indang sendiri, saat ini sering mewakili Indonesia di dalam acara pagelaran kebudayaan internasional. Gerakan dinamis serta rancak yang muncul dari para penarinya membuat tari indang ini banyak diminati oleh masyarakat mancanegara. Nah, seperti apakah tari indang dari Sumatera Barat ini? berikut ini penjelasannya.


1. Sejarah Tari Indang

Menurut beberapa versi sejarahnya, tari indang ini sebenarnya merupakan buah percampuran antara kebudayaan Melayu dengan kebudayaan Islam di masa penyebaran agama Islam di abad ke-13. Tarian ini diperkenalkan oleh Syekh Burhanudin, yaitu seorang ulama Pariaman sebagai salah satu media dakwah.

2. Tema dan Makna Filosofi Tari Indang

Sebagai media dakwah, tari Indang ini mengandung beberapa elemen pendukung yang bernafaskan kebudayaan Islam. Tarian ini selalu disuguhkan bersama dengan iringan shalawat Nabi atau syair-syair yang mengajarkan tentang nilai-nilai keislaman. Tidak heran jika kemudian dimasa silam tari Indang ini justru lebih kerap ditampilkan di surau-surau. Adapun sampai saat ini, beberapa nagari di ranah Minang masih sering menyuguhkan tarian ini di dalam upacara Tabuik, yaitu upacara peringatan wafatnya cucu Rosululloh setiap pada tanggal 10 Muharram.

3. Gerakan Tari Indang

Sekilas, semua gerakan dari tari indang ini akan tampak seperti gerakan tari tradisional khas aceh, yaitu Tari Saman. Namun, jika diperhatikan lebih seksama lagi tari Indang ini justru cenderung lebih dinamis. Gerakan para penarinya lebih santai tetapi tetap rancak, terlebih jika dikolaborasikan dengan musik pengiringnya yang bernuansa Melayu.

Gerakan tari Indang Dindin Badindin ini umumnya diawali dengan pertemuan 2 kelompok para penari yang kemudian menyusun diri secara berbanjar dari kiri ke kanan. Mereka kemudian duduk bersila dan memperlihatkan gerakan-gerakan simetris yang tentunya sangat membutuhkan latihan yang cukup dan kerja keras.

4. Iringan Tari Indang

Tari Indang Dindin Badindin biasanya akan diiringi oleh 2 ragam bunyi, yakni bunyi yang berasal dari tetabuhan alat musik tradisional khas Melayu seperti gambus dan rebana, serta bunyi yang berasal dari syair-syair yang di nyayikan oleh seorang tukang dzikir. Tukang dzikir sendiri merupakan sebutan untuk seorang yang memandu tari melalui syair dan lagu yang di nyanyikannya.

Dalam perkembangannya, alat musik yang mengiringi tari Indang kini semakin beraneka ragam. Beberapa alat musik modern seperti piano, akordeon, dan beberapa alat musik tradisional lainnya juga sering ditemukan. Selain itu, syair lagu yang sering dinyanyikan juga saat ini juga hanya 1 jenis saja, yakni lagu Dindin Badindin karya dari Tiar Ramon.

5. Setting Panggung Tari Indang

Tari Indang hanya boleh ditampilkan oleh para penari pria saja. Hal tersebut sesuai dengan ajaran agama islam yang tidak memperkenankan para wanita mempertontonkan dirinya di khalayak umum. Tetapi aturan tersebut semakin ditinggalkan. Buktinya dari beberapa pementasan tari indang saat ini selalu ditampilkan oleh penari perempuan.

Jumlah penarinya sendiri beragam, namun yang sering ditemukan pada tarian ini ditampilkan adalah dengan penari berjumlah ganjil, seperti 7, 9, 11, atau 13 orang dengan satu atau dua orang akan bertindak sebagai tukang dzikir. Para penari tari Indang di dalam kebudayaan minang disebut dengan istilah "anak Indang".

6. Tata Rias dan Tata Busana Tari Indang

Untuk tata rias dan tata busana, tari indang ini tidak mempunyai banyak aturan. Yang jelas, khusus bagi para penarinya wajib memakai pakaian adat Melayu sebagai simbol dan juga identitas asal tarian tersebut. Sedangkan bagi tukang dzikir bebas memakai pakaian apapun asalkan sopan.

7. Properti Tari Indang

Di awal masa kemunculannya, tari indang ini wajib dilengkapi dengan indang, yaitu rebana kecil sebagai propertinya. Tetapi,saat ini properti tersebut kerap ditinggalkan dan digantikan fungsinya oleh lantai panggung yang bisa menghasilkan suara pada saat ditepuk.



Patut Kamu Baca:

Friday, 20 July 2018

Tari Yapong, Tarian Tradisional Dari Betawi Jakarta

View Article

Tari Yapong, Tarian Tradisional Dari Betawi Jakarta

Cintaindonesia.web.id - Tari Yapong merupakan tarian hiburan yang berasal dari masyarakat betawi Jakarta. Tarian ini merupakan tarian jenis tarian kontemporer yang melambangkan suka cita dan pergaulan masyarakat. Tarian Yapong kerap di pentaskan di berbagai macam acara atau pesta rakyat di DKI Jakarta.


Sejarah Tari Yapong

Menurut sejarahnya, Tari Yapong ini di mulai pada tahun 1977 pada saat acara ulang tahun kota Jakarta ke-450. Ketika itu acara yang di selenggarakan mengangkat tema mengenai perjuangan Pangeran Jayakarta dan mempercayakannya kepada seniman besar bernama "Bagong Kussudiarjo" sebagai penyelenggara acara tersebut. Dalam menyiapkan acara tersebut, Bagong melakukan penelitian terlebih dahulu mengenai kehidupan masyarakat Betawi. Di dalam penelitian tersebut bagong melakukan observasi secara langsung kepada masyarakat Betawi serta melakukan penelitian melalui perpustakaan, slide dan juga film mengenai masyarakat Betawi. Sampai pada akhirnya menjadi sebuah sendatari yang di pentaskan di Balai sidang senyan, DKI Jakarta di tanggal 20 juni 1977.

Tari Yapong sendiri merupakan suatu adegan di dalam sendratari tersebut, dimana para penari akan menari dengan riang gembira menyambut kedatangan Pangeran Jayakarta. Nama "yapong" pada tarian ini di ambil dari lagu yang mengiring para penari berbunyi "ya..ya..ya" dan suara musik pengiring yang terdengar seperti "pong..pong..pong". Tarian ini dianggap oleh masyarakat sebagai tarian yang menarik, sehingga di jadikan tarian lepas dan dikenal nama Tari Yapong.

Pertunjukan Tari Yapong

Gerakan di dalam Tari Yapong ini adalah gerakan yang sederhana tetapi sangat dinamis, yaitu deengan bertumpu pada gerakan kaki, tangan dan juga pinggul. Para penari menari dengan ekspresi riang gembira dengan memainkan tangan dan kaki secara bergantian, serta pinggul yang mengikuti gerakan tersebut. Gerakan di dalam Tari Yapong ini sangat bervariatif, namun dikarenaan tarian ini adalah tarian kontemporer, maka banyak kreasi gerakan di setiap pertunjukannya supaya terlihat sangat menarik.

Pengiring Tari Yapong

Dalam pertunjukannya, Tari Yapong akan diiringi oleh iringan musik tradisional Betawi seperti rebana hadroh, rebana biang, dan rebana ketempring. Tetapi seiring dengan perkembangannya, tarian ini juga diiringi oleh alat musik tradisional lain berupa gamelan untuk menghasilkan irama yang bersemangat, sehingga sesuai dengan gerakan dari para penari Tari Yapong.

Busana Tari Yapong

Untuk busananya, para penari akan memakai busana yang hampir sama dengan tari topeng Betawi. Busana yang digunakan umumnnya berwarna terang dengan tambahan kain batik khas betawi di bagian bawahnya. Selain itu para penari juga akan di hiasi oleh penutup kepala atau yang sering disebut dengan mahkota bunga dan selempang yang dipakai dibagian dada atau yang disebut dengan toka-toka.

Perkembangan Tari Yapong

Dalam perkembangannya, Tarian Yapong ini masih banyak di temukan di berbagai macam acara adat masyarakat betawi atau di acara pesta rakyat DKI Jakarta. Tarian ini juga masih terus berkembang dengan berbagai macam kreasi di dalam setiap pertunjukannya, supaya terlihat lebih menarik.




Patut Kamu Baca:

Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)

View Article


Cintaindonesia.web.id - Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang letaknya berada di ujung barat pulau Sumatera. Provinsi ini mendapat julukan serambi mekah dikarenakan adat kebudayaannya yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan agama Islam dari jazirah Arab. Salah satu kebudayaan tersebut dapat kita temukan pada tari tradisionalnya. Nah seperti apakah tari tradisional dari Provinsi Aceh tersebut? Berikut ini penjelasannya.



1. Tari Saman

Tari Saman, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Saman

Tari Saman adalah tarian dari suku Gayo (Gayo Lues) yang umumnya ditampilkan dalam merayakan peristiwa penting di dalam adat. Syair yang dipakai dalam Tari saman ini biasanya memakai bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu juga tarian ini ditampilkan untuk merayakan kelahiran dari Nabi Muhammad SAW. Menurut sejarahnya, Tari Saman dari Aceh ini dikembangkan dan didirikan oleh Syekh Saman, yakni seorang ulama besar yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.


2. Tari Bines

Tari Bines, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Bines

Tari Bines merupakan salah satu seni tari di Gayo Lues yang ditarikan hanya oleh sekelompok perempuan atau gadis. Tidak ada yang bisa mengartikan kata Bines itu sendiri. Bines sendiri disebut tari dikarenakan memiliki gerak ritmis yang mengikuti ekspresi jiwa para penarinya.

Berdasarkan koreografinya, Tari Bines ini termasuk tari kelompok. Berdasarkan pada pola garapannya, bines tergolong seni tari tradisi yaitu tari yang kehadirannya telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Bines telah mengalami perkembangan yang sudah cukup lama.


3. Tari Guel

Tari Guel, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Guel

Tari Guel adalah tarian tradisional yang berasal dari budaya masyarakat Gayo di Provinsi Aceh. Tarian ini cenderung sangat berbeda dengan tarian-tarian tradisional dari Aceh kebanyakan, terutama dari segi geraknya. Tari Guel ini memiliki gerakan yang sangat khas dan juga penuh makna, bahkan terkesan bernuansa magis. Sehingga tidak jarang membuat para penonton seakan seperti terhipnotis dan terbawa suasana pada saat menyaksikannya.

Tari Guel ini awalnya lebih difungsikan sebagai bagian dari upacara adat tertentu dikalangan masyarakat Gayo, baik itu secara ritual adat ataupun perayaan adat. Tarian ini kemudian mulai berkembang menjadi tarian pertunjukan, sebagai wujud pelestarian budaya.

4. Tari Laweut

Tari Laweut, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Laweut

Tari Laweut merupakan tarian yang ini berasal dari daerah Kabupaten Pidie diprovinsi Aceh. Dengan seiring perkembangan zaman, budaya tari ini menyebar keseluruh daerah di Provinsi Aceh. Tari Laweut ini sering disebut juga dengan Tari Seudati Inong, dikarenakan dari segi jumlah penari, gerakan-gerakannya, proses, pola tarian, dan teknik dari tarian ini sangat mirip seperti Tari Seudati.

Kedua tarian ini sama-sama ditarikan oleh 8 penari wanita dan 1 orang syahi (penyanyi) musik yang sekaligus memimpin gerakan penari lainnya. Yang membedakan dari kedua tarian ini yaitu kekhasan Tari Seudati menggunakan tepukan dada, sedangkan pada Tari Laweut menggunakan tepukan paha dan bukan dada.


5. Tari Ranup Lampuan

Tari Ranup Lampuan, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Ranup Lampuan

Ranup Lampuan merupakan visualisasi dari filosofi hidup masyarakat Aceh, yaitu menjunjung tinggi keramah-tamahan dalam menyambut para tamu. Gerakan demi gerakan yang ada dalam Ranup Lampuan ini menggambarkan prosesi memetik, membungkus, dan juga menghidangkan sirih kepada para tamu yang dihormati, sebagaimana dalam adat masyarakat aceh yang memiliki kebiasaan menghidangkan sirih kepada tamunya. Menilik karakteristik dari dasar tersebut, tari ini digolongkan ke dalam beberapa jenis tari adat atau upacara.


6. Tari Rateb Meuseukat

Tari Rateb Meuseukat, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Rateb Meuseukat

Tari Rateb Meuseukat adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh. Tarian ini umumnya ditarikan oleh para penari wanita dengan posisi duduk serta memainkan gerakan tangan yang sangat cepat sebagai ciri khasnya. Tarian ini sekilas hampir mirip dengan Tari Saman, tetapi yang membedakan adalah gerakan, syair lagu, pengiring, dan juga penarinya. 

Tari Rateb Meuseukat biasanya akan ditampilkan oleh para penari wanita. Untuk jumlah para penari, biasanya terdiri dari 6 sampai 12 orang penari dan 2 orang beperan untuk pelantun syair. Dalam pertunjukannya, para penari ini menggunakan busana adat dan juga menari dengan gerakan yang khas diiringi oleh musik pengiring dan sebuah lantunan syair yang dibawakan oleh para pengiring vocal atau pelantun syair.


7. Tari Seudati

Tari Seudati, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Seudati

Tari Seudati di percaya sebagai bentuk baru dalam Tari Ratoh atau Ratoih, yang merupakan sebuah tarian yang berkembang di daerah pesisir Aceh. Tari Ratoh atau Ratoih ini biasanya akan dipentaskan untuk mengawali permainan sabung ayam, serta di dalam berbagai ritus sosial lainnya, seperti menyambut panen dan juga sewaktu bulan purnama. Setelah Islam datang, terjadi proses sebuah akulturasi, dan menghasilkan Tari Seudati, seperti yang telah kita kenal hari ini.

Tarian ini awal mulanya berkembang di sebuah wilayah bernama Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, yang diasuh oleh Syeh Tam. Selanjutnya, tarian seudati ini berkembang juga di Desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, yaitu dibawah asuhan Syeh Ali Didoh. Dalam perjalanannya, tarian seudati ini cukup berkembang di Aceh Utara, Pidie, dan juga Aceh Timur, dan sampai saat ini bahkan dapat ditemui di seluruh daerah Aceh.


8. Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat merupakan salah satu tarian tradisional berasal dari daerah Aceh. Tarian ini biasanya dibawakan oleh sekelompok para penari wanita yang menari dengan menggunakan tali sebagai alat menarinya. Tari Tarek Pukat ini adalah tarian yang menggambarkan tentang aktivitas para nelayan di Aceh saat menangkap ikan di laut.


9. Tari Didong

Tari Didong, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Didong

Didong merupakan kesenian yang menyatukan beberapa unsur seni, seperti senu tari, vokal dan sastra. Pada awalnya tarian ini muncul saat  Abdul Kadir To’et, yaitu salah seorang seniman yang peduli dengan kesenian tradisional ini. Ketika itu kesenian ini banyak digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah. Kata "didong" pada kesenian ini mengandung arti "nyanyian sambil bekerja", ada juga yang berpendapat bahwa kata "didong" berasal dari suara musik yang seolah-olah mengatakan "din" dan "dong".


10. Tari Rapai Geleng

Tari Rapai Geleng, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Rapai Geleng

Tarian ini pada awalnya berasal dari Manggeng, yaitu salah satu daerah di Aceh Selatan. Tarian ini biasanya dibawakan oleh laki-laki. Dari syairnya, tarian tradisional ini bertujuan untuk menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan pertama kali tarian ini dikembangkan berawal dari tahun 1965 dimana Tari Rapai Geleng ini menjadi sebuah sarana dakwah. Sampai pada akhirnya menarik minat para penonton. Kata "Rapai" pada tarian ini berasal dari alat musik yang mirip dengan alat musik berupa gendang yang dipakai oleh penari. Sekarang dikenal dengan sebutan "rebana".


11. Tari Ula Ula lembing

Tari Ula Ula lembing, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Ula Ula Lembing

Tari Ula Ula Lembing merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Aceh Tamiang. Menurut dari beberapa pakar kebudayaan, asal usul dari tari ula ula lembing ini ditarikan dengan melingkar menyerupai ular dengan gerakan yang sangat lincah dan juga dinamis. Tarian ini pada umumnya ditarikan oleh 12 orang atau lebih dan kemudian berputar-butar ke sekeliling panggung seperti binatang ular.

12. Tari Ratoh Duek Aceh

Tari Ratoh Duek Aceh, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Ratoh Duek Aceh

Kata ratoh pada tarian ini diambil dari bahasa Arab yang artinya adalah Rateb, dan kata "duek" berasal dari bahasa Aceh itu sendiri yang artinya adalah duduk. Tari Ratoh Duek Aceh ini juga terkadang disebut dengan ratoh jaroe. Tarian ini menggambarkan makna yang diambil dari kehidupan sehari-hari, seperti keselarasan, kekompakan, sifat optimis, dan juga tegas. Hal tersebut terlihat dari harmoni para penari yang bertepuk tangan sesuai dengan irama.

13. Tari Pho

Tari Pho, Tarian Tradisional Dari Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam)
Tari Pho

Kata pho pada nama tarian ini berasal dari kata peubae, yang jika diartikan di dalam bahasa Aceh adalah seperti sebutan penghormatan. Tarian ini umumnya dibawakan oleh penari perempuan. Zaman dahulu tarian ini ditarikan sebagai simbolin jika orang tersebut sedang bersedih hati atau sedang berduka cita. Namun sesudah masuknya ajaran agama Islam di Aceh, tarian ini kemudian menjadi kesenian rakyat saja.




Patut Kamu Baca: