Monday, 10 September 2018

Tari Tumatenden, Tarian Tradisional Dari Provinsi Sulawesi Utara

View Article
Tari Tumatenden, Tarian Tradisional Dari Provinsi Sulawesi Utara

Tari Tumatenden adalahtarian tradisional yang diangkat dari cerita rakyat Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara. Dalam tarian ini menceritakan sebuah kisah cinta antara seorang petani dengan seorang bidadari. Cerita ini lalu dikemas dalam bentuk gerak tari yang khas dengan diiringi musik tradisional serta ditampilkan tanpa dialog. Tarian Tumatenden ini merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal dikalangan masyarakat Minahasa dan juga sering ditampilkan pada acara seperti pernikahan adat, pertunjukan seni dan acara festival budaya.

Asal Mula Tari Tumatenden

Tari Tumatenden merupakan tarian yang diangkat dari sebuah cerita rakyat Minahasa yang berlokasi di Airmadidi, Minahasa Utara. Dalam cerita ini menceritakan tentang seorang yang bernama Mamanua, yakni orang pertama yang tinggal disana dan dikenal sangat rajin serta ulet dalam mengolah kebunnya.

Pada suatu saat, dia kemudian menemukan tempat yang sangat indah dan juga subur di kaki Gunung Temporok yang saat ini bernama Klabet. Ditempat itu juga Mamanua bertemu dengan 9 (sembilan) bidadari dari khayangan yang sedang mandi di kolam, bahkan juga mengambil hasil perkebunan miliknya. Melihat keadaan tersebut Mamanua kemudian timbul niat untuk mencuri salah satu dari selendang yang digunakan oleh para bidadari tersebut untuk terbang. Ternyata selendang yang diambil oleh Mamanua tersebut milik si bungsu dari para bidadari yang namanya Lamalundung.

Kemudian Mamanua menemui Lamalundung dan juga membujuknya untuk menikah. Lamalundung pun kemudian menyetujuinya dengan suatu syarat dan lalu mereka menikah. Seiring dengan berjalannya waktu mereka kemudian dikaruniai anak yang bernama Walansendow. Namun disuatu saat perjanjian yang mereka sepakati ternyata harus berakhir, dan si Lamalundung pun harus meninggalkan Mamanua dan juga sang anak Walansendow. Kemudian Mamanua membuat sebuah kolam sembilan pancuran didekat kebunnya dengan harapan para bidadari dapat datang kembali dan mandi disana. Kolam sembilan pancuran ini kemudian dinamakan dengan Tumatenden.

Fungsi Dan Makna Tari Tumatenden

Menurut fungsinya, tarian ini lebih sering difungsikan sebagai pertunjukan atau hiburan bagi masyarakat. Gerakan didalam tarian ini menggambarkan sebuah kehidupan dalam cerita, sehingga bisa dimaknai bahwa setiap gerakan didalam Tari Tumatenden ini merupakan visualisasi dari cerita agar tarian ini terasa lebih hidup, mudah dimengerti dan dapat dinikmati dalam bentuk seni.

Pertunjukan Tari Tumatenden

Dalam Pertunjukan Tari Tumatenden biasanya akan dimainkan oleh 7 atau 9 orang penari wanita dan 1 orang penari pria. Penari pria dalam tarian ini akan berperan sebagai Mamanua dengan memakai kostum seperti petani. Sedangkan penari wanita akan berperan sebagai bidadari dengan memakai pakaian layaknya seperti bidadari serta mengenakan selendang yang digunakan dalam menari.

Dalam pertunjukan Tari Tumatenden ini biasanya diawali penari pria yang memasuki arena dan akan menari dengan gerakan yang menggambarkan kegiatan dari seorang pertani, seperti bertani dan memancing. Kemudian penari wanita memasuki arena dan menari didepan si penari pria dengan gerakan memainkan selendang yang menggambarkan keceriaan dari para bidadari pada saat turun ke bumi.

Setelah itu para penari wanita menaruh selendangnya dan kemudian dilanjutkan dengan gerakan yang menggambarkan para bidadari yang sedang mandi atau bermain air. Kemudian si penari pria mendatangi selendang tersebut dan lalu mengambil salah satu selendang dari para bidadari tersebut. Setelah selesai dengan gerakan mandi, para penari wanita pun mengambil kembali selendang mereka secara satu persatu dan mengenakan kembali dibadan mereka sambil menari.

Penari wanita yang tidak mendapatkan selendangnya pun menari dengan gerakan seperti kebingungan. Lalu si penari pria datang membawa selendang yang telah dicurinya dan menghampiri penari wanita tersebut dengan gerakan yang seperti menggoda wanita tersebut. Kemudian mereka menari bersama-sama dengan gerakan yang romantis seperti layaknya sepasangan kekasih. Di akhir tarian ini para penari lainnya akan keluar arena dan dilanjutkan dengan sepasang penari tersebut.

Pengiring Tari Tumatenden

Musik pengiring dalam pertunjukan Tari Tumatenden ini biasanya merupakan alat musik tradisional masyarakat Minahasa yakni kolintang. Namun terdapat juga yang menambahkan beberapa alat musik seperti gitar, angklung, dan alat musik lainnya agar lebih terdengar menarik. Alunan musik tersebut biasanya disesuaikan dengan gerakan dari para penari sehingga terlihat padu dan juga lebih hidup.

Kostum Tari Tumatenden

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, para penari menggunakan kostum yang menggambarkan peran dalam cerita Tumatenden. Pada penari pria biasanya akan menggunakan kostum layaknya seorang petani, seperti memakai baju dan celana pendek, dan menggunakan topi petani pada umumnya. Sedangkan pada penari wanita akan menggunakan busana cantik layaknya seorang bidadari. Pada pakaian atas biasanya akan menggunakan kemben, sedangkan pada bagian bawah akan menggunakan kain panjang khas dari Minahasa.

Pada bagian rambut biasanya akan diurai ke samping dan menggunakan hiasan seperti mahkota atau bunga. Selain itu penari wanita juga akan dilengkapi aksesoris seperti kalung dan gelang sebagai pemanis, serta selendang yang digunakan dalam menari.

Perkembangan Tari Tumatenden

Tari Tumatenden ini masih terus dilestarikan serta dikembangkan di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya pada masyarakat Minahasa bagian utara. Tarian ini masih sering ditampilkan diberbagai acara seperti acara pernikahan adat, penyambutan, pertunjukan seni dan juga festival budaya. Berbagai kreasi dan juga variasi sering ditambahkan disetiap pertunjukannya agar terlihat menarik tetapi masih mengikuti cerita aslinya


Patut Kamu Baca:

Tari Woleka, Tarian Tradisional Khas Sumba Barat Daya Provinsi NTT

View Article

Tari Woleka, Tarian Tradisional Khas Sumba Barat Daya Provinsi NTT

Tari Woleka adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini merupakan tarian selamat datang atau penyambutan. Tari Woleka biasanya ditarikan oleh beberapa penari pria dan wanita dengan gerakan yang sangat khas. Tarian merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal di Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini sering ditampilkan diberbagai acara seperti acara penyambutan tamu penting, festival budaya dan juga pertunjukan seni.


Asal Mula Tari Woleka

Tari Woleka ini merupakan tarian tradisional yang berasal dari Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Asal mula dari Tari Woleka ini masih belum diketahui secara pasti, namun menurut beberapa sumber yang ada mengatakan bahwa tarian ini awalnya ditampilkan untuk menyambut dan juga mengiringi para tamu penting atau seorang bangsawan yang datang ke sana.

Pertunjukan Tari Woleka

Tari Woleka ini umumnya dimainkan oleh para penari pria dan wanita. Jumlah para penari biasanya terdiri dari 4 sampai 6 penari wanita dan 2 sampai 4 orang penari pria tergantung konsep dari masing-masing kelompok yang membawakannya. Dalam pertunjukannya, tarian ini diawali dengan formasi penari pria dibarisan depan sedangkan para penari wanita dibelakangnya. Kemudian dilanjutkan dengan formasi yang berubah-ubah sesuai dengan sajian utama dari Tari Woleka.

Untuk gerakan penari pria dan wanita dalam tarian ini biasanya berbeda. Para penari pria biasanya akan menari dengan gerakan yang sangat lincah sambil memainkan pedang yang dibawanya, gerakan tersebut menggambarkan sifat para pria yang jantan, sigap, dan juga gesit. Sedangkan pada penari wanita menari dengan gerakan yang sangat anggun sambil memainkan kain selendang yang kenakannya. Gerakan para penari wanita ini menggambarkan sifat dari wanita yang cantik, anggun, dan juga indah.

Pengiring Tari Woleka

Dalam pertunjukannya, Tari Woleka ini biasanya diiringi oleh alunan alat musik tradisional. Alat musik yang digunakan ialah seperangkat gong yang dimainkan secara bergantian serta teratur sehingga menghasilkan suara yang sangat khas dan merdu. Irama musik yang digunakan biasanya merupakan irama yang bertempo cepat.

Kostum Tari Woleka

Kostum yang digunakan oleh para penari biasanya merupakan pakaian adat. Pada penari wanita biasanya akan menggunakan kain panjang khas dari Sumba yang menutupi bagian tubuh. Pada bagian kepala akan menggunakan ikat kepala yang berhiasan seperti ronce-ronce maupun tabela. Sedangkan pada penari wanita juga akan dilengkapi dengan gelang maupun kalung sebagai pemanis dan juga selendang yang diikatkan pada bagian pinggang yang digunakan dalam menari.

Untuk penari pria biasanya akan menggunakan celana pendek serta kain yang menutupinya. Pada bagian tubuh menggunakan selampang tenun khas dari Sumba. Sedangkan bagian kepala biasanya akan menggunakan ikat kepala yang sering disebut kapauta. Para penari pria juga dilengkapi dengan golok atau pedang khas dari Sumba yang digunakan dalam menari.

Perkembangan Tari Woleka

Dalam perkembangannya, Tari Woleka ini masih terus dilestarikan sampai sekarang. Tarian ini masih sering ditampilkan untuk tarian selamat datang atau penyambutan bagi para tamu penting maupun rombongan wisatawan yang sedang datang ke sana. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan diberbagai acara seperti acara pernikahan, pertunjukan seni dan juga festival budaya.



Patut Kamu Baca:

Tari Wura Bongi Monca, Tarian Tradisional Dari Bima Provinsi NTB

View Article
Tari Wura Bongi Monca, Tarian Tradisional Dari Bima Provinsi NTB

Tari Wura Bongi Monca adalah tarian tradisional dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tarian ini merupakan tarian selamat datang atau penyambutan tamu. Tarian ini dilakukan oleh para penari perempuan secara berkelompok dengan gerakan yang sangat lemah lembut sambil menaburkan beras kuning sebagai simbol dari penghormatan dan harapan. Tari Wura Bongi Monca ini merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal dan juga masih sering dipentaskan diberbagai acara di daerah Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sejarah Tari Wura Bongi Monca

Menurut beberapa sumber yang ada, Tarian ini merupakan salah satu tarian tradisional yang telah ada dan berkembang dimasa Kesultanan Abdul Kahir Sirajuddin tahun 1640 sampai 1682. Tarian ini ditampilkan untuk menyambut kedatangan dari para tamu istana yang sedang berkunjung. Dengan paras cantik dan juga gerakan yang gemulai, para penari menyambut kedatangan para tamu sambil menaburkan beras kuning sebagai simbol dari penghormatan dan harapan. Nama Tari Wura Bongi Monca ini sendiri diambil dari bahasa Bima yang artinya menabur beras kuning. Sehingga tarian ini bisa diartikan sebagai tarian penabur beras kuning.

Fungsi Dan Makna Tari Wura Bongi Monca

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Tari Wura Bongi Monca ini ditampilkan sebagai tarian penyambutan bagi para tamu penting yang datang ke sana. Didalam tarian ini, para penari akan menari sambil menaburkan beras kuning sebagai tanda penghormatan dan juga harapan. Dalam tradisi Bima, beras kuning merupakan lambang kesejahteraan serta mengandung makna-makna kehidupan didalamnya. Selain itu bagi masyarakat Bima, para tamu dianggap sebagai pembawa rejeki atau berkah, sehingga mereka akan menyambutnya dengan meriah sebagai tanda dari penghormatan, doa, dan juga rasa syukur.

Pertunjukan Tari Wura Bongi Monca

Dalam pertunjukannya, tarian ini biasanya dimainkan secara berkelompok oleh 4 sampai 6 orang penari perempuan. Dengan senyum diwajah mereka, para penari menari seirama dengan alunan dari musik pengiring. Gerakan dalam tarian ini lebih didominasi oleh gerakan yang pelan. Sambil menari mereka akan menaburkan beras kuning ke arah para tamu maupun sekitar panggung sebagai tanda dari penghormatan.

Pengiring Tari Wura Bongi Monca

Dalam pertunjukannya, para penari menari seirama dengan alunan musik pengiringnya sehingga akan menghasilkan gerakan yang indah. Musik pengiring dalam tarian ini diantaranya seperti gendang besar, sarone, gong, dan tawa-tawa. Dalam mengiringi tarian ini, para pemusik biasanya memainkan irama yang terkesan lambat yang dipadukan dengan gerakan dari para penari.

Kostum Tari Wura Bongi Monca

Dalam pertunjukannya, para penari akan dibalut dengan busana tata rias cantik khas dari Bima. Busana tersebut seperti baju asi dibagian atas dan sarung songket dibagian bawah. Pada bagian kepala, rambut akan digelung dan menggunakan bando atau sebuah hiasan bunga-bunga. Selain itu juga ada aksesoris lainnya seperti gelang, kalung, dan  selendang yang digunakan dalam menari.

Perkembangan Tari Wura Bongi Monca

Walaupu tarian ini merupakan salah satu tarian klasik, namun tarian ini masih terus dilestarikan dan sering ditampilkan sampai saat ini. Berbagai pengembangan juga telah dilakukan oleh para seniman disana baik itu dalam segi gerak, pengiring, kostum dan juga penyajian pertunjukan agar terlihat lebih atraktif. Selain itu juga Tari Wura Bongi Monca ini masih sering ditampilkan diberbagai acara seperti penyambutan tamu ataupun festival budaya sebagai usaha dalam melestarikan serta memperkenalkan kepada masyarakat luas akan kesenian dan tradisi yang ada di Bima, Provinsi NTB.




Patut Kamu Baca:

Sunday, 9 September 2018

Tari Kinyah Mandau, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Tengah

View Article

Tari Kinyah Mandau, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Tengah

Tari Kinyah Mandau merupakan tarian tradisional yang berasal dari Kalimantan Tengah. Tarian ini adalah tarian dari suku Dayak yang menampilkan unsur dari bela diri, seni perang dan seni teatrikal. Tarian ini sangat terkenal dan bahkan hampir semua suku Dayak di Kalimantan mempunyai tarian jenis ini. Terutama di Kalimantan tengah, yang biasa disebut dengan Tari Kinyah Mandau. Nama Tari Kinyah Mandau ini sendiri di ambil dari kata kinyah yang artinya tarian perang dan menggunakan mandau sebagai senjatanya.


Asal Asul Tari Kinyah Mandau

Tari Kinyah Mandau ini berawal dari tradisi suku Dayak zaman dahulu yang disebut kinyah, yang merupakan tarian perang sebagai persiapan dalam membunuh dan memburu kepala musuh. Dimasa itu para pemuda suku Dayak harus melakukan pemburuan kepala untuk berbagai alasan yang berbeda disetiap sub sukunya. Sebagai persiapan fisik dalam pemburuan itu maka dilakukan kinyah atau tarian perang ini.

Hampir semua sub suku Dayak mempunyai tarian perang ini. Dahulunya tarian ini dipertunjukan di kampung untuk melihat dan juga mengamati pemuda mana yang siap dilepas ke hutan untuk memburu kepala siapa saja yang ditemuinya. Namun ada aturan dalam tradisi pemburuan kepala ini, yakni tidak diperbolehkan membunuh yang berasal dari kampungnya sendiri.

Pada saat itu terdapat 3 istilah yang sangat ditakuti, yang pertama adalah hapini, yaitu saling membunuh, kedua adalah hakayau, yaitu saling potong kepala dan yang ketiga adalah hajipen, yaitu memperbudak. Hukum rimba sangat berlaku dimasa itu, yaitu yang kuatlah yang berkuasa. Setiap anak laki-laki dari suku Dayak yang berhasil mendapatkan kepala manusia akan diberi tato pada bagian betisnya untuk menunjukan bahwa anak ini telah menjadi dewasa.

Ada alasan lain yang dilakukan oleh Dayak ngaju zaman dahulu dalam melakukan mengayau ialah untuk keperluan upacara Tiwah . Tiwah adalah upacara untuk membersihkan tulang-belulang dari para leluhur untuk diantar ke surga. Kepala manusia ini akan digantung disangkaraya (pusat upacara tiwahnya) kemudian dikubrukan didekat sandung atau rumah kecil tempat menaruh tulang-belulang para leluhur yang ditiwahkan, dan bila orang tersebut memiliki jipen atau budak, maka akan dibunuh juga.

Namun tradisi dalam mengayau atau pemburuan kepala ini berakhir pada saat perjanjian damai Tumbang Anoi. Ketika terjadinya perjanjian damai ini, pemimpin dari sub suku Dayak bertemu dan melakukan perdamaian. Setelah perjanjian tersebut selesai maka setiap sub suku Dayak akan menunjukan gerakan kinyahnya masing-masing dan juga setiap sub suku Dayak yang hadir bisa melihatnya. Sejak saat itu sekat rahasia, curiga diantara sub suku Dayak diruntuhkan. Ketika perjanjian damai tersebut, Sub suku Oot Danum yang membawakan gerakan kinyahnyah. Dikarenakan Sub suku Oot Danum sangat terkenal akan gerakan dan teknik berbahaya dalam membunuh musuh-musuhnya.

Gerakan dalam kinyah ini bervariasi, karena setiap sub suku Dayak memiliki gerakan atau jurus rahasia masing-masing. Konon katanya, jika mengajarkan gerakan pada suku lain akan dianggap penghianat dan akan dihukum mati. Namun setelah perjanjian damai tumbang anoi, maka peraturan itu sudah tidak berlaku. Karena setelah perjanjian itu, semua dari sub suku Dayak bersatu dan tidak ada curiga rahasia diantara sub suku.

Pertunjukan Tari Kinyah Mandau

Dalam pertunjukannya, para penari kinyah Mandau tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tapi juga oleh perempuan. Setiap penari dilengkapi dengan senjata berupa Mandau dan talawang atau perisai, namun ada pula yang menggunakan sumpit sebagai senjata mereka.

Kostum Tari Kinyah Mandau

Kostum yang digunakan dalam tarian ini adalah pakaian khas dari suku Dayak dan ikat kepala yang dihiasi bulu burung enggang. Selain itu, tubuh para penari dihiasi dengan tato khas suku Dayak yang memiliki arti tersendiri dalam setiap gambarnya.

Pengiring Tari Kinyah Mandau

Dalam pertunjukannya, Tari Kinyah ini diiringi oleh musik tradisional Dayak. Dengan iringan musik yang beritme tinggi dan gerakan gesit dari penarinya akan membuat tarian ini terlihat sangat mengagumkan dan juga membuat para penonton seakan merasakan semangat perang yang dipertunjukan dalam tarian ini.

Perkembangan Tari Kinyah Mandau

Seiring perkembangan zaman, walaupun tradisi mangayau telah ditinggalkan, namun kinyah masih menjadi tradisi suku Dayak di Kalimantan dan berkembang menjadi sebuah tarian adat suku Dayak. walaupun tidak untuk berperang, kinyah ini dijadikan sebuah sarana kesenian dan budaya bagi masyarakat suku Dayak dalam melestarikan tradisinya. Di Kalimantan tengah tarian kinyah ini dikenal dengan Tari Kinyah Mandau. Diadaptasi dari kinyah sebelum sarat akan kekerasan dengan serangan yang membahayakan, tarian ini diubah menjadi sarana kesenian dan hiburan bagi masyarakat. Didalam perkembangannya, gerakan pada tarian ini dimodifikasi dengan berbagai variasi gerakan tari dan juga unsur teatrikal yang menggambarkan jiwa serta semangat keberanian suku Dayak. Dengan gerakan yang gesit ini seakan-seakan ingin memburu musuh, sehingga menjadikan tarian ini sangat terlihat mengagumkan.

Tarian Kinyah Mandau ini dapat kita temukan diberbagai acara kebudayaan di Kalimantan tengah seperti acara penyambutan tamu besar dan juga diacara festival budaya. Tarian ini tidak hanya terkenal di Indonesia, namun juga sampai ke luar negeri. Tari Kinyah Mandau ini juga sering dipertunjukan difestival kebudayaan etnik di dunia untuk mewakili Negara Indonesia.



Patut Kamu Baca:

Tari Bambangan Cakil, Tarian Tradisional Dari Provinsi Jawa Tengah

View Article

Tari Bambangan Cakil, Tarian Tradisional Dari Provinsi Jawa Tengah

Tari Bambangan Cakil adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Tarian ini diadobsi dari salah satu adegan didalam cerita pewayangan. Adegan yang diadobsi yaitu adegan perang kembang, yang menceritakan peperangan antara para kesatria dan raksasa. Tarian ini merupakan salah satu dari tarian klasik yang ada di jawa khususnya di Provinsi Jawa Tengah.


Asal Usul Tari Bambangan Cakil

Dalam Tari Bambangan Cakil ini menceritakan sebuah peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Kedua sifat ini digambarkan dalam gerakan tari tokoh dalam tarian ini. Dimana kebaikan yang ada pada tokoh kesatria digambarkan dengan gerakan yang bersifat halus serta lemah lembut. Sementara kejahatan pada tokoh raksasa digambarkan dengan gerakan yang bersifat kasar serta beringas. Tokoh dalam pewayangan yang digunakan dalam tarian ini ialah Arjuna sebagai Kesatria, dan Cakil sebagai raksasa. Tari Bambangan Cakil ini mengandung nilai filosofi yang tinggi dimana kejahatan dan juga keangkaramurkaan akan selalu kalah dengan kebaikan.

Pertunjukan Tari Bambangan Cakil

Gerakan dalam tarian ini sangat artistik. Walaupun diadopsi dari cerita pewayangan, tarian tidak ditarikan dengan percakapan. Namun pesan dan juga cerita dalam tarian ini tetap tersampaikan melalui alur daru gerakan para penarinya. Dalam memerankan tokoh dalam Tari Bambangan Cakil ini tentunya ada syarat-syarat tertentu agar tarian ini terlihat menarik, diantaranya seperti fisik para penari, keluwesan dalam menari, dan juga sifat dari para penari sendiri. Dalam memerankan tokoh kesatria biasanya haruslah memiliki fisik yang rupawan dan luwes atau lemah lembut. Sedangkan dalam memerankan tokoh cakil, dibutuhkan kelincahan didalam menari karena sifatnya yang beringas, sehingga sangat membutuhkan gerakan yang lebih. Selain itu juga penari cakil harus luwes, karena gerakan pada tokoh cakil ini cenderung aktraktif.

Pertunjukan Tari Bambangan Cakil
Pertunjukan  Tari Bambangan Cakil

Dalam pertunjukannya, Tari Bambangan Cakil ini biasanya tidak hanya dimainkan oleh 2 orang saja. Namun terdapat beberapa peran pendukung seperti pasukan raksasa serta penari wanita sebagai pasangan kesatria. Peran pendukung ini biasanya dimainkan pada awal pertunjukan agar pertunjukan  tarian ini terlihat tidak kaku dan juga lebih menarik.

Pengiring Tari Bambangan Cakil

Tari Bambangan Cakil ini biasanya diiringi oleh iringan gending srempengan, Ladrang Cluntang Sampak Laras Slendro. Suara dari kendang dalam musik pengiring sangat penting didalam tarian ini. Seperti pada tarian jawa lainya, suara dari gendang harus diselaraskan dengan gerakan para penari dan musik pengiring lainnya.

Busana Tari Bambangan Cakil

Busana yang digunakan para penari biasanya menggunakan busana pada wayang uwong atau wayang orang, selain itu juga tata rias yang digunakan juga sama seperti wayang wong. Semua itu disesuikan dengan tokoh yang diperankan oleh penarinya.

Perkembangan Tari Bambangan Cakil

Dalam perkembangannya, Tari Bambangan Cakil ini sering ditampilkan dengan kemasan yang berbeda pada setiap kelompok tari atau pertunjukannya. Beberapa kreasi yang dilakukan dalam gerakan atau para penari tambahan agar pertunjukan terlihat menarik dan juga tidak terlihat kaku. Tari Bambangan Cakil ini sering ditampilkan diberbagai acara budaya, penyambutan tamu kehormatan atau di festival budaya. Karena gerakan tarian ini begitu artistik serta nilai-nilai didalamnya yang begitu khas. Tarian ini merupakan tarian tradisional dari Jawa Tengah yang harus dilestarikan.



Patut Kamu Baca:

Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Kebesaran Di Kasunanan Surakarta

View Article

Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Kebesaran Di Kasunanan Surakarta

Tari Bedhaya Ketawang adalah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukan ketika penobatan dan peringatan kenaikan tahta sang raja di Kasunanan Surakarta. Tarian ini merupakan tarian yang sakral serta suci bagi masyarakat dan juga Kasunanan Surakarta. Nama Tari Bedhaya Ketawang ini diambil dari kata bedhaya yang artinya penari wanita di istana, dan ketawang yang artinya langit, yakni yang identik sesuatu yang tinggi, kemuliaan dan juga keluhuran.


Sejarah Tari Bedhaya Ketawang

Menurut sejarahnya, tarian ini berawal pada saat Sultan Agung memerintah kesultanan Mataram tahun 1613 sampai 1645. Pada suatu saat Sultan Agung melakukan ritual semedi, ketika itu beliau mendengar suara senandung yang berasal dari arah langit, Sultan agung pun terkesima dengan suara senandung tersebut. Lalu beliau memanggil para pengawalnya serta mengutarakan apa yang terjadi. Dari kejadian itulah beliau menciptakan tarian yang diberi nama dengan bedhaya ketawang ini. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa pada saat pertapaannya Panembahan Senapati bertemu dan lalu memadu kasih dengan si Ratu Kencanasari atau Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian menjadi cikal bakal tarian ini.

Namun setelah perjanjian Giyanti ditahun 1755, dilakukanlah pembagian harta warisan kesultanan mataram kepada Pakubuwana III dan juga Hamengkubuwana I. Selain pembagian wilayah, dalam perjanjian ini juga ada pembagian warisan budaya. Tari Bedhaya Ketawang akhirnya diberikan kepada kasunanan Surakarta dan didalam perkembangannya tarian ini tetap dipertunjukan pada saat penobatan dan juga upacara peringatan kenaikan tahta bagi sunan Surakarta.

Tari Bedhaya Ketawang ini menggambarkan hubungan asmara antara Kangjeng Ratu Kidul dengan raja mataram. Semua itu diwujudkan dalam gerak tari. Kata-kata yang terkandung dalam tembang pengiring Tari Bedhaya Ketawang ini menggambarkan curahan hati dari Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja. Tarian ini biasanya dimainkan oleh 9 (sembilan) penari wanita. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, setiap pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang ini dipercaya akan hadirnya kangjeng ratu kidul dan ikut menari sebagai penari yang kesepuluh.

Sebagai tarian yang sakral, terdapat beberapa syarat yang harus dimiliki oleh setiap penarinya. Syarat yang paling utama yakni para penari harus seorang gadis yang suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari tersebut harus meminta ijin kepada Kangjeng Ratu Kidul terlebih dahulu dengan melakukan caos dhahar di panggung sanga buwana, di keraton Surakarta. Hal ini dilakukan dengan berpuasa selama beberapa hari pada saat menjelang pertunjukan. Kesucian para penari sangat penting, konon katanya, pada saat latihan berlangsung, Kangjeng Ratu Kidul ini akan datang menghampiri para penari jika gerakan dalam menarinya masih salah.

Pengiring Tari Bedhaya Ketawang

Pada pertunjukannya, Tari Bedhaya Ketawang diiringi oleh iringan musik dari gending ketawang gedhe dengan nada pelog. Instrumen yang digunakan diantaranya adalah gong, kendhang, kethuk, kenong, dan kemanak. Dalam Tari Bedhaya Ketawang ini dibagi menjadi tiga babak (adegan). Ditengah tarian nada gendhing berganti menjadi slendro selama 2x (dua kali). Setelah itu nada gending akan kembali lagi ke nada pelog sampai tarian berakhir.

Selain diiringi oleh musik gending, Tari Bedhaya Ketawang diiringi oleh tembang (lagu) yang menggambarkan curahan hati dari kangjeng ratu kidul kepada sang raja. Dibagian pertama tarian diiringi dengan tembang Durma, kemudian dilanjutkan dengan Ratnamulya. Pada saat para penari masuk kembali ke dalem ageng prabasuyasa, instrument musik ditambahkan dengan gambang, rebab, gender dan juga suling untuk menambah keselarasan suasana.

Busana Tari Bedhaya Ketawang

Dalam pertunjukannya, busana yang digunakan para penari dalam Tari Bedhaya Ketawang ini adalah busana yang digunakan oleh para pengantin perempuan jawa, yakni Dodot Ageng atau biasa disebut Basahan. Pada bagian rambut akan menggunakan Gelung Bokor Mengkurep, yakni gelungan yang ukurannya lebih besar dari pada gelungan gaya Yogyakarta. Untuk aksesoris perhiasan yang digunakan diantranya adalah centhung, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, garudha mungkur, dan tiba dhadha (rangkaian bunga yang dikenakan pada gelungan, yang memanjang sampai dada bagian kanan).

Perkembangan Tari Bedhaya Ketawang


Pada awalnya Tari Bedhaya Ketawang ini dipertunjukkan selama dua setengah jam. Tetapi sejak dizaman Pakubuwana X diadakan pengurangan waktu, sampai akhirnya berdurasi satu setengah jam. Tari Bedhaya Ketawang ini tidak ditampilkan setiap saat, dikarenakan sebagai salah satu prosesi upacara keraton. Tarian hanya ditampilkan pada saat penobatan dan juga peringatan kenaikan tahta raja diKasunanan Surakarta. Karena sifatnya yang sangat sakral, jadi untuk menyaksikan tarian ini tentunya terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.



Patut Kamu Baca:

Saturday, 8 September 2018

Tari Bedoyo Wulandaru, Tarian Tradisional Dari Jawa Timur

View Article
Tari Bedoyo Wulandaru, Tarian Tradisional Dari Banyuwangi Provinsi Jawa Timur

Tari Bedoyo Wulandaru adalah tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Tarian ini merupakan perwujudan rasa bahagia dari masyarakat pada saat menyambut kedatangan tamu besar yang datang kesana. Tari Bedoyo Wulandaru ini merupakan salah satu tarian tradisional yang terkenal di Banyuwangi, Jawa Timur.

Sejarah Tari Bedoyo Wulandaru

Menurut beberapa sumber sejarah yang ada, pada zaman dahulu Tari Bedoyo Wulandaru digunakan oleh masyarakat Blambangan dalam menyambut kedatangan rombongan dari Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada yang berkunjung ke wilayah mereka. Tari Bedoyo Wulandaru ini merupakan ungkapan rasa gembira dari masyarakat Blambangan dalam menyambut tamu agung tesebut dan kemudian diberi nama  Tari Bedoyo Wulandaru.

Nama dari Tari Bedoyo Wulandaru ini sendiri merupakan gabungan dari kata bedoyo dan kata wulandaru. Kata bedoyo ini sendiri merujuk pada sebutan para penari wanita yang membawakan tarian ini. Sementara pada kata wulandaru merupakan gabungan dari kata wulan dan ndaru. Didalam bahasa jawa, kata wulan ini artinya bulan yang dimaknai sebagai penerang dalam kegelapan, sedangkan kata ndaru ini sendiri artinya bintang jatuh yang dimaknai tanda keberuntungan. Sehingga melalui tarian ini dapat dilihat bahwa masyarakat Blambangan dalam menganggap tamu agung mereka sebagai sinar bulan yang terang dan juga keberuntungan bagi mereka.

Pertunjukan Tari Bedoyo Wulandaru

Pertunjukan Tari Bedoyo Wulandaru
Pertunjukan Tari Bedoyo Wulandaru

Gerakan dalam Tari Bedoyo Wulandaru ini sendiri merupakan kreasi dari pengembangan Tari Gandrung dan Sabang dari Banyuwangi, Jawa Timur. Begitu pun dengan musik pengiring yang digunakan dalam tarian ini juga tidak jauh berbeda, namun terdapat beberapa penambahan sebagai kreasi dan juga pengembangan. Sesuatu yang unik terlihat dibagian akhir pertunjukan, dimana para penari akan melemparkan beras kuning dan uang logam layaknya disebuah ritual. Hal ini memiliki arti tersendiri. Beras kuning yang ditaburkan ini dipercaya untuk mengusir segala bala dan gangguan. Sedangkan pada uang logam untuk mengikat hati masyarakat agar hati rakyat tetap akan mendukung dan patuh kepada raja atau pemerintah yang sedang berkuasa.

Busana Tari Bedoyo Wulandaru

Dalam pertunjukannya, penari ini menari dengan indah dan cantik dengan balutan busana layaknya seorang putri keraton pada zaman dahulu. Pada bagian kepala penari akan menggunakan mahkota yang penuh dengan hiasan bunga-bunga. Pada bagian atas tubuh akan menggunakan kain seperti kemben yang setinggi dada. Pada bagian bawah akan menggunakan kain panjang hingga mata kaki. Selain itu juga akan dilengkapi berbagai aksesoris seperti gelang serta ikat pinggang dengan corak berwarna emas dan bunga-bunga. Dan tidak lupa selendang yang disematkan pada bagian depan dalam menari. Busana yang digunakan para penari Tari Bedoyo Wulandaru ini identik dengan warna hijau. Warna hijau ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Selain itu juga ada warna merah dan emas yang tentunyamempunyai makna tersendiri.

Perkembangan Tari Bedoyo Wulandaru

Dalam perkembangannya, tarian ini masih terus dilestarikan serta dipelajari melalui sanggar budaya dan pendidikan. Selain itu juga Tari Bedoyo Wulandaru ini sering diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui acara seperti festival budaya dan penyambutan tamu besar yang sedang datang ke Banyuwangi.




Patut Kamu Baca:

Tari Beskalan, Tarian Tradisional Dari Malang Provinsi Jawa Timur

View Article


Tari Beskalan adalah tarian tradisional yang berasal dari Malang, Provinsi Jawa Timur. Tarian ini biasanya dipertunjukan saat penyambutan tamu besar yang sedang datang ke sana. Selain menjadi tarian selamat datang, tarian ini juga sering dipertunjukan pada saat pementasan Ludruk sebagai tarian pembuka setelah Tari Remo. Tari Beskalan ini merupakan tarian tradisional yang terkenal di Malang.

Sejarah Tari Beskalan

Menurut sumber sejarah yang ada, Tari Beskalan ini awalnya merupakan tarian ritual yang dilakukan oleh masyarakat Malang pada zaman dahulu apabila akan membuka lahan atau mendirikan sebuah bangunan. Pada saat mengawali penggalian tanah, biasanya akan diadakan ritual penanaman tumbal yang sering disebut dengan cok bakal atau sesajen. Tumbal yang digunakan biasanya adalah kepala kerbau. Tumbal ini merupakan sedekah bumi yang harus dilakukan agar terhindar dari marabahaya dan lahan yang dibuka pun diberikan kesuburan.

Pada saat acara ritual tersebut berlangsung, biasanya akan diiringi dengan pertunjukan Tari Beskalan. Tarian ini dianggap sebagai wujud dari rasa syukur dan rasa hormat kepada para leluhur agar dijauhkan dari bahaya dan juga diberkati tanah yang subur serta rejeki yang melimpah. Selain dipertunjukan didalam acara ritual, di daerah tertentu juga Tari Beskalan ini menjadi tarian wajib yang harus dipentaskan pada saat acara bersih desa. Selain menggambarkan rasa syukur dan juga hormat kepada para lulur, tarian beskalan ini juga dianggap sebagai simbol permulaan atau awal dari kehidupan. Kepercayaan tersebut menjadikan Tari Beskalan ini mulai berkembang, tidak hanya sebagai bagian dari acara ritual, namun juga sebagai pembuka acara serta penyambutan tamu besar.

Pertunjukan Tari Beskalan

Pertunjukan Tari Beskalan

Dalam pertunjukannya, Tari Beskalan ini biasanya akan dimainkan oleh 4 (empat) orang penari wanita. Namun pada acara tertentu dapat juga dimainkan oleh 2 (dua) orang, bahkan terdapat juga yang lebih dari 4 (empat) orang. Gerakan dalam Tari Beskalan ini hampir sama seperti gerakan yang ada di Tari Remo, hanya saja pada gerakan tarian ini lebih anggun, lincah dan juga dinamis. Sehingga menggambarkan sisi kecantikan dan juga kelincahan seorang wanita.

Busana Tari Beskalan

Dalam pertunjukannya para penari menggunakan busana dan tata rias khas dari Tari Beskalan. Pada bagian kepala penari biasanya menggunakan sanggul yang dihias dengan cundhuk mentul. Lalu dibagian tubuh atas menggunakan kemben yang dipadukan dengan ilat-ilatan. Pada bagian bawah menggunakan celana sepanjang lutut dan tambahan kain dibagian depan dan belakang yang panjangnya sejajar dengan celana. Sedangkan dibagian kaki menggunakan kaos kaki putih dan gongseng. Tidak lupa juga selendang yang dipasangkan pada bagian bahu yang digunakan untuk atribut menari.

Pengiring Tari Beskalan

Dalam pertunjukan Tari Beskalan ini juga akan diiringi oleh iringan musik tradisional. Awalnya Tari Beskalan ini hanya diiringi oleh beberapa alat musik yang sederhana seperti kendang, jidor dan lain-lainnya. Namun pertunjukan Tari Beskalan saat ini diiringi oleh musik gamelan jawa dengan laras slendro yang menjadi ciri khas dari gamelan di Jawa Timur.

Perkembangan Tari Beskalan

Dalam perkembangannya, Tari Beskalan ini sudah menjadi salah satu tarian kebanggan dari kota Malang, Jawa Timur. Tarian yang awalnya hanya menjadi tarian ritual, saat ini telah menjadi tarian pembuka diberbagai acara budaya di kota Malang, seperti pada kesenian Ludruk, festival budaya dan lain sebagainya. Selain itu juga Tari Beskalan ini sering digunakan sebagai tarian selamat datang dalam menyambut tamu besar atau para rombongan wisatawan yang sedang berkunjung kesana.



Patut Kamu Baca:

Tradisi Kenduri Laut, Tradisi di Tapanuli Tengah Sumatra Utara

View Article

Tradisi Kenduri Laut adalah tradisi tahunan yang sering dilakukan oleh masyarakat pesisir di Pulau Sumatera, salah satunya di daerah Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dari masyarakat atas hasil laut yang mereka dapatkan. Selain sebagai upacara adat, Tradisi ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang kesana. Tradisi ini juga dimeriahkan dengan berbagai acara seperti perlombaan, pertunjukan dan juga acara hiburan lainnya.

Asal Usul Tradisi Kenduri Laut

Tradisi Kenduri Laut ini merupakan tradisi warisan budaya dari masyarakat pesisir di Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Tradisi yang sejenis juga banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai sumatera lainnya, tetapi masyarakat Tapanuli Tengah memiliki caranya sendiri dalam melaksanakan kenduri laut ini.

Dilihat dari segi letak geografisnya, Tapanuli Tengah ini sendiri merupakan daerah yang terletak di pesisir pantai barat Provinsi Sumatera Utara. Sehingga sebagian besar dari masyarakat disana menggantungkan kehidupannya dari hasil laut, sehingga banyak juga yang berprofesi sebagai seorang nelayan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut tersebut, maka diadakan upacara kenduri laut ini.

Fungsi Dan Makna Tradisi Kenduri Laut

Pada dasarnya tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dari masyarakat atas hasil laut yang mereka dapatkan. Selain itu juga tradisi ini sebagai pengharapan agar selalu diberikan hasil yang melimpah ke depannya dan juga diberikan keselamatan bagi para nelayan. Bagi masyarakat disana, tradisi sedekah laut ini juga dimaknai sebagai hubungan diantara manusia dan alam, dimana alam selalu memberikan kehidupan kepada manusia. Jadi untuk membalas kebaikan alam tersebut, maka manusia wajib untuk menjaga serta melestarikannya, agar dapat selalu memberikan kehidupan, baik itu kepada mereka maupun anak dan juga cucu mereka.

Pelaksanaan Tradisi Kenduri Laut

Tradisi Kenduri Laut ini biasanya hanya dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan oktober disalah satu pantai di daerah Tapanuli Tengah. Pelaksanaan Tradisi Kenduri Laut ini biasanya dilakukan dalam 2 (dua) prosesi, yakni prosesi ritual dan prosesi perayaan. Pada prosesi ritual ini biasanya dilakukan dimalam hari, dengan diikuti perwakilan dari beberapa kecamatan di Tapanuli Tengah dan pada setiap perwakilan harus membawakan beberapa persembahan yang berupa hasil bumi. Prosesi ini merupakan prosesi inti dalam Tradisi Kenduri Laut ini serta dianggap sakral.

Kemudian pada siang harinya akan dilanjutkan dengan prosesi perayaan yang dimeriahkan dengan berbagai hiburan seperti atraksi budaya ataupun perlombaan. Atraksi budaya ini diantaranya seperti tarian tradisional dan juga berbagai kesenian tradisional lainnya. Selain itu juga ada beberapa perlombaan seperti lomba perahu, layang-layang, dan perlombaan lainnya. Walaupun bukan merupakan acara inti didalam Tradisi Kenduri Laut ini, tetapi acara hiburan tersebut cukup menyedot perhatian dari masyarakat. Karena pada prosesi tersebut, banyak juga dari masyarakat yang mengikutinya.

Nilai-Nilai Dalam Tradisi Kenduri Laut

Sebagai salah satu warisan budaya, tradisi ini sangat kaya akan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, terutama nilai budaya dan juga kehidupan.

- Nilai Kehidupan

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tradisi ini merupakan representasi dari hubungan antara manusia dengan alam, dimana alam selalu memberikan kehidupan kepada manusia. Dan untuk membalasnya, manusia wajib untuk menjaga dan juga melestarikan alam, agar alam selalu memberikan kehidupan untuk mereka dan juga anak cucu mereka.

- Nilai budaya

Tradisi Kenduri Laut ini merupakan warisan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang. Tentunya tradisi ini juga sarat akan makna dan nilai-nilai serta filosofi didalamnya. Sehingga harus terus dilestarikan, supaya tidak hilang dengan seiring perkembangan zaman.

Perkembangan Tradisi Kenduri Laut

Dalam perkembangannya, tradisi ini masih terus dijaga dan dilestarikan sampai sekarang. Tradisi ini masih terus dilaksanakan disetiap tahunnya dan dimeriahkan berbagai acara hiburan yang bertemakan budaya lokal maupun modern yang disesuaikan. Selain bagian dari budaya, tradisi ini bahkan juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang ke sana. Dengan meriahnya tradisi ini tentu dapat juga menjadi sarana dalam memperkenalkan pada masyarakat akan tradisi dan budaya masyarakat Tapanuli Tengah, sehingga tradisi Kenduri Laut ini tetap lestari dan tidak hilang dengan seiring perkembangan zaman.





Patut Kamu Baca:

Friday, 7 September 2018

Taman Nasional Bantimurung Sulawesi

View Article

Taman Nasional Bantimurung atau Bulusaraung memiliki berbagai macam keunikan, yaitu karst,lalu goa-goa dengan stalaknit dan juga stalakmit yang amat indah, dan yang paling dikenal ialah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki nama sebagai The Kingdom of Butterfly atau kerajaan kupu-kupu. Taman Nasional Bantimurung ini merupakan salah satu tempat tujuan bagi para wisata yang juga menyuguhkan wisata alam yakni berupa lembah bukit kapur yang cukup curam dengan vegetasi tropis,lalu air terjun, dan juga gua yang merupakan habitat beragam macam spesies termasuk kupu-kupu.

Taman Nasional Bantimurung ini memang menonjolkan binatang kupu-kupu sebagai daya tarik yang utama. Di tempat wisata ini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi oleh pemerintah dan juga ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah pada No. 7/1999. Beberapa spesies yang unik bahkan hanya terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Troides Helena Linne, lalu Troides Hypolitus Cramer, kemudian Troides Haliphron Boisduval, lalu Papilo Adamantius, dan juga Cethosia Myrana. Antara pada tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace telah menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan wisata tersebut untuk meneliti  berbagai macam jenis kupu-kupu.
Taman Nasional Bantimurung

Wallace menyatakan  Taman Nasional Bantimurung ini merupakan The Kingdom of Butterfly atau sebagai kerajaan kupu-kupu. Menurutnya di lokasi wisata ini tersebut terdapat sedikitnya sebanyak 250 spesies kupu-kupu. Lokasi wisata ini pun memeliki dua buah gua yang dapat dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus. Kedua gua itu yakni ada Gua Batu dan juga Gua Mimpi.
Taman Nasional Bantimurung

Selain di kawasan Bantimurung ini, Taman Nasional Bantimurung atau Bulusaraung telah memiliki berbagai jenis macam lokasi ekowisata yang cukup menarik. Di wisata sana terdapat lebih dari 80 Gua alam dan juga Gua prasejarah yang telah  tersebar di kawasan karst TN Bantimurung atau Bulusaraung.




Patut Kamu Baca: