20+ Tari Tradisional Sumatera Selatan Lengkap Penjelasan + Gambar

Tarian adat daerah Sumatra Selatan  adalah seni yang harus mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat di negara Indonesia. Ada banyak tarian di Sumatera Selatan yang kini nasibnya tidak jelas dan hampir hilang dalam sejarah. Dampak asing dan budaya globalisasi salah satu penyebabnya. Oleh karena itu kami sangat menmahai pentingnya diskusi pada tarian tradisional Sumatera Selatan ini.
Sumatera Selatan adalah sebuah provinsi yang berada di Pulau Sumatera, beribukotakan Palembang. Menurut situs Wikipedia, provinsi ini memiliki luas 91.592,43 km², dengan populasi sekitar 8.391.489 jiwa (2018). Letaknya diapit oleh Provinsi Jambi dan Lampung.

Kota Palembang ditunjuk sebagai ibukota Provinsi Sumatera Selatan. Selain dikenal dengan berbagai spesialisasi kuliner, Sumatera Selatan juga memiliki kesenian daerah khas dan menarik, baik dari segi rasa sejarah tentang hal itu dan juga fungsi tari itu sendiri.

Nah, sebelum kita membahas lebih lanjut sejarah tari seperti artikel di Aceh Saman sejarah tari dan sejarah tari Piring di Padang, adalah berguna untuk memperkenalkan kepada Anda satu per satu tentang apa tari tradisional berasal dari Sumatera Selatan.

Mempertimbangkan informasi berikut


1. Tari Silampari - Tari Tradisional Sumatra Selatan


Tari Silampari. Nama tarian ini dari dua suku kata yang diambil dari Palembang, yang berarti Ago Hilang, dan Pari berarti Peri / Angel. Nah, nama ini terinspirasi oleh cerita rakyat dari Sumatera Selatan dan kisah Bujang Penulup Dayang Torek.

Sangat sederhana, yang berarti tarian Silampari bercerita tentang seorang wanita berubah menjadi peri, kemudian menghilag. Akhirnya, tarian ini diciptakan dengan mengangkat nama. Menurut kabar, tari ini telah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia.

Tarian ini pertama kali ditampilkan di ajang Watervang manufaktur, yaitu pembuatan bendungan buatan di wilayah kolonial Belanda Lubuklinggau, Sumatera Selatan.


2. Tari Penguton – Tari Tradisional Sumatera Selatan


Tari Penguton adalah khas dari daerah Ogan Komering Ilir (OKI) di namakan tari sekapur sirih yang berasal dari provinsi sumatera selatan. Sejak abad XVIII Tari penguton sudah lahir. Di masa itu tari ini hanya berupa gerakan yang memiliki makna dengan komposisi sederhana sesuai kemampuan manusia yang dalam peradaban pada masa itu. Instrumen yang dipakai untuk mengiringi tari penguton ini hanya berupa tempurung kelapa dan kentong kayu.Bahannya berasal dari alam serta penggunaanya dengan cara ditabuh yang secara umum digunakan untuk panggilan adzan di masjid dan dipakai sebagai alat pemberitahuan bahwa ada yang meninggal pada masa itu. benda itu disebut kelubkub oleh orang kayuagung.

Tari penguton ini digunakan sebagai tari penyambut tamu, dan juga tari ini sebagai pengungkapan isi hati masyarakat sebagai tatanan kehidupan mereka. Pendukung tari penguton memiliki kesakralan yang sehingga masyarakat umum tidak semua yang bisa melihat tarian tersebut


3. Tari Bujang Gadis Beladas – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Sumber : budayanusantara.web.id
Tari bujang gadis beladas merupakan tari kreasi yang menggambarkan keceriaan muda-mudi masyarakat Ogan Kemering Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. Keceriaan ini terlihat dari gerakan tari yang betumpu pada gerakan kaki seperti, melompat, berbaur, dan mengubah formasi. Meski berbaur, gerakan penari laki-laki akan terus mengikuti kelompoknya, begitupun sebaliknya bagi penari perempuan.

Dari segi kostum, penari bujang gadis beladas mengenakan pakaian khas Sumatera Selatan. Penari perempuan mengenakan baju kurung dengan bawahan kain songket Palembang dengan warna motif emas. Sementara para penari laki-laki mengenakan rompi berwarna cerah yang bagian bawahnya juga dibalut dengan kain songket.

Di bagian atas, penari perempuan menggunakan penutup kepala sementara penari laki-laki dibalut dengan ikat kepala yang kedua dihiasi dengan bulu burung cenderawasih sebagai simbol kecantikan. Sementara, rebana kecil menjadi satu-satunya properti yang digunakan dalam pementasan tari bujang gadis beladas.

Sama halnya dengan garapan seni kontemporer lainnya, musik yang mengiringi tari bujang gadis beladas adalah musik yang bersumber dari perpaduan berbagai alat musik, baik tradisional maupun yang sudah modern. Alat musik tradisional ini antara lain berupa, jimbe, kendang, dan akordian sebagai ciri khas utama dalam setiap garapan musik Melayu Sumatera.

Tari bujang gadis beladas kerap dipentaskan dalam berbagai hajat seperti, pernikahan, khitanan, atau dalam berbagai acara formal lainnya. Pesan keceriaan yang disampaikan dalam tarian ini merepresentasikan muda-mudi Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Ogan Kemering Ilir yang selalu energik, ceria, dan bergembira.

4. Tari Petake Gerinjing – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Sumber: Indonesiakaya.com
Menurut koreografer, Subahi, tari Petake Gerinjing merupakan tari kreasi yang menceritakan tentang masyarakat di suatu dusun di daerah Pagaralam, Sumatera Selatan, yang mendapat azab karena tidak mematuhi norma dan adat-istiadat yang ada. Azab tersebut digambarkan dengan datangnya banjir bandang yang menyapu peradaban.

“Gerakan tari Petake Gerinjing di babak awal menceritakan tentang kehidupan masyarakat yang dahulu tentram. Kemudian, mendapat azab karena banyak yang berbuat jinah, buang sampah sembarangan, dan tidak melestarikan alam. Secara umum, garapan gerak tari memadukan antara tradisional dan kontemporer,” kata Subahi menjelaskan.

Datangnya banjir bandang sebagai azab kemudian disimbolkan dengan bentangan kain yang terus digoyang-goyang menyerupai gelombang air. Masyarakat di dalamnya panik dan berusaha mematikan diri. Sementara, dari segi musik yang mengiringi, tari Petake Gerinjing memadukan alat musik lokal dan modern. Alat musik tersebut antara lain seperti kenong, dol, jimbe, organ, gitar, dan sesekali terdengar alunan vokal yang menarasikan jalannya tarian.

Banyak amanat yang disampaikan dalam tarian ini, terutama adalah bagaimana manusia mampu hidup berdampingan dengan alam sambil terus menjaga adat-istiadat dan norma-norma yang berlaku. Anugerah keindahan alam memang sudah selayaknya dijaga dan dihormati sebagai rasa syukur manusia kepada sang pencipta, karena bersikap sebaliknya tentu akan mendatangkan petaka, seperti yang tergambar dalam tari Petake Gerinjing.


5. Tari Ngantat Dendan – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Sumber : adatnusantara.web.id
Selanjutnya bernama Tari Ngantat Dendan. Tarian ini merupakan salah satu contoh tari kreasi, yang dipergunakan sebagai tari iring-iringan pengantin pria, pada saat resepsi pernikahan adat di daerah Kota Lubuk linggau, Provinsi Sumatera Selatan.
Keunikan dari tarian ini adalah dari segi priperti yang digunakan, berupa Jaras yaitu sebuah rantang besar yang dipalut kain, kemudian diikatkan dan dijunjung di atas kepala, sambil mengiringi pengantin pria menuju rumah mempelai wanita.
Jaras / rantang besar ini umumnya dibawa oleh kaum pria. Tradisi seperti in juga berlaku di Minangkabau Sumatera Barat hingga saat ini. Isi dari rantang sendiri adalah barang-barang yang diminta pihak wanita sebagai mahar pernikahan.



6. Tari Sendratari Konga Raja Buaye – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Sumber: Indonesiakaya.com

Sendratari Konga Raja Buaye ialah sebuah tarian tradisional yang berasal dari Sumatera dengan unsur unsur keindahan seni tari yang merupakan tari kreasi yang diambil dari sebuah cerita bersejarah masyarakat sekitar di Kabupaten Musi Rawas.Legenda itu menjelaskan tentang seorang raja yang bernama Buaya, ia mengancam kehadiran masyarakat di sebuah desa Kabupaten Musi Waras. Raja buaya ini ialah sebuah titisan dari seorang putri yang anggun. Selanjutnya datanglah seorang pemuda yang mempunyai wajah yang sangat tampan. Tanpa pertumpahan darah sang raja buaya itu sanggup dibuat kalah oleh pemuda itu. Akhirnya penduduk pun terbebas dari bahaya yang disebabkan oleh buaya tersebut.

Kostum yang digunakan saat pergelaran dibagi menjadi tiga peran yakni :
  • Para buaya
  • Pasukan pemuda yang tampan
  • Masyarakat
Yang memainkan para buaya memakai topeng rupa buaya lengkap dengan lidah yang menjulur. Sedangkan untuk pemuda yang tampan memakai pakaian adat tradisional laki-laki Sumatera Selatan yakni baju kurung yang disepurnakan dengan ikat kepala. Lalu untuk peran masyarakat memakai pakaian tradisional wanita Sumatera Selatan.



7. Tari Seluang Mudik – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Tari Seluang Mudik ialah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sumatera Selatan, yaitu Kabupaten Banyuasin Desa Tebing Abang dan Kecamatan Rantau Banyur. Tidak ada yang mengetahui siapa yang menciptakan tarian ini beserta keunikan tari nusantara di dalamnya

tetapi masyarakat setempat terus melestarikan tari ini secara turun temurun sejak puluhan tahun yang dijadikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Banyuasin ini. Keunikan gerak tari daerah di Indonesia yang ada pada tarian ini menceritakan gerakan dan tingkah laku yang diperbuat oleh Ikan Seluang pada Musim Seluang Mudik di sepanjang  Sungai Musi. Biasanya musim ini sering terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya.

Ikan Seluang (nama latinnya Rasbora Argrytaenia) ialah jenis ikan air tawar yang banyak hidup di rawa-rawa dan berkembang biak di negara Asia Tenggara yang salah satunya di Indonesia. Di Indonesia sendiri ikan ini banyak  ditemukan di daerah rawa Provinsi Sumatera Selatan. contoh budaya daerah Indonesia pun beragam.Ikan ini memiliki kebiasaan unik yaitu selalu berkumpul dan berpindah tempat secara bergerombol dan bersamaan. Pada Musim Seluang Mudik biasanya ikan ini akan berkumpul, beriringan, berpencar dan kemudian untuk berkumpul kembali. Kejadian unik inilah yang sering dijumpai setiap tahun di danau maupun rawa-rawa yang ada di Sumatera Selatan.


Legenda Tari Seluang Mudik

Di masyarakat Banyuasin pun berkembang dongeng yang menyatakan bahwa ikan ini ialah jelmaan dari puteri yang turun dari Khayangan. Masyarakat percaya bahwa pada zaman dahulu kala di Rantau Bayur ada seorang pangeran yang pekerjaan sehari-harinya sebagai penangkap ikan.

Dan berhari-hari ia pun tidak mendapatkan ikan. Hari pertama ia tidak mendapatkan ikan, tetapi mendapatkan tangkapan gandik dan aksesoris wanita. Hari berikutnya jala yang dipakainya mendapatkan gelang wanita.  Hari ketiga mendapatka selendang dan hari terakhir yang dia dapatkan bukannya ikan melainkan seorang putri.


8. Tari Madik – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Tarian Madik ini merupakan salah satu tarian yang berasal dari Sumatera Selatan, Dimana seperti yang kita tahu dalam halnya tarian pastilah memiliki beberapa makna yang tidak jauh berbeda dari provinsinya masing-masing, begitu juga dengan halnya tarian yang berasal dari provinsi ini sendiri, pasti tidak ada perbedaan menjauh dari beberapa falsafat yang ada pada provinsi ini sendiri sehingga kita tahu sendiri terciptalah sebuah tarian yang ada pada zaman sekarang ini dan sangat erat hubungannya dengan masa pada zaman yang dahulu kala mengenai tarian-tarian ini sendiri dengan asal dari daerahnya.

Tarian madik ini merupakan tarian yang menggambarkan adat istiadat dari masyarakat Palembang yang memiliki kebiasaan apabila akan memilih calon pengantin ataupun mempelai wanita, pihak pria akan berkunjung ke kediaman pihak perempuan untuk melihat dan juga melakukan penilaian kepribadian dari gadis tersebut. dalam hal ini sendiri menilai dan melihat tersebut dalam bahasa adat yang ada pada daerah tersebut disebut dengan Madik dan Nindai. Tujuan dari tarian ini sendiri adalah untuk melihat kepribadian serta kecakapan sifat si gadis sebelum mendampingi laki-lakinya tersebut. selain daripada itu sendiri, tujuannya sendiri adalah untuk kelak rumah tangganya tidak akan mengecewakan keluarga dan akan berjalan langgeng.

Tarian tradisional ini juga merupakan tari tradisional yang harus kita lestarikan, dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian-tarian yang ada pada Negara Indonesia pada zaman sekarang pun sudah mulai memudar dan kurang adanya penampilan dari beberapa daerah tersebut karena banyaknya pemuda-pemudi yang sudah tidak bisa lagi melakukan budaya atau tarian dari daerah mereka masing-masing sendiri, bukankah hal tersebut sendiri merupakan hal yang memalukan khususnya bagi Negara kita sendiri yang merupakan Negara yang mempunyai banyak sekali budaya yang ada dan juga warisan yang tidak ada habis-habisnya. Jadi sebagai generasi muda kita harus senantiasa menjaga semua tari daerah yang ada.


9. Tari Putri Bekhusek – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Tari Putri Bekhusek ialah salah satu dari sekian banyak tari tradisional yang berasal dari tanah Sumatera Selatan yakni Palembang. Tarian ini sendiri memiliki arti yakni sang putri yang sedang bermain. Tarian ini sangat terkenal di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan mensimbolkan kemakmuran daerah Sumatera Selatan.

Properti yang dipakai saat menari ialah ikat kepala dan kipas serta payung.Kabupaten OKU  ialah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Selatan. Ibukota nya ialah Kota Baturaja. Kabupaten ini populer dengan daerah yang memiliki jumlah penduduk terbanyak Suku Ogan di Sumatera Selatan. Namun juga ada beberapa suku yang ada di wilayah ini yakni Suku Komering, Jawa, Daya, Lampung dan Bali.
Nama kabupaten ini diambil dari dua nama sungai besar yang mengalir dan melintasi di sepanjang daerah wilayah Kabupaten OKU, yakni sungai Komering dan Sungai Ogan.


10. Tari Tanggai – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Tari tanggai adalah sebuah tarian yang disajikan untuk menyambut tamu yang telah memenuhi undangan.Tari tanggai biasanya dipertontonkan dalam acara pernikahan adat daerah Palembang.Tari tanggai menggambarkan keramahan, dan rasa hormat masyarakat Palembang atas kehadiran sang tamu dan dalam tari ini tersirat sebuah makna ucapan selamat datang dari orang yang mempunyai acara kepada para tamu.

Tari tanggai memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya.Perbedaannya adalah Tari tanggai dibawakan oleh 5 orang sedangkan tari Gending Sriwijaya dibawakan oleh 9 orang dan perlengkapan penari Gending Sriwijaya lebih lengkap dibandingkan dengan Tari tanggai. Penari tari Tanggai menggunakan pakaian khas daerah seperti kain songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau ramai, tajuk cempako, kembang goyang dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga dan kerana tanggai yang dipakai penari, maka tari ini dinamakan tari tanggai.

Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai dengan busana khas daerah sehingga penari kelihatan lebih anggun.Kelenturan gerak dan lentiknya jemari penari menunjukan betapa tulusnya tuan rumah memberikan penghormatan kepada tamu.Perpaduan gerak gemulai penari dengan harmoni lagu pengiring yang berjudul “enam bersaudara” melambangkan keharmonisan hidup masyarakat Palembang.

Pada zaman sekarang, tari tanggai selain dipertontonkan dalam acara pernikahan masyarakat Palembang,tari ini juga dipertontonkan dalam acara-acara resmi organisasi dan pergelaran seni di sekolah-sekolah.Sanggar-sanggar seni di kota Palembang banyak yang menyediakan jasa pergelaran tarian tanggai ini, lengkap dengan kemewahan pakaian adat Sumatra Selatan.


11. Tari Gending Sriwijaya – Tari Tradisional Sumatera Selatan


Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatra Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara.Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia. 

Tarian ini digelar untuk menyambut para tamu istimewa yang bekunjung ke daerah tersebut, seperti kepala negara Republik Indonesia, menteri kabinet, kepala negara / pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang dianggap setara dengan itu.

Untuk menyambut para tamu agung itu digelar suatu tarian tradisional yang salah satunya adalah Gending Sriwijaya, tarian ini berasal dari masa kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di Kota Palembang yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu.

Tarian Gending Sriwijaya digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal kadang-kadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya hanya dilakukan oleh putri raja, sultan, atau bangsawan. Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya.


12. Tari Tenun Songket – Tari Tradisional Sumatera Selatan

Tari Tenun Songket Ini beranggotakan lima orang penari. Namun sebagai tari kreasi, jumlah tersebut bukanlah aturan baku dalam tarian sehingga jumlah penari bisa ditambah dan dikurangi sesuai dengan besar kecilnya panggung yang digunakan.

Penari Tenun Songket menggunakan baju khas Palembang yang telah didominasi oleh warna emas dan kain songket pada bagian bawah. Sedangkan pada bagian kepala penari menggunakan hiasan berupa mahkota bunga serupa kembang goyang dan properti kipas saat pementasan.Selain itu gerakan tarian didominasi dengan gerakan tangan yang menggambarkan sebuah tradisi saat para gadis Palembang sedang menenun kain songket. Dan kipas yang dikeluarkan oleh penari adalah sebagai babak akhir dari pementasan tarian ini.

Dalam pertunjukannya,  Tari Tenun Songket diiringi oleh alat musik gendang dan musik perkusi yang dimainkan secara bersama-sama dengan pola pukulan yang sama. Tarian ini juga menggunakan alat musik Akordion yang mencirikan musik melayu sesuai tempo yang digunakan dengan gerak tarian.

Tarian Tenun Songket juga memiliki makna sebagai mengangkat dari tradisi menenun songket masyarakat Kota Palembang yang sudah lama ada dan sebagai simbol mengikat persaudaraan masyarakat Palembang, nusantara dan dunia.


13. Tari Kebagh – Tarian Daerah Sumatera Selatan

Tari kebagh atau dulunya dikenal sebagai tari semban bidodari adalah tari tradisi yang dikenal di daerah Besemah, Pagaralam yang bercirikan gerakan membuka lebar kedua tangan seperti mengebarkan sayap. Tari ini biasanya dipertunjukkan untuk penyambutan tamu terhormat dalam upacara adat. Tari ini merupakan jenis tarian tunggal sehingga dapat ditarikan secara massal maupun jumlah yang tidak ditentukan.

Kata "kebagh" berasa dari bahasa Basemah, yang berarti mengebarkan sayap, sedangkan "semban bidodari" merujuk pada selendang besar yang digunakan oleh penari. Pada masa kolonial Belanda, tari kebagh sempat dilarang hingga hingga tahun 1900-an. Setelah kemerdekaan, Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno pernah berkunjung ke Pagar Alam dan disambut tari kebagh. Pada 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) menetapkannya sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

Pertunjukan tari kebagh biasanya didahului dengan ritus-ritus yang dianggap sakral. Sebelum menari, para penari melakukan ritual menabur beras kunyit, yang artinya "meminta izin kepada bidadari untuk menarikan tarian". Menurut kepercayaan masyarakat Besemah, sebagaimana dicatat dalam dokumen Kemendikbud, tari ini hanya ditarikan oleh perempuan yang sedang suci haid (tidak dalam keadaan haid) dan hati yang bersih (tidak sedang memikirkan duniawi)


14. Tari Kubu – Tarian Daerah Sumatera Selatan

Tari Kubu. Kubu merupakan nama suku yang tidak asing lagi di telinga kita. Saat ini, populasi mereka sudah menipis. Mereka tinggal dan menetap di daerah perbatasan provinsi Jambi dan provinsi Sumatera Selatan.
Pola Kehidupan mereka masih Homogen, hubungan dengan dunia luar juga belum terlalu terbuka, sehingga sulit diekspos secara keseluruhan. Mata pencarian utama mereka yakni berladang dan berburu.
Tarian ini dimainkan oleh 10 orang, 5 penari pria dan 5 penari wanita, mengenakan pakaian khas sehari-hari masyarakat suku Kubu. Tarian ini terinspirasi dari kebiasaan masyarakat suku saat mengobati orang sakit.


15. Tari Pagar Pengantin – Tarian Daerah Sumatera Selatan

Tari Pagar Pengantin adalah tari tradisonal yang berasal dari Provinsi Sumatra Selatan. Tari Pagar Pengantin biasanya ditampilkan pada acara resepsi pernikahan adat Palembang dan Sumatra Selatan pada umumnya. Tari Pagar Pengantin memiliki arti filosofis yang bermakna perpisahan pengantin perempuan kepada keluarganya yang lama dan memohon izin untuk membentuk keluarga yang baru. Tari Pagar Pengantin juga mempunyai fungsi sebagai tari penyambutan kepada seluruh tamu undangan yang hadir pada resepsi pernikahan tersebut. Tarian ini biasanya ditarikan oleh lima orang penari perempuan termasuk sang pengantin.

Keunikan pada tari ini adalah penari utamanya adalah sang pengantin wanita dan diiringi oleh empat orang penari lain sebagai dayang yang mengelilingi penari utama. Saat menari, mempelai wanita akan menari di dalam lingkaran atau nampan emas yang disebut dengan talam dengan menggunakan tanggai atau kuku palsu yang terbuat dari emas di delapan jemari pengantin wanita.


16. Tari Mejeng Besuko – Tarian Daerah Sumatera Selatan


Tarian Mejeng Besuko ini merupakan salah satu tarian yang berasal dari Sumatera Selatan, Dimana seperti yang kita tahu dalam halnya tarian pastilah memiliki beberapa makna yang tidak jauh berbeda dari provinsinya masing-masing, begitu juga dengan halnya tarian yang berasal dari provinsi ini sendiri, pasti tidak ada perbedaan menjauh dari beberapa falsafat yang ada pada provinsi ini sendiri sehingga kita tahu sendiri terciptalah sebuah tarian yang ada pada zaman sekarang ini dan sangat erat hubungannya dengan masa pada zaman yang dahulu kala mengenai tarian-tarian ini sendiri dengan asal dari daerahnya.

Tarian ini merupakan tarian salah satu tradisional dari Sumatera Selatan. Dimana tarian ini menggambarkan kebahagiaan para remaja dalam suatu pertemuan ataupun perjodohan yang biasanya dilakukan. Dalam tarian ini sendiri pun dapat kita lihat dengan saksama dan juga jelas bahwa gerakan yang gemulai yang menggambarkan suasana senda gurau para remaja dalam mengikat ketertarikan lawan jenisnya. Tarian ini sendiri merupakan salah satu alternative yang digunakan dalam menarik lawan jenis untuk mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya agar mereka bisa menjalin sebuah hubungan yang penuh kasih sayang antara yang satu dengan yang lainnya juga, sehingga kita dapat mengerti bahwa tarian ini sering dilakukan oleh para perempuan dan juga pria yang belum mendapatkan pasangan.

Tarian tradisional ini juga merupakan tari tradisional yang harus kita lestarikan, dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian-tarian yang ada pada Negara Indonesia pada zaman sekarang pun sudah mulai memudar dan kurang adanya penampilan dari beberapa daerah tersebut karena banyaknya pemuda-pemudi yang sudah tidak bisa lagi melakukan budaya atau tarian dari daerah mereka masing-masing sendiri, bukankah hal tersebut sendiri merupakan hal yang memalukan khususnya bagi Negara kita sendiri yang merupakan Negara yang mempunyai banyak sekali budaya yang ada dan juga warisan yang tidak ada habis-habisnya. Jadi sebagai generasi muda kita harus senantiasa menjaga semua tari daerah yang ada.


17. Tari Gegerit – Tari Adat Sumatera Selatan

Sumber: Indonesiakaya.com
Tari Gegerit merupakan tari tradisional Lahat yang menceritakan tentang perjuangan kaum perempuan dalam menghadapi penjajahan. Secara etimologi, kata Gegerit dapat diartikan dengan lelah atau capek, atau sepadan artinya dengan kata kaku. Pengertian kaku mengacu pada gerakan tari gegerit yang cenderung patah-patah dan kaku. Hal tersebut tergambar dalam gerakan setengah jongkok sambil terus memainkan sayap-sayap pada bahu.tari tradisional gegerit merupakan tarian yang sejak dulu selalu ditarikan secara turun temurun oleh masyarakat Lahat. Namun, sekarang keberadaannya sudah hampir punah karena makin jarang orang yang mementaskan tarian ini.

Meski demikian, beberapa tahun belakangan masih ada orang-orang yang peduli, yang mempelajari dan menggali tarian ini untuk dipentaskan kembali. Sebagai tarian tradisional, pementasan tari gegerit diiringi oleh musik tradisional yang didominasi oleh alat musik pukul, seperti, kenong, dol, dan gendang. Irama yang dihasilkan dari perpaduan alat musik tersebut cenderung motong dan menghentak. Hal tersebut disesuaikan dengan gerak tarian yang kaku dan patah-patah.
 tari gegerit mengandung amanat yang dalam tentang perjuangan para perempuan Lahat dalam melawan penjajahan. Kandungan amanat tersebut tergambar dalam gerakan para penari ketika menggenggam kudok, senjata tradisional masyarakat Sumatera Selatan.

Amanat tersebut masih relevan dengan keadaan saat ini, dimana perempuan masih terkungkung oleh filsafat maskulinisme, sehingga menjadikannya sebagai makhluk inferior di masyarakat. Namun yang terpenting, tari gegerit juga mengamanatkan generasi muda tidak bisa diam-diam saja, tetap harus berjuang walau tidak dalam keadaan berperang. Perjuangan yang dimaksud adalah perjuangan melawan angkara murka yang ada di dalam diri.


18. Tari Kipas Serumpun – Tarian Daerah Sumatera Selatan

Tari kipas serumpun adalah sebuah seni tari kreasi yang berasal dari kabupaten banyuasin, provinsi sumatera selatan. Tarian ini menceritakan tentang jalinan kisah persahabatan diantara masyarakat. Banyuasin sendiri merupakan salah satu kabupaten di provinsi sumatera selatan yang dihuni banyak suku dan agama. Tari kipas serumpun inilah yang kemudian diciptakan dan digunakan untuk menyatukan mereka dalam kegembiraan.
 
Seni tari kipas serumpun ini biasanya ditarikan oleh 8 (delapan) orang penari yang semuanya seorang perempuan. Sebagai seni tari kreasi, jumlah para penari dalam seni tari ini bukanlah patokan baku pada tarian kipas serumpun ini, sehingga dapat ditambah atau dikurangi jumlah penarinya sesuaikan dengan besar atau kecil ukuran panggung yang digunakan untuk mempertunjukkan seni tari ini.

Sesuai dengan nama dari seni tari ini tari kipas serumpun, kipas menjadi atribut utama dalam pementasan tari kipas serumpun. Gerakan dari tari kipas serumpun ini lebih di dominasi oleh gerakan tangan yang sangat lincah. Gerak berpindah posisi untuk membuat formasi juga kerap terjadi dalam seni tari ini, hal tersebut menggambarkan kegembiraan para perempuan banyuasin pada suatu pesta rakyat.


19. Tari Rodat Cempako – Tarian Daerah Sumatera Selatan

Tari Rodat Cempako ialah salah satu tari tradisional yang berasal dari Sumatera Selatan, yaitu Palembang yang memiliki banyak contoh seni budaya Indonesia. Tarian ini merupakan sebuah kesenian tari yang tumbuh dan berkembang di golongan umat Islam yang bertempat tinggal di Palembang. Pergelaran tari ini memakai syair atau syiiran yang berbahasa Arab berasal dari Kitab Berzanji.

Kehadiran tarian ini di Palembang umumnya terhimpun dengan Persatuan Syaropal Anam atau PSA. Tari ini dipertunjukan untuk menyelenggarakan pawai iringan pengantin karena memiliki keunikan gerak tari daerah di Indonesia. Selain itu tari ini dimainkan untuk kesenian Islam lainnya. Dan biasanya dipertujukan bertepatan dengan tradisi memperingati Maulid Nabi.

Ciri khas dari tari ini ialah iringan sajak yang dilantunkan dengan memakai instrumen musik rebana secara berbarengan dan hal inilah yang disebut Rodat. Tari ini dilakukan secara leyek yang berarti menari sambil duduk.Pergelaran tari ini sangat bergairah dan cakap yang dilakukan oleh para pria dan juga wanita dengan gerakan dasar yang diambil dari Timur Tengah. Kejadian sejenis juga ada di Tari Zapin.



20. Tari Sebimbing Sekundang – Tarian Daerah Sumatera Selatan

Kesenian tari ada di setiap daerah di Kabupaten yakni tarian tradisional Indonesia Sumatera Selatan. Yang paling menonjol biasanya ialah tari menyambut untuk tamu yang diistimewakan dengan memberikan kapur sirih kepada para tamu. Tari Sebimbing Sekundang ialah salah satu tari tradisional yang berasal dari Sumatera Selatan.

Lebih tepatnya merupakan tari tradisional masyarakat Ogan Komering Ulu (OKU) yang dipertunjukan untuk menyambut tamu-tamu kebesaran di daerah ini. Dengan dinamakan Sebimbing Sekundang, tari ini mempunyai pesan dan makna yang mendalam baik untuk masyarakat setempat,

sang penari, maupun para tamu undangan yang melihat sajian tari ini. Sesuai dengan namanya, tarian ini mempunyai makna yakni berjalan bersama atau beriringan dan saling membantu satu sama lain. Pesan-pesan itulah yang menerus disampaikan dan dilestarikan pada gerakan tari ini.

Busana yang dipakai oleh penari hampir sama dengan pakain pengantin khas Palembang (Aesan Gede) yakni :
  • Sisir/ kam komering ilir
  • Tusuk soeal berbunga menghadap ke belakang
  • Kembang goyang beringin atau tanjung
  • Cempako limo (tusuk kembang)
  • Sanggul malang
  • Mahkota (karsuhun)
  • Hiasan bola warna-warni (sumping)
  • Teratai dada
  • Selempang sawir
  • Pending
  • Baju kurung
  • Kain songket




Demikian informasi tentang tarian adat daerah Sumatera Selatan ini kami sampaikan. Semoga memberikan manfaat. Kami ucapkan terima kasih sudah mampir ke blog ini.


Penelusuran yang terkait dengan Tari Tradisional Sumatera Selatan
  • tarian tradisional sumatera utara
  • tari kreasi baru sumatera selatan
  • ciri khas tarian sumatera selatan
  • tarian tradisional dari maluku
  • senjata tradisional sumatera selatan
  • apakah yang dimaksud dengan tarian adat
  • tarian sumatera timur
  • rumah adat sumatera selatan