Sunday, 15 July 2018

Tari Beksan Lawung Ageng, Tarian Tradisional Keraton Yogyakarta

Tari Beksan Lawung Ageng, Tarian Tradisional Keraton Yogyakarta

Cintaindonesia.web.id - Tari Beksan Lawung Ageng atau yang kerap disebut juga Tari Beksan Lawung merupakan tarian tradisional yang berasal dari Keraton Yogyakarta. Tarian ini pada umumnya akan dibawakan oleh 16 orang penari yang keseluruhannya adalah laki-laki dan terdiri dari 2 orang botoh, 4 orang jajar, 4 orang pengampil, 4 orang lurah, dan 2 orang salaotho.

Menurut sejarahnya, salah satu tarian beksan ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangukubumi ditahun 1755-1792. Beksan ini di ilhami dalam keadaan dimana ada kegiatan para prajurit sebagai abdi dalem raja selalu mengadakan latihan watangan. Latihan watangan ini sendiri merupakan latihan ketangkasan berkuda dengan membawa sebuah watang atau lawung, yakni sebuah tongkat panjang yang ukurannya sekitar 3 meter dengan ujungnya yang tumpul serta silang menyodok untuk menjatuhkan lawan.

Tari Beksan Lawung Ageng ini adalah bentuk usaha dari sang Sultan dalam mengalihkan pehatian penjajah Belanda terhadap kegiatan para prajurit di Kraton Yogyakarta. Pada saat itu dalam suasana perang dan sultan harus mengakui serta tunduk terhadap segala kekuasaan Belanda di Kasultanan Yogyakarta.

Sultan harus patuh terhadap segala perintah maupun peraturan yang sudah ditentukan, termasuk dilarangnya latihan keprajuritan dengan memakai senjata. Karena hal itu sang sultan mengalihkan olah keprajuritan tersebut ke dalam bentuk beksan yakni Beksan Lawung. Melalui Tari Beksan Lawung inilah sang sultan berusaha untuk membangkitkan sifat dari kepahlawanan prajurit kraton dimasa perang tersebut.

Tari Beksan Lawung Ageng ini merupakan tarian yang menunjukkan keberanian dan juga semangat. Oleh sebab itu tema yang dipakai pada Tari Beksan Lawung umumnya bertemakan kepahlawanan. Tarian Beksan ini berisi sindiran-sindiran secara halus sebagai bentuk ungkapan rasa tidak senang dari sultan terhadap para pembesar-pembesar Belanda di Kraton Yogyakarta.

Selain itu Beksan lawung ini diangkat sebagai tarian ritual wakil sultan di dalam upacara perkawinan putra dan putrinya. Hal ini tentunya bukan semata-mata sebagai wakil yang wedang, namun juga wakil kawruh urip yang harus dicerna oleh kedua mempelai melalui keseluuruhan pagelaran.

Hakekat yang terkandung dari pesan ini secara transparan di utarakan melalui lagon diawal pertunjukan Tari Beksan Lawung untuk petuah dari sang sultan mengenai perkawinan yang akan di akhiri dengan simbol kesuburan. Di dalam Bekasn Lawung, laki-laki akan disimbolkan dengan tongkat atau lawung, sedangkan untuk perempuan akan dilambangkan dengan tanah. Tanah ini sebagai bumi kerap disebut ibu pertiwi sebagai lambang perempuan.




Patut Kamu Baca:

Artikel Terkait